Harga Ekspor Indonesia Melesat, Komoditas Tambang Jadi Motor Utama
Ilustrasi ekspor, kegiatan ekspor.(PIXABAY/ANDREAS)
16:56
2 Juni 2026

Harga Ekspor Indonesia Melesat, Komoditas Tambang Jadi Motor Utama

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan harga barang ekspor dan impor Indonesia sama-sama mengalami kenaikan pada kuartal I-2026.

Kenaikan tersebut tercermin dari Indeks Harga Ekspor (IHX) dan Indeks Harga Impor (IHM) yang meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Dalam rilis Perkembangan Indeks Harga Perdagangan Internasional Triwulan I-2026 yang dirilis pada 2 Juni 2026, BPS mencatat IHX umum naik 9,06 persen secara kuartalan (q-to-q), sedangkan IHM umum meningkat 8,95 persen dibandingkan kuartal IV-2025.

Baca juga: Misbakhun: Tata Kelola Ekspor SDA Penting untuk Pertebal Cadangan Devisa

Ilustrasi ekspor, impor, dan ekonomi Indonesia; SHUTTERSTOCK Ilustrasi ekspor, impor, dan ekonomi Indonesia;

Kenaikan harga juga terjadi secara tahunan. IHX naik 13,71 persen dibandingkan kuartal I-2025, sementara IHM meningkat 9,97 persen secara tahunan (y-on-y).

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa harga berbagai komoditas yang diperdagangkan Indonesia di pasar internasional mengalami penguatan pada awal tahun ini, baik dari sisi barang yang diekspor maupun barang yang diimpor.

Harga ekspor naik lebih dari 9 persen

BPS mencatat Indeks Harga Ekspor umum pada kuartal I-2026 mencapai 121,85. Angka tersebut meningkat dari 111,73 pada kuartal IV-2025, atau naik 9,06 persen secara kuartalan.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, indeks harga ekspor meningkat 13,71 persen dari posisi 107,16 pada kuartal I-2025.

Baca juga: Tiga Kali Revisi, Aturan Wajib Parkir Devisa Hasil Ekspor Kian Melonggar?

Kenaikan harga ekspor terjadi baik pada kelompok migas maupun nonmigas. Untuk kelompok migas, indeks harga ekspor naik 10,84 persen secara kuartalan, dari 84,33 menjadi 93,47.

Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.SHUTTERSTOCK/AVIGATOR FORTUNER Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.

Secara tahunan, kelompok ini juga mencatat kenaikan 4,08 persen dibandingkan kuartal I-2025.

Sementara itu, kelompok nonmigas mengalami kenaikan harga ekspor sebesar 8,97 persen secara kuartalan. Indeks harga ekspor nonmigas meningkat dari 113,56 pada kuartal IV-2025 menjadi 123,75 pada kuartal I-2026.

Dibandingkan setahun sebelumnya, kenaikannya mencapai 14,25 persen.

Baca juga: Ekspor Indonesia Naik 21,98 Persen pada April 2026, Ditopang Nikel dan CPO

Data BPS menunjukkan kenaikan harga ekspor terutama ditopang oleh komoditas berbasis mineral dan logam.

Golongan barang yang mencatat kenaikan harga tertinggi secara kuartalan adalah bijih logam, terak, dan abu (HS 26) dengan kenaikan mencapai 68,33 persen.

Setelah itu terdapat timah dan barang daripadanya (HS 80) yang naik 30,58 persen, tembaga dan barang daripadanya (HS 74) sebesar 24,48 persen, nikel dan barang daripadanya (HS 75) sebesar 20,36 persen, serta logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71) sebesar 17,86 persen.

Sebaliknya, terdapat tiga golongan barang yang mengalami penurunan harga ekspor pada kuartal I-2026.

Baca juga: Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara

Penurunan terdalam terjadi pada kakao dan olahannya (HS 18) sebesar 6,05 persen, diikuti berbagai produk kimia (HS 38) sebesar 1,72 persen, serta pakaian dan aksesorinya berbahan rajutan (HS 61) sebesar 0,34 persen.

