Nilai Tukar Petani Naik Hampir 2 Persen pada Mei 2026, Kesejahteraan Nelayan Malah Menurun
- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Namun, di saat kesejahteraan petani membaik, Nilai Tukar Nelayan (NTN) justru mengalami penurunan.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan, kenaikan NTP terjadi karena harga hasil pertanian yang diterima petani meningkat lebih cepat dibandingkan pengeluaran yang harus mereka keluarkan.
"NTP Mei 2026 tercatat sebesar 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan April 2026," ujar Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Kemenkeu: Kebijakan Tembakau Perlu Hitung Dampak Bagi Petani dan Fiskal
Menurut Pudji, peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (IT) sebesar 2,53 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (IB) hanya naik 0,53 persen.
Komoditas yang paling berpengaruh terhadap kenaikan harga yang diterima petani antara lain karet, gabah, kakao atau cokelat biji, serta bawang merah.
Secara subsektor, hortikultura menjadi penyumbang terbesar kenaikan NTP pada Mei 2026.
Nilai tukar petani hortikultura meningkat 7,08 persen seiring melonjaknya indeks harga yang diterima petani sebesar 7,52 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar hanya naik 0,41 persen.
Pudji menjelaskan, kenaikan harga bawang merah, cabai rawit, cabai merah, dan tomat menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan pendapatan petani hortikultura.
"Meningkatnya harga sejumlah komoditas tersebut turut mendorong perbaikan pendapatan petani hortikultura selama Mei 2026," kata Pudji.
Di sisi lain, BPS mencatat kondisi berbeda pada sektor perikanan.
Nilai Tukar Nelayan (NTN) pada Mei 2026 turun 0,47 persen dibandingkan April 2026.
Penurunan tersebut kata Pudji terjadi karena kenaikan indeks harga yang diterima nelayan hanya sebesar 0,03 persen, lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar nelayan yang mencapai 0,51 persen.
Dengan kata lain, biaya yang harus dikeluarkan nelayan meningkat lebih cepat dibandingkan tambahan pendapatan yang mereka peroleh dari hasil tangkapan.
Pudji menyebut komoditas yang mendorong kenaikan harga yang diterima nelayan antara lain rajungan, kepiting laut, dan ikan kembung.
"Komoditas yang dominan mempengaruhi kenaikan IT pada nilai tukar nelayan ini adalah rajungan, kepiting laut, dan ikan kembung," ujarnya.
Baca juga: POPSI Ingatkan Pemerintah: Kebijakan Sawit Harus Pertimbangkan Petani
Tag: #nilai #tukar #petani #naik #hampir #persen #pada #2026 #kesejahteraan #nelayan #malah #menurun