Lapangan Kerja AS Naik 172.000 pada Mei, The Fed Punya Ruang Tahan Suku Bunga
Kapal wisata berbendera Amerika di lepas pantai Block Island, RI, 17 Oktober 2022. Gedung Putih menanggapi dengan serius laporan dari pengawas internal yang menyebut Duta Besar AS untuk Singapura mengancam stafnya.(AP via VOA INDONESIA)
20:24
5 Juni 2026

Lapangan Kerja AS Naik 172.000 pada Mei, The Fed Punya Ruang Tahan Suku Bunga

 Perekonomian Amerika Serikat atau AS kembali mencatat pertumbuhan lapangan kerja yang kuat pada Mei 2026.

Data tersebut mengonfirmasi pasar tenaga kerja AS mulai kembali menguat setelah melemah pada tahun lalu.

Kondisi itu berpotensi memberi ruang lebih besar bagi bank sentral AS atau Federal Reserve, The Fed, untuk menahan suku bunga.

Pada saat yang sama, The Fed masih perlu memantau tekanan inflasi akibat perang dengan Iran.

Baca juga: Powell: Intervensi Politik ke The Fed Bisa Gerus Kepercayaan Publik

Biro Statistik Tenaga Kerja AS atau Bureau of Labor Statistics, BLS, melaporkan jumlah pekerjaan di luar sektor pertanian atau nonfarm payrolls bertambah 172.000 pada Mei 2026.

Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom dalam survei Reuters. Ekonom sebelumnya memproyeksikan tambahan 85.000 pekerjaan. Data April 2026 juga direvisi lebih kuat.

Lapangan kerja pada April naik 179.000, lebih tinggi dari laporan sebelumnya sebesar 115.000 pekerjaan.

Sebelumnya, perkiraan ekonom untuk pertumbuhan lapangan kerja Mei berada dalam rentang 50.000 sampai 125.000 pekerjaan.

Kenaikan pada Mei memperpanjang penguatan pasar tenaga kerja AS dalam dua bulan sebelumnya.

Ekonom memperkirakan ekonomi AS hanya perlu menciptakan nol sampai 50.000 pekerjaan per bulan untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk usia kerja. Angka itu disebut tingkat impas atau break even rate.

Level tersebut turun karena kebijakan pengetatan imigrasi mengurangi jumlah angkatan kerja.

Kondisi itu ikut membatasi kenaikan tingkat pengangguran. Tingkat pengangguran AS bertahan di 4,3 persen selama tiga bulan berturut-turut.

Baca juga: Rupiah Dibayangi Rezim Baru The Fed

Rendahnya PHK topang pasar kerja

Kenaikan jumlah pekerjaan sebagian besar mencerminkan rendahnya pemutusan hubungan kerja atau PHK.

Perusahaan masih berhati-hati menambah pekerja karena menghadapi ketidakpastian.

Sebelumnya, ketidakpastian datang dari kebijakan tarif besar-besaran Presiden Donald Trump.

Kini, dunia usaha juga menghadapi dampak perang AS dan Israel dengan Iran.

Sejauh ini, belum ada indikasi konflik Timur Tengah memberi dampak besar terhadap pasar tenaga kerja AS.

Dampak konflik tersebut lebih dulu terasa melalui lonjakan harga minyak dan produk lain yang dikirim melalui Selat Hormuz.

Ekonom menilai stimulus fiskal ikut menopang kondisi perusahaan. Stimulus itu muncul dalam bentuk pengembalian pajak dan restitusi tarif.

Dukungan tersebut meningkatkan laba perusahaan. Dengan kondisi itu, dunia usaha tidak perlu melakukan PHK dalam skala besar.

Mahkamah Agung AS pada Februari membatalkan tarif tersebut. Sejumlah perusahaan kemudian mengajukan pengembalian dana.

Laba perusahaan AS naik 40,4 miliar dollar AS pada kuartal I 2026. Dengan kurs Rp 18.035 per dollar AS, nilai itu setara sekitar Rp 728,61 triliun.

Laba perusahaan juga terus meningkat sejak kuartal II 2025. Meski pertumbuhan penggajian kuat, pasar tenaga kerja AS masih berada dalam kondisi yang disebut ekonom sebagai keseimbangan perekrutan lambat dan PHK lambat.

Pasar keuangan memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan overnight di kisaran 3,50 persen sampai 3,75 persen hingga 2027.

Tag:  #lapangan #kerja #naik #172000 #pada #punya #ruang #tahan #suku #bunga

KOMENTAR