Bijih logam dan logam mulia dominasi kenaikan tahunan

Secara tahunan, komoditas berbasis logam juga menjadi pendorong utama kenaikan harga ekspor. BPS mencatat harga ekspor bijih logam, terak, dan abu meningkat 65,61 persen dibandingkan kuartal I-2025.

Kenaikan besar lainnya terjadi pada logam mulia dan perhiasan atau permata yang melonjak 63,34 persen.

Ilustrasi ekspor.SHUTTERSTOCK/APCHANEL Ilustrasi ekspor.

Selain itu, harga ekspor timah dan barang daripadanya meningkat 59,69 persen secara tahunan. Harga ekspor tembaga dan barang daripadanya naik 50,45 persen, sedangkan bahan anyaman nabati meningkat 35,29 persen.

Baca juga: China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda

Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga ekspor dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan terdalam terjadi pada kakao dan olahannya sebesar 32,51 persen.

Kemudian bahan kimia anorganik turun 16,07 persen, kopi, teh, dan rempah-rempah turun 4,37 persen, susu, mentega, telur, dan produk hewani lainnya turun 2,19 persen, serta serat stapel buatan turun 0,59 persen.

BPS juga mencatat beberapa komoditas memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi harga ekspor pada kuartal I-2026.

Baca juga: Ekspor Ferro Nikel Diatur, Airlangga Sebut Ekosistem EV Tetap Aman

Golongan barang yang dominan memberikan andil terhadap kenaikan IHX antara lain bijih logam, terak, dan abu (HS 26), bahan bakar mineral dan produk sulingannya (HS 27), besi dan baja (HS 72), logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71), serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85).

Bijih logam, terak, dan abu memberikan andil terbesar terhadap inflasi harga ekspor secara kuartalan, yakni sebesar 2,73 persen. Sementara bahan bakar mineral dan produk sulingannya memberikan kontribusi sebesar 1,22 persen.

Harga impor ikut mengalami penguatan

Tidak hanya ekspor, harga barang impor yang masuk ke Indonesia juga mengalami kenaikan pada kuartal I-2026.

BPS mencatat Indeks Harga Impor umum mencapai 122,41 pada kuartal I-2026, meningkat dari 112,35 pada kuartal sebelumnya. Dengan demikian, inflasi harga impor secara kuartalan tercatat sebesar 8,95 persen.

Baca juga: Pengusaha Minta Operasional DSI Transparan, Jangan Tambah Beban Biaya Ekspor

Ilustrasi impor. SHUTTERSTOCK Ilustrasi impor.

Dibandingkan kuartal I-2025, indeks harga impor meningkat 9,97 persen dari posisi 111,31.

Untuk kelompok migas, indeks harga impor naik 6,22 persen secara kuartalan, dari 88,41 menjadi 93,91. Namun secara tahunan kelompok migas masih mengalami penurunan 3,80 persen dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar 97,62.

Adapun kelompok nonmigas mencatat kenaikan harga impor sebesar 9,41 persen secara kuartalan. Indeksnya naik dari 117,75 pada kuartal IV-2025 menjadi 128,83 pada kuartal I-2026.

Secara tahunan, kenaikan harga impor nonmigas mencapai 12,61 persen.

Baca juga: TOBA Masih Kaji Dampak Aturan Ekspor SDA via Danantara

Logam mulia dan gula pimpin kenaikan harga impor

Berdasarkan golongan barang, kenaikan harga impor tertinggi secara kuartalan terjadi pada logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71) yang mencapai 25,39 persen. Kenaikan besar juga terjadi pada gula dan kembang gula (HS 17) sebesar 24,72 persen.

Selain itu, harga impor garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) meningkat 18,61 persen. Harga impor tembaga dan barang daripadanya naik 17,28 persen, sedangkan barang dari besi dan baja meningkat 16,48 persen.

