Diplomasi Ekonomi di Tengah Fenomena ''Sell Indonesia''
IHSG sesi I Rabu (3/6/2026) anjlok 4,94 persen. ( ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
13:28
7 Juni 2026

Diplomasi Ekonomi di Tengah Fenomena ''Sell Indonesia''

DI TENGAH tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pekan ini muncul fenomena "Sell Indonesia" yang mendapat perhatian luas media internasional.

Dalam wawancaranya dengan Bloomberg, George Boubouras, Kepala Riset K2 Asset Management yang mengelola dana sekitar 4,3 miliar dollar AS, menyatakan bahwa perdagangan paling populer di Asia saat ini adalah "Sell Indonesia". Ia bahkan mengaku telah melepas seluruh eksposur investasinya di Indonesia sejak 2024.

Pernyataan tersebut bukan sekadar komentar seorang investor. Dalam perspektif Hubungan Internasional modern, pernyataan itu mencerminkan semakin besarnya pengaruh aktor non-negara dalam menentukan arah ekonomi global.

Sejak berakhirnya Perang Dingin, negara tidak lagi menjadi satu-satunya aktor yang menentukan dinamika internasional.

Perusahaan multinasional, lembaga pemeringkat kredit, institusi keuangan internasional, hedge fund, hingga pasar keuangan global memiliki kemampuan memengaruhi kebijakan dan perekonomian suatu negara.

Robert Keohane dan Joseph Nye menyebut fenomena tersebut sebagai complex interdependence atau saling ketergantungan kompleks.

Baca juga: Segera Pulihkan Kepercayaan Pasar

Dalam dunia yang saling bergantung, kekuatan suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan militer, tetapi juga oleh akses terhadap modal, teknologi, jaringan ekonomi global, dan kepercayaan internasional.

Karena itu, ketika sebagian investor global melakukan aksi jual terhadap aset Indonesia, yang terjadi bukan sekadar transaksi ekonomi.

Pasar sedang mengirimkan sinyal mengenai persepsi mereka terhadap risiko, prospek ekonomi, dan kualitas tata kelola nasional.

Investor tidak hanya membaca angka pertumbuhan ekonomi. Mereka juga menilai kepastian hukum, konsistensi kebijakan, kualitas institusi, efektivitas birokrasi, dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas jangka panjang.

Dalam konteks ini, reputasi menjadi faktor yang sama pentingnya dengan fundamental ekonomi.

Di sinilah relevansi konsep soft power Joseph Nye memperoleh makna yang lebih luas. Dalam ekonomi global, daya tarik suatu negara tidak hanya berasal dari budaya atau nilai-nilai yang dimilikinya, tetapi juga dari kredibilitas kebijakannya.

Investor menanamkan modal bukan hanya karena potensi keuntungan, melainkan karena percaya bahwa aturan main akan konsisten, transparan, dan dapat diprediksi.

Ketika kepercayaan mulai terkikis, biaya ekonomi menjadi lebih mahal. Premi risiko meningkat, biaya pinjaman bertambah, dan arus modal cenderung melambat.

Dengan kata lain, krisis kepercayaan pada akhirnya akan berubah menjadi biaya ekonomi yang nyata.

Fenomena "Sell Indonesia" juga menunjukkan relevansi konsep intermestik yang berkembang dalam studi Hubungan Internasional Indonesia. Kebijakan domestik kini tidak hanya dinilai oleh masyarakat di dalam negeri, tetapi juga oleh pasar keuangan global.

Program pembangunan, tata kelola BUMN, disiplin fiskal, kebijakan investasi, hingga komunikasi pemerintah terhadap pelaku pasar menjadi bagian dari penilaian internasional terhadap Indonesia.

Dalam dunia yang terhubung, hampir tidak ada lagi kebijakan ekonomi yang sepenuhnya bersifat domestik. Keputusan yang diambil di Jakarta dapat memengaruhi keputusan investasi di Singapura, London, New York, maupun Tokyo.

Baca juga: Dari Piring Anak hingga Izin Tinggal: Ketika Negara Diperdagangkan

Dari perspektif realisme, perilaku investor sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perilaku negara. Keduanya berusaha memaksimalkan kepentingan dan meminimalkan risiko.

