Rupiah Melemah ke Rekor Terendah, Ini Dampaknya ke Dompet Warga
Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah.(canva.com)
10:24
5 Juni 2026

Rupiah Melemah ke Rekor Terendah, Ini Dampaknya ke Dompet Warga

– Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 18.000 per dollar AS mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat.

Pada Kamis (4/6/2026), kurs rupiah sempat menyentuh Rp 18.044 per dollar AS sebelum bergerak di kisaran Rp 18.038 per dollar AS.

Posisi tersebut menjadi level terlemah rupiah sepanjang sejarah dan menjadikan mata uang Indonesia sebagai salah satu yang mengalami pelemahan terdalam di Asia.

Baca juga: Menguat, Rupiah Pagi Masih di Atas Rp 18.000 Per Dollar AS

Di tengah tekanan nilai tukar tersebut, dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar keuangan. Pelemahan rupiah berpotensi merembet ke harga energi, pangan, pakan ternak, hingga berbagai barang konsumsi yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Kajian Center of Macroeconomics and Finance (MacFin) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menunjukkan bahwa depresiasi rupiah meningkatkan biaya impor berbagai komoditas strategis yang selama ini masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Energi jadi sektor yang paling rentan

INDEF mencatat impor Indonesia masih didominasi komoditas energi. Pada 2025, produk minyak olahan menjadi komoditas impor terbesar dengan nilai sekitar 13 miliar dollar AS, disusul minyak mentah sebesar 9,3 miliar dollar AS.

Karena perdagangan energi global menggunakan dollar AS, pelemahan rupiah membuat biaya impor energi otomatis meningkat.

Baca juga: Dampak Rupiah Rp 18.000, Indef : Tagihan Impor Minyak Bisa Bertambah Rp 225,08 T

Kenaikan biaya tersebut berpotensi berdampak pada sektor transportasi, distribusi barang, hingga biaya produksi industri yang menggunakan bahan bakar dalam operasionalnya.

"Karena sebagian besar perdagangan global menggunakan dollar AS, kenaikan dollar membuat komoditas impor strategis menjadi lebih mahal dalam rupiah," tulis INDEF dalam laporannya.

Temuan serupa juga tercermin pada data inflasi Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah komoditas yang terkait energi seperti bensin, solar, tarif angkutan udara, dan pelumas mengalami kenaikan harga.

ilustrasi rupiah dollar AS, dolar hari ini. Rupiah Tembus Rp 18.029 per Dollar AS, Ini Barang yang Berpotensi Naik Harga Jika Rupiah Terus MelemahANTARA FOTO/Darryl Ramadhan ilustrasi rupiah dollar AS, dolar hari ini. Rupiah Tembus Rp 18.029 per Dollar AS, Ini Barang yang Berpotensi Naik Harga Jika Rupiah Terus Melemah

Harga pangan berisiko ikut terdorong

Selain energi, tekanan juga berpotensi terjadi pada sektor pangan.

Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas strategis dari Amerika Serikat, seperti kedelai, gandum, LPG, distilling dregs, dan meat and offal meal.

Kedelai merupakan bahan baku utama tahu dan tempe, sedangkan gandum digunakan untuk memproduksi mi instan, roti, dan biskuit. Adapun distilling dregs dan meat/offal meal banyak digunakan sebagai bahan baku pakan ternak.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS, Efek Berantai hingga ke Meja Makan

Ketika rupiah melemah, biaya impor komoditas tersebut meningkat sehingga dapat menambah tekanan biaya produksi di sepanjang rantai pasok.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan harga kedelai impor sepanjang Mei hingga awal Juni 2026 berada di kisaran Rp 13.500-Rp 13.700 per kilogram. Sementara harga tepung terigu bergerak di kisaran Rp 12.400-Rp 12.550 per kilogram.

INDEF menilai kondisi tersebut perlu diwaspadai karena konsumsi rumah tangga Indonesia masih didominasi pengeluaran untuk makanan dan minuman.

Pada triwulan I 2026, porsi belanja makanan dan minuman mencapai 36,03 persen dari total konsumsi rumah tangga, jauh lebih besar dibandingkan kelompok pengeluaran lainnya.

Tekanan terhadap daya beli

Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi melalui kenaikan harga barang impor dan bahan baku produksi.

Menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, inflasi yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor biaya dan pasokan dibandingkan tingginya permintaan masyarakat.

Baca juga: Asing Terus Angkat Kaki, IHSG dan Rupiah Kompak Tersungkur

Kenaikan harga energi, bahan baku impor, serta berbagai kebutuhan pokok berpotensi mendorong inflasi lebih luas ke sektor lain.

Di sisi lain, kajian INDEF menunjukkan peningkatan inflasi dapat menggerus daya beli masyarakat, terutama ketika pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa.

"Peningkatan inflasi menggerus daya beli dan kemampuan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hidup semakin tertekan," tulis INDEF.

Pelemahan rupiah belum tentu untungkan ekspor

Meski sering dianggap menguntungkan eksportir karena membuat produk Indonesia lebih murah di pasar global, INDEF menilai dampak tersebut tidak otomatis terjadi.

Berdasarkan analisis data ekspor, impor, dan kurs rupiah sejak 2015 hingga Maret 2026, hubungan antara pelemahan rupiah dan peningkatan ekspor ternyata tidak terlalu kuat ketika dilihat dari pertumbuhan bulanan maupun tahunan.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.029 Per Dollar AS, Ini Barang yang Berpotensi Naik Harga jika Rupiah Terus Melemah

Menurut INDEF, kinerja ekspor juga dipengaruhi faktor lain seperti harga komoditas dunia, permintaan global, kandungan impor dalam proses produksi, serta struktur kontrak perdagangan.

Artinya, manfaat pelemahan rupiah terhadap ekspor belum tentu langsung dirasakan, sementara kenaikan biaya impor dapat muncul lebih cepat.

Ilustrasi rupiah, dolar, dollar hari ini, dolar ke rupiah.ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan Ilustrasi rupiah, dolar, dollar hari ini, dolar ke rupiah.

Biaya impor energi berpotensi membengkak

INDEF juga menghitung dampak kurs terhadap impor minyak mentah menggunakan asumsi makro APBN 2026.

Berdasarkan volume impor minyak Indonesia yang diperkirakan mencapai 405,56 juta barel pada 2025, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 1 dollar AS per barel dapat menambah tagihan impor sekitar Rp 6,69 triliun.

Sementara itu, setiap pelemahan kurs sebesar Rp 250 per dollar AS berpotensi menambah tagihan impor minyak sekitar Rp 7,10 triliun.

Baca juga: Pemerintah Diminta Antisipasi Harga Obat Melonjak akibat Rupiah Anjlok

Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia dapat memperbesar tekanan terhadap biaya impor energi nasional.

Di tengah rupiah yang berada di level terlemah sepanjang sejarah, dampaknya tidak lagi terbatas pada pasar keuangan.

Tekanan nilai tukar rupiah berpotensi menjalar ke harga energi, pangan, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga yang masih bergantung pada bahan baku dan komoditas impor.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Rupiah Jadi yang Terlemah di Asia, Apa Dampaknya bagi Masyarakat? dan Rupiah Melemah, Apa Dampaknya bagi Harga Barang dan Ekonomi?

Tag:  #rupiah #melemah #rekor #terendah #dampaknya #dompet #warga

KOMENTAR