Di sisi lain, terdapat empat golongan barang yang mengalami penurunan harga impor pada kuartal I-2026. Penurunan terdalam terjadi pada kakao dan olahannya sebesar 8,37 persen.

Selanjutnya pulp dari kayu turun 4,84 persen, sayuran turun 0,81 persen, dan bijih logam, terak, serta abu turun 0,29 persen.

Baca juga: Pengusaha Kompak Minta Pemerintah Jamin Kepastian Hukum dalam Tata Kelola Ekspor SDA

Secara tahunan, logam mulia dan perhiasan atau permata kembali menjadi komoditas dengan kenaikan harga impor tertinggi, yakni mencapai 80,72 persen. Posisi berikutnya ditempati garam, belerang, batu, dan semen yang naik 56,10 persen.

Ilustrasi impor.SHUTTERSTOCK/NUAMFOLIO Ilustrasi impor.

Kenaikan harga juga terjadi pada instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis sebesar 29,73 persen. Kemudian perabotan, lampu, dan alat penerangan naik 28,25 persen, serta daging hewan meningkat 27,45 persen dibandingkan kuartal I-2025.

Sementara itu, kelompok barang yang mengalami penurunan harga impor terdalam secara tahunan adalah sayuran yang turun 35,37 persen.

Penurunan juga terjadi pada kakao dan olahannya sebesar 29,60 persen, serat stapel buatan sebesar 12,28 persen, gula dan kembang gula sebesar 7,26 persen, serta bahan kimia organik sebesar 6,01 persen.

Baca juga: Purbaya soal Ekspor via PT DSI: Bukan Program Main-main, Presiden Prabowo Awasi Detail

Mesin dan peralatan mekanis jadi penyumbang terbesar inflasi harga impor

BPS mencatat kenaikan harga impor pada kuartal I-2026 banyak dipengaruhi oleh sejumlah kelompok barang utama.

Golongan yang dominan memberikan andil terhadap inflasi harga impor adalah mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84), bahan bakar mineral dan produk sulingannya (HS 27), mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71), serta kendaraan selain yang bergerak di atas rel kereta api dan bagiannya (HS 87).

Berdasarkan data BPS, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya memberikan andil terbesar terhadap inflasi harga impor secara kuartalan, yakni sebesar 2,74 persen.

Bahan bakar mineral dan produk sulingannya menyumbang 0,99 persen, sementara mesin dan perlengkapan elektrik memberikan kontribusi sebesar 0,89 persen.

Baca juga: Ekspor Satu Pintu Hari Ini Berlaku, Eksportir CPO hingga Batu Bara Wajib Lapor PT DSI

Dalam penjelasan teknisnya, BPS menyebutkan Indeks Harga Perdagangan Internasional (IHPI) merupakan indeks yang mengukur perubahan harga ekspor barang yang dikirim dari Indonesia dan harga impor barang yang masuk ke Indonesia.

Mulai Maret 2025, IHPI menggunakan tahun dasar baru 2023=100 dan disusun dengan metodologi yang disempurnakan berdasarkan Exports Imports Price Index (XMPI) Manual 2009 yang diterbitkan IMF.

Data tersebut menunjukkan sepanjang kuartal I-2026, baik harga ekspor maupun harga impor Indonesia mengalami kenaikan, dengan komoditas berbasis logam, mineral, serta sejumlah barang manufaktur menjadi penyumbang utama perubahan indeks harga perdagangan internasional.

Sebagai informasi, harga ekspor adalah nilai atau harga barang dan jasa yang dijual oleh suatu negara ke negara lain, termasuk seluruh biaya seperti produksi, distribusi, hingga margin keuntungan eksportir.

Baca juga: KKP Perbanyak Pintu Ekspor Perikanan Indonesia ke China

Harga ekspor menjadi indikator penting untuk mengukur daya saing negara di pasar internasional. Semakin kompetitif harga ekspor, maka semakin besar peluang produk diterima di pasar global.

Tag:  #harga #ekspor #indonesia #melesat #komoditas #tambang #jadi #motor #utama

KOMENTAR