Harga Beras Dunia Menguat, Biaya Produksi Jadi Pemicu Utama
Setelah mengalami tekanan sepanjang 2025 akibat melimpahnya pasokan dunia, harga beras global mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan pada 2026.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat indeks harga beras dunia kembali naik dalam beberapa bulan terakhir, meskipun levelnya masih berada di bawah posisi tahun sebelumnya.
Pergerakan tersebut menarik perhatian karena beras merupakan salah satu komoditas pangan paling penting bagi lebih dari separuh populasi dunia.
Baca juga: Stok Beras Bulog 5,3 Juta Ton, Distribusi SPHP dan Bantuan Pangan Dikebut
Ilustrasi beras.
Kenaikan harga internasional tidak hanya memengaruhi negara-negara eksportir utama seperti India, Thailand, Vietnam, dan Pakistan, tetapi juga negara pengimpor besar yang bergantung pada pasar global untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Dalam pembaruan terbaru FAO Rice Price Update, dikutip pada Senin (8/6/2026), FAO mencatat FAO All Rice Price Index (FARPI) berada pada level rata-rata 102,1 poin pada April 2026. Angka tersebut meningkat 1,9 persen dibandingkan Maret 2026.
Namun, indeks tersebut masih 2,7 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan indeks tersebut menandai perubahan arah setelah harga beras dunia sempat melemah pada Maret 2026.
Baca juga: Bulog Tarik Beras Bantuan Pangan di Bangkalan, Ganti yang Lebih Bagus
Saat itu, FARPI turun 3 persen karena tekanan panen, permintaan impor yang lebih lemah, serta depresiasi sejumlah mata uang terhadap dollar AS.
Biaya produksi menjadi pemicu
FAO menjelaskan, kenaikan harga beras internasional pada April terutama dipengaruhi oleh meningkatnya biaya produksi dan distribusi di sejumlah negara eksportir utama.
Ilustrasi beras.
Menurut FAO, harga beras jenis Indica mengalami penguatan di sebagian besar kawasan Asia. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya panen, penggilingan, pengemasan, dan transportasi domestik yang terjadi di berbagai negara asal ekspor.
FAO menyebut, lonjakan harga minyak mentah dan turunannya berkontribusi terhadap peningkatan biaya logistik tersebut. Akibatnya, eksportir beras menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi sehingga tercermin pada harga ekspor.
Baca juga: Bulog Sudah Salurkan 315.000 Ton Beras SPHP dan 19 Juta Bantuan Pangan
“Harga ekspor beras Indica menguat di sebagian besar wilayah Asia pada bulan April,” tulis FAO dalam laporannya.
Penguatan itu terjadi seiring meningkatnya biaya panen, penggilingan, pengemasan, dan transportasi internal di sebagian besar negara asal ekspor.
Meski demikian, India menjadi pengecualian. FAO mencatat harga beras dari India justru kembali melemah untuk bulan kedua berturut-turut karena panen musim sela (offseason harvest) masih berlangsung.
Kondisi tersebut membantu menjaga pasokan tetap melimpah di pasar domestik maupun ekspor.
Baca juga: Amran Sebut Negara Lain Marah RI Stop Impor Beras
Pasokan global masih relatif longgar
Kenaikan indeks harga beras dunia tidak serta-merta menunjukkan terjadinya kekurangan pasokan global. Justru FAO menilai pasokan beras dunia masih relatif memadai.
Dalam laporan Food Price Monitoring and Analysis Bulletin edisi Mei 2026, FAO menyebut kenaikan harga internasional terjadi “meski pasokan tersedia dalam jumlah yang cukup”. Faktor biaya menjadi pendorong utama dibandingkan persoalan kekurangan produksi.
Kondisi ini berbeda dengan periode 2023 ketika pasar beras dunia sempat terguncang akibat pembatasan ekspor dari India yang memicu lonjakan harga internasional hingga mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Ilustrasi beras, bahan pangan yang bisa diberikan untuk fakir miskin. Salah satu cara membayar kafarat adalah dengan memberi makan fakir miskin
Saat itu, kekhawatiran utama berasal dari keterbatasan pasokan global.
Baca juga: Bantuan Pangan Tak Harus Beras, Pemerintah Buka Opsi Telur dan Daging
Kini, pasar menghadapi situasi yang berbeda. Produksi global yang tinggi dalam beberapa musim terakhir menciptakan pasokan yang relatif melimpah.
Bahkan sepanjang 2025, harga beras dunia mengalami tekanan turun akibat produksi yang kuat di sejumlah negara eksportir utama dan menurunnya permintaan impor dari beberapa negara pembeli besar.
FAO sebelumnya juga memperkirakan produksi beras dunia musim 2025/2026 meningkat, sementara persediaan akhir global turut bertambah karena tingginya stok di sejumlah negara.
