Rupiah Nyaris Jebol Rp18.000 per Dolar AS, BI Mulai Kewalahan: Kami Tidak Bisa Sendirian!
Bank Indonesia (BI) tampaknya mulai kewalahan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang hampir jembol menuju Rp18.000 per hari ini Rabu (3/6/2026). BI sendiri mengaku tidak bisa sendiri untuk kembali menguatkan mata uang Garuda itu.
Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah berada di level Rp17.957 per dolar AS. Posisi ini menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam beberapa tahun terakhir dan semakin mendekati level yang selama ini dianggap sebagai "zona merah" bagi pasar keuangan domestik.
Meski dalam kondisi sulit, BI mengaku terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik yang tengah bergejolak. Bank sentral menegaskan akan terus melakukan intervensi dan mengerahkan berbagai instrumen kebijakan untuk menahan laju pelemahan rupiah.
Direktur Eksekutif Komunikasi BI Ramdan Denny mengatakan pihaknya akan tetap hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar serta memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal," ujar Ramdan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]Di tengah tekanan yang terus membesar, BI juga mulai memperketat transaksi valuta asing. Sejak 2 Juni 2026, bank sentral memberlakukan batas pembelian valas tunai terhadap rupiah tanpa dokumen underlying menjadi maksimal US$25.000 per pelaku per bulan.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya untuk meredam spekulasi dan menjaga ketersediaan likuiditas valuta asing di dalam negeri. Namun, kebijakan itu sekaligus mencerminkan besarnya tekanan yang sedang dihadapi rupiah akibat derasnya arus keluar modal asing dan menguatnya dolar AS di pasar global.
Tak hanya itu, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi lintas negara melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kerja sama ini telah dijalankan dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam transaksi internasional.
Meski berbagai langkah telah disiapkan, bayang-bayang pelemahan rupiah ke level Rp18.000 per dolar AS masih menjadi perhatian serius. Jika tekanan eksternal terus berlanjut, risiko kenaikan biaya impor, inflasi barang konsumsi, hingga meningkatnya beban utang berdenominasi dolar berpotensi membebani perekonomian nasional.
Karena itu, BI menilai stabilitas rupiah tidak bisa dijaga sendirian. Sinergi antara pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar menjadi faktor penting untuk mencegah tekanan terhadap mata uang Garuda semakin dalam.
" Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional," tandasnya.
Tag: #rupiah #nyaris #jebol #rp18000 #dolar #mulai #kewalahan #kami #tidak #bisa #sendirian