Dalam tradisi pemikiran realisme dikenal ungkapan bahwa tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Logika yang sama berlaku di pasar keuangan.

Investor asing tidak berinvestasi karena simpati terhadap Indonesia. Mereka datang karena melihat peluang keuntungan. Ketika risiko dianggap meningkat, modal akan berpindah ke negara lain yang menawarkan kombinasi risiko dan imbal hasil yang lebih menarik.

Karena itu, menyalahkan investor atau menganggap pasar tidak patriotik bukanlah solusi. Pasar hanya menjalankan logika dasarnya.

Dalam konteks ini, pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 bahwa "tidak ada bangsa lain yang akan kasihan kepada kita" menemukan relevansinya. Setiap aktor internasional akan bertindak berdasarkan kepentingannya masing-masing.

Indonesia saat ini berada dalam kompetisi global memperebutkan kepercayaan investor. Negara-negara ASEAN, India, negara-negara Teluk, hingga beberapa negara Amerika Latin sama-sama berlomba menawarkan iklim investasi yang menarik.

Ketika investor mengurangi eksposurnya terhadap Indonesia, dana tersebut tidak menghilang, melainkan berpindah ke negara lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Dalam perspektif geoekonomi, reputasi telah menjadi aset strategis yang sama pentingnya dengan sumber daya alam.

Negara yang memiliki reputasi baik akan memperoleh akses modal yang lebih murah dan lebih mudah menarik investasi. Sebaliknya, negara yang reputasinya terganggu harus membayar biaya ekonomi yang lebih tinggi.

Di sinilah diplomasi ekonomi menjadi penting. Tantangan pemerintah saat ini bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memulihkan dan memperkuat kredibilitas Indonesia di mata komunitas ekonomi internasional.

Kredibilitas tersebut tidak dibangun melalui retorika semata, melainkan melalui kemampuan pemerintah merealisasikan berbagai komitmen investasi yang diperoleh dalam kunjungan kenegaraan maupun forum-forum ekonomi internasional.

Investor global pada akhirnya tidak hanya memperhatikan besarnya angka investasi yang diumumkan, tetapi juga sejauh mana proyek-proyek tersebut benar-benar terealisasi, hambatan regulasi dapat diselesaikan, serta kepastian hukum dan iklim usaha dapat dijaga secara konsisten.

Dalam konteks inilah diplomasi ekonomi harus menghasilkan dampak nyata yang dapat diukur, bukan sekadar menghasilkan nota kesepahaman.

Baca juga: Korupsi MBG: Membaca Kekecewaan Presiden Prabowo

Langkah yang diperlukan bukan semata intervensi teknis di pasar keuangan, melainkan upaya membangun kembali kepercayaan melalui diplomasi ekonomi yang terintegrasi.

Kementerian Luar Negeri, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, kementerian ekonomi, perwakilan RI di luar negeri, serta pelaku usaha perlu menyampaikan narasi yang konsisten mengenai prospek ekonomi Indonesia.

Indonesia sesungguhnya masih memiliki banyak kekuatan: pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik, serta stabilitas politik yang relatif baik dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.

Namun, dalam sistem internasional yang semakin kompetitif, keunggulan tersebut saja tidak cukup. Investor global pada akhirnya tidak hanya membeli prospek pertumbuhan. Mereka membeli kepercayaan.

Ketika sebagian pelaku pasar meneriakkan "Sell Indonesia", yang sedang diuji bukan sekadar rupiah atau IHSG. Yang sedang diuji adalah kemampuan Indonesia mempertahankan reputasi sebagai tujuan investasi, mitra ekonomi, dan aktor yang kredibel dalam sistem internasional.

Dalam era geoekonomi abad ke-21, kekuatan nasional semakin ditentukan oleh kemampuan membangun dan mempertahankan kepercayaan.

Ketika modal dapat bergerak melintasi batas negara dalam hitungan detik, kepercayaan menjadi mata uang strategis yang menentukan daya saing bangsa.

Akhirnya, tantangan Indonesia hari ini bukan sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan bahwa dunia tetap percaya pada masa depan Indonesia.

Tag:  #diplomasi #ekonomi #tengah #fenomena #sell #indonesia

KOMENTAR