Utilisasi beras global memang naik, tetapi masih ditopang oleh ketersediaan pasokan yang besar.
Baca juga: Serapan Beras Bulog Sudah 75 Persen dari Target 4 Juta Ton
Permintaan mulai kembali bergerak
Selain faktor biaya, pergerakan permintaan juga ikut memengaruhi pembentukan harga.
Dalam pembaruan harga beras sebelumnya, FAO mencatat kenaikan harga pada beberapa segmen beras dipicu oleh permintaan yang tetap kuat, terutama untuk varietas basmati dan japonica.
Pada Februari 2026, FARPI meningkat 0,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya karena permintaan yang berkelanjutan terhadap kedua jenis beras tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pasar beras global tidak bergerak secara seragam. Setiap segmen memiliki dinamika tersendiri bergantung pada pola konsumsi, kondisi produksi, hingga kebutuhan impor masing-masing negara.
Baca juga: Bulog Serap 3 Juta Ton Gabah-Beras Petani, 75 Persen Target Pengadaan 2026
FAO menjelaskan, FARPI terdiri dari empat sub-indeks yang melacak pergerakan harga varietas utama yang diperdagangkan secara internasional, yakni Indica, Aromatic, Japonica, dan Glutinous. Indeks tersebut dirancang untuk menggambarkan perubahan harga beras internasional secara menyeluruh.
Ilustrasi beras.
Risiko geopolitik dan energi
Di tengah kondisi pasokan yang relatif memadai, pasar pangan dunia tetap menghadapi sejumlah risiko yang dapat memengaruhi harga komoditas, termasuk beras.
FAO sebelumnya menyebut kenaikan indeks harga pangan global pada April 2026 turut dipengaruhi gangguan yang berkaitan dengan krisis di Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi kemudian berdampak pada biaya produksi dan distribusi berbagai komoditas pangan, termasuk beras.
Baca juga: Produksi Beras Masih Naik, Mengapa Hasil Panen April 2026 Justru Turun?
Dalam laporan harga pangan global Mei 2026, FAO mencatat indeks harga pangan dunia memang sedikit turun dibandingkan April. Namun harga komoditas serealia justru meningkat lebih dari 2,6 persen dan tetap berada dekat level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Peningkatan biaya pupuk dan bahan bakar menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Ketika biaya input pertanian meningkat, produsen menghadapi tekanan untuk menyesuaikan harga jual guna menjaga margin usaha.
Dampaknya dapat merambat ke berbagai komoditas pangan dunia.
Selain faktor geopolitik, ancaman cuaca juga menjadi perhatian. Sejumlah laporan menunjukkan kemunculan pola El Nino yang berpotensi memengaruhi produksi pertanian di berbagai kawasan Asia.
Baca juga: Produksi Beras Naik, Tapi Panen Padi April 2026 Turun 15 Persen
Kondisi cuaca yang lebih panas dan kering dapat mengganggu penanaman maupun produktivitas tanaman pangan, termasuk padi.
Reuters melaporkan, kekhawatiran terhadap cuaca dan biaya produksi telah mendorong kenaikan harga beras sekitar 15 persen dalam beberapa waktu terakhir di pasar internasional.
Masih di bawah level tahun lalu
Ilustrasi beras.
Meskipun tren kenaikan mulai terlihat, posisi harga beras global saat ini belum kembali ke level tinggi yang pernah terjadi pada masa gangguan pasokan beberapa tahun lalu.
Data FAO menunjukkan bahwa indeks harga beras April 2026 memang naik dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi masih lebih rendah dibandingkan April 2025. FARPI sebesar 102,1 poin masih berada 2,7 persen di bawah level setahun sebelumnya.
Baca juga: Bulog akan Kirim Utusan ke Serawak, Bahas Ekspor Beras Ke Malaysia
Hal tersebut menunjukkan pasar beras global masih berada dalam fase penyesuaian setelah periode penurunan harga yang berlangsung cukup panjang akibat melimpahnya produksi dan persediaan dunia.
Bagi pelaku pasar, perkembangan indeks harga beras global menjadi indikator penting untuk membaca arah perdagangan komoditas pangan dunia.
Kenaikan yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biaya dan logistik dibandingkan kekhawatiran atas ketersediaan pasokan.
Namun, dinamika pasar tetap dipengaruhi berbagai faktor eksternal, mulai dari biaya energi, kondisi cuaca, perkembangan produksi di negara-negara eksportir utama, hingga perubahan permintaan dari negara pengimpor.
Baca juga: Beras Bulog Diusulkan untuk ASN, TNI, dan Polri, Stok Diklaim Tetap Cukup
Karena itu, pergerakan indeks harga beras global pada bulan-bulan mendatang akan terus menjadi perhatian pasar pangan internasional.
Tag: #harga #beras #dunia #menguat #biaya #produksi #jadi #pemicu #utama