Produk Mebel RI 30 Persen Lebih Mahal dari Vietnam dan China, Pengusaha Ungkap Sebabnya
Pameran furnitur dan mebel IFEX. (Dyandra)
09:44
6 Juni 2026

Produk Mebel RI 30 Persen Lebih Mahal dari Vietnam dan China, Pengusaha Ungkap Sebabnya

Industri mebel dan kerajinan nasional masih menghadapi tantangan berat di pasar global.

Produk furnitur buatan Indonesia dinilai masih lebih mahal hingga 30 persen dibandingkan produk sejenis dari Vietnam dan China.

Kondisi tersebut membuat daya saing industri furnitur nasional tertinggal dari para pesaing utama di kawasan.

Baca juga: Dollar AS Menguat, Pengusaha Mebel RI Ketiban Durian Runtuh?

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, mengatakan selisih harga tersebut salah satunya dipengaruhi tingkat adopsi teknologi yang masih tertinggal.

Penggunaan mesin modern, otomasi produksi, dan efisiensi manufaktur di China dan Vietnam membuat biaya produksi kedua negara tersebut lebih rendah.

Akibatnya, produk mereka bisa dijual dengan harga lebih kompetitif di pasar internasional.

“Kami menyadari di balik produk yang kami tampilkan masih ada pekerjaan rumah besar sekali. Kalau di-compare dengan negara lain seperti misalnya Vietnam, Malaysia, apalagi Cina, barang-barang yang kita produksi itu dianggap relatif mahal, bisa selisih 30 persen lebih mahal. Salah satunya indikatornya karena teknologi," ujar Sobur lewat keterangan pers, Jumat malam (5/6/2026).

Sobur mengatakan HIMKI mendorong transformasi industri berbasis teknologi untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Pengembangan industri furnitur dan kerajinan nasional tidak bisa dilakukan secara parsial.

Menurut dia, Indonesia perlu membangun ekosistem industri yang utuh dari hulu hingga hilir.

Baca juga: HIMKI: Jawa Timur Berpeluang Jadi Pusat Industri Mebel ASEAN

HIMKI menempatkan Indonesia Forestry and Woodworking Machinery Expo (Indowood Expo) 2026 sebagai salah satu platform strategis dalam pembangunan ekosistem tersebut.

Indowood berperan sebagai platform hulu industri.

Pameran tersebut mempertemukan pelaku usaha dengan teknologi manufaktur, mesin produksi, bahan baku, perangkat keras, fitting, bahan finishing, perangkat lunak industri, otomasi, serta solusi peningkatan produktivitas dan efisiensi.

Sementara itu, Indonesia International Furniture Expo (IFEX) berperan sebagai platform hilir industri.

IFEX mempertemukan produsen Indonesia dengan pembeli internasional, jaringan distribusi global, dan pasar ekspor dunia.

Sobur menilai Indowood dan IFEX bukan dua pameran yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari satu rantai nilai yang saling terhubung.

Ke depan, HIMKI mendorong Indowood berkembang menjadi Indonesia Woodworking and Furniture Manufacturing Technology Platform.

Platform tersebut diharapkan menjadi pusat transfer teknologi, edukasi industri, benchmarking internasional, peningkatan produktivitas, pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan percepatan modernisasi manufaktur furnitur Indonesia.

Sobur mengatakan tantangan terbesar industri furnitur nasional saat ini bukan hanya persoalan pasar.

Tantangan utama juga terletak pada kecepatan transformasi teknologi dan peningkatan produktivitas.

Persaingan global yang semakin ketat membuat kemampuan industri mengadopsi teknologi baru dan meningkatkan efisiensi produksi menjadi faktor penting untuk memenangkan pasar.

Karena itu, keberhasilan Indowood tidak hanya diukur dari jumlah peserta pameran, luas area pameran, maupun jumlah pengunjung.

Keberhasilan platform tersebut perlu tercermin dari kemampuannya mendorong adopsi teknologi di kalangan pelaku industri.

Indowood juga diharapkan memperkuat rantai pasok nasional, meningkatkan investasi pada mesin dan peralatan produksi, serta memperkuat daya saing industri furnitur Indonesia di pasar global.

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, HIMKI akan mengintegrasikan Indowood dengan berbagai program pengembangan industri.

Program tersebut mencakup IFEX sebagai platform pemasaran global, buyer mission, pelatihan dan pengembangan SDM, industrial benchmarking, factory visit, serta berbagai inisiatif peningkatan produktivitas bagi anggota HIMKI.

Tag:  #produk #mebel #persen #lebih #mahal #dari #vietnam #china #pengusaha #ungkap #sebabnya

KOMENTAR