Trump Mau Kirim Warga AS Terpapar Ebola ke Kenya, Tak Mau Virus Masuk Amerika
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana mengirim warga AS yang terpapar virus Ebola ke Kenya.
Kebijakan ini menjadi perubahan besar dibandingkan pendekatan pemerintahan sebelumnya yang biasanya akan membawa warga pulang ke AS untuk menjalani observasi dan perawatan.
Rencana itu diungkap oleh tiga orang yang mengetahui kebijakan tersebut kepada The New York Times.
Baca juga: Alarm Wabah Ebola, Renggut 246 Nyawa, Penyebaran Sangat Mengkhawatirkan
Bangun fasilitas kesehatan di Kenya
Seorang dokter asal AS yang mengalami gejala Ebola diterbangkan ke rumah sakit di Jerman, sementara enam warga Amerika lainnya dikirim ke Jerman dan Republik Ceko untuk pemantauan.
Menurut dua sumber yang mengetahui rencana tersebut, pemerintahan Trump kini ingin mencegah warga AS yang mungkin terpapar Ebola kembali masuk ke wilayah Amerika.
Beberapa puluh petugas dari Public Health Service AS sedang dilatih untuk dikirim ke Kenya guna memberikan perawatan medis kepada warga Amerika yang dianggap berisiko tinggi terkena Ebola.
Awalnya, rencana tersebut hanya untuk memantau kondisi mereka di Kenya. Jika ada yang mulai menunjukkan gejala, pasien akan dipindahkan ke negara Eropa untuk mendapatkan perawatan. Namun, rencana terbaru memperluas fasilitas Kenya agar dapat menangani perawatan juga.
Seorang pejabat pemerintahan Trump mengatakan kepada The New York Times bahwa fasilitas di Kenya sedang dibangun melalui koordinasi antara Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan, dan Departemen Kesehatan serta Layanan Kemanusiaan AS.
“Setiap kasus akan dievaluasi untuk menentukan apakah diperlukan perawatan yang lebih maju,” kata pejabat tersebut.
Gedung Putih menolak memberikan komentar mengenai rencana itu.
Pakar khawatir soal standar perawatan
Ebola memiliki tingkat kematian sekitar 50 persen, tetapi akses awal terhadap perawatan berkualitas tinggi dan pengobatan dapat meningkatkan peluang pasien untuk bertahan hidup.
“Kami tahu bahwa peluang mereka untuk melewati infeksi Ebola akan lebih tinggi di unit khusus yang dirancang untuk merawat mereka,” kata Dr Tom Inglesby, direktur Johns Hopkins Center for Health Security di Bloomberg School of Public Health.
Amerika Serikat sebenarnya memiliki sejumlah fasilitas dengan teknologi canggih untuk memantau dan merawat pasien penyakit berbahaya, termasuk Ebola.
Inglesby mengatakan dirinya terkejut dengan keputusan untuk tidak membawa kembali petugas Public Health Service yang mungkin terpapar ke AS.
“Kami memiliki komitmen etis yang kuat untuk merawat mereka dengan perawatan terbaik yang mungkin di AS,” ujarnya.
Dr Craig Spencer, pakar kesehatan masyarakat dari Brown University yang pernah terinfeksi Ebola pada 2014 setelah merawat pasien di Guinea, juga mempertanyakan kesiapan fasilitas di Kenya.
“Saya sulit percaya mereka akan mampu membangun dalam hitungan beberapa hari atau bahkan beberapa bulan sistem serupa yang telah dibuat selama satu dekade terakhir untuk melakukan hal ini,” kata Spencer.
Menurut Spencer, keputusan meninggalkan warga Amerika di Afrika dibandingkan membawa mereka pulang merupakan “pengabaian besar terhadap tanggung jawab kita kepada warga kita sendiri”.
Wabah Ebola di Kongo memburuk
Ilustrasi virus ebola.
Wabah Ebola saat ini berpusat di Provinsi Ituri, wilayah di Kongo yang menghadapi konflik berkepanjangan dan mobilitas penduduk tinggi. Kondisi tersebut membuat upaya menghentikan penyebaran virus menjadi lebih sulit.
Berdasarkan laporan The New York Times, wabah di Kongo diperkirakan telah mencapai lebih dari 1.000 kasus dan lebih dari 200 kematian dalam waktu 11 hari setelah diumumkan.
Baca juga: Cegah Ebola, Thailand Bakal Karantina Pendatang dari 2 Negara Ini
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan bahwa wabah tersebut sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
Pemerintahan Trump sebelumnya juga menggunakan aturan kesehatan masyarakat yang dikenal sebagai Title 42 untuk melarang masuknya imigran dan penduduk tetap yang berada di Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan dalam 21 hari terakhir.
Mendapat tentangan
Rencana pembangunan fasilitas Ebola di Kenya memicu penolakan dari sejumlah pihak.
Pemerintah Kenya dan AS awalnya menyepakati pembangunan rumah sakit lapangan di pangkalan udara dekat Nanyuki, Kenya tengah.
Namun, Pengadilan Tinggi Kenya memerintahkan penghentian sementara proyek tersebut setelah gugatan menyatakan fasilitas itu dapat membahayakan kesehatan publik.
Menurut The Washington Post, Selasa (2/6/2026), pengadilan memperpanjang larangan tersebut selama tujuh hari dan meminta pemerintah Kenya mengungkap rincian perundingan serta kesepakatan dengan Amerika Serikat, termasuk penilaian risiko terkait fasilitas tersebut.
Kebijakan itu juga memicu kemarahan sebagian warga Kenya karena mereka khawatir fasilitas tersebut justru membawa virus masuk ke negara mereka.
Nora Mbagathi, direktur eksekutif Katiba Institute, kelompok advokasi hak konstitusional yang menggugat proyek tersebut, mengatakan, informasi mengenai fasilitas itu tidak transparan.
“Satu-satunya informasi yang kami dapat berasal dari sumber pemerintah AS yang tidak disebutkan namanya, bukan dari pemerintah kami sendiri,” kata Mbagathi kepada The Washington Post.
Ia menilai rencana tersebut melanggar konstitusi Kenya.
Meski demikian, Presiden Kenya William Ruto membela kerja sama tersebut. Ia mengatakan, Trump meminta dukungan Kenya untuk menjadi lokasi fasilitas itu.
“Saya memberikan persetujuan karena ini adalah kesepakatan dan kemitraan dengan teman-teman yang telah berjalan bersama Kenya selama 30 atau 40 tahun,” kata Ruto.
“Pemerintah Amerika telah mendukung kami. Mereka telah mengerahkan sumber daya besar di Kenya untuk bekerja bersama kami menangani HIV/AIDS, menangani penyakit lain. Mereka juga bekerja bersama kami dalam menghadapi Ebola,” lanjutnya.
Baca juga: WHO: Tingkat Kematian Ebola Bundibugyo Sampai 50 Persen
Tag: #trump #kirim #warga #terpapar #ebola #kenya #virus #masuk #amerika