Psikiater: Yang Perlu Ditakuti Bukan Skizofrenia, tetapi Skizofrenia yang Tidak Diobati
Ilustrasi skizofrenia. Psikiater mengingatkan bahwa risiko pada skizofrenia umumnya meningkat ketika pasien tidak menjalani pengobatan, mengalami kekambuhan, atau memiliki faktor risiko lain yang tidak ditangani.(Photographee.eu/Shutterstock)
19:06
7 Juni 2026

Psikiater: Yang Perlu Ditakuti Bukan Skizofrenia, tetapi Skizofrenia yang Tidak Diobati

Skizofrenia masih menjadi salah satu gangguan jiwa yang paling sering disalahpahami masyarakat. Tidak sedikit orang yang langsung mengaitkan diagnosis skizofrenia dengan perilaku berbahaya atau tindakan kekerasan.

Padahal, menurut Psikiater sekaligus Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, yang perlu diwaspadai bukanlah diagnosis skizofrenianya, melainkan kondisi yang tidak ditangani dengan baik.

Dalam keterangan yang diterima Kompas.com pada Jumat (5/6/2026), Lahargo menegaskan bahwa sebagian besar orang dengan skizofrenia tidak pernah melakukan perilaku kekerasan.

"Skizofrenia bukan sinonim dari kekerasan. Yang berbahaya bukan diagnosisnya, tetapi faktor risiko yang tidak dikenali dan tidak ditangani," ujar dr. Lahargo.

Baca juga: Skizofrenia Tak Selalu Berbahaya, Psikiater Ungkap Faktor yang Memicu Perilaku Kekerasan

Risiko dapat meningkat bila pengobatan terhenti

Menurut Lahargo, berbagai penelitian menunjukkan bahwa risiko perilaku kekerasan memang dapat meningkat pada sebagian pasien skizofrenia. Namun, peningkatan risiko tersebut tidak terjadi pada semua orang.

Salah satu faktor yang paling sering ditemukan adalah pasien yang menghentikan pengobatan sendiri atau tidak menjalani kontrol secara rutin.

Ketika pengobatan terputus, gejala psikotik dapat kembali muncul dan memburuk.

Akibatnya, waham maupun halusinasi menjadi lebih sulit dikendalikan dan kemampuan mengontrol impuls dapat menurun.

Karena itu, kepatuhan menjalani pengobatan menjadi salah satu aspek terpenting dalam penanganan skizofrenia.

Meta-analisis terbaru juga menunjukkan bahwa risiko tertinggi ditemukan pada fase awal penyakit atau First Episode Psychosis (FEP).

Namun setelah pasien mendapatkan pengobatan yang adekuat, risiko tersebut umumnya menurun secara signifikan.

Baca juga: Robert F. Kennedy Jr. Klaim Diet Keto Bisa Sembuhkan Skizofrenia, Ini Kata Pakar Kesehatan Jiwa

Faktor lain yang perlu diwaspadai

Ilustrasi gangguan mental. Psikiater mengingatkan bahwa risiko pada skizofrenia umumnya meningkat ketika pasien tidak menjalani pengobatan, mengalami kekambuhan, atau memiliki faktor risiko lain yang tidak ditangani.freepik.com Ilustrasi gangguan mental. Psikiater mengingatkan bahwa risiko pada skizofrenia umumnya meningkat ketika pasien tidak menjalani pengobatan, mengalami kekambuhan, atau memiliki faktor risiko lain yang tidak ditangani.

Selain putus obat, Lahargo menjelaskan ada sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko munculnya perilaku agresif pada sebagian pasien.

Di antaranya adalah waham curiga berat, yaitu kondisi ketika pasien merasa diikuti, disadap, diracun, atau akan disakiti oleh orang lain.

Perasaan terancam tersebut dapat membuat pasien bertindak agresif sebagai bentuk perlindungan diri.

Faktor lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah halusinasi perintah, yakni ketika pasien mendengar suara yang memerintahkan untuk melakukan tindakan tertentu.

Risiko semakin meningkat apabila pasien sangat mempercayai suara tersebut, memiliki tilikan yang buruk terhadap penyakitnya, dan tidak mendapatkan pengobatan.

Lahargo juga menyoroti peran penyalahgunaan zat seperti alkohol, ganja, sabu, maupun narkotika lainnya.

Bahkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan zat dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap risiko kekerasan dibanding diagnosis skizofrenia itu sendiri.

"Pada banyak kasus, yang membuat pasien berbahaya bukan skizofrenianya, tetapi alkohol dan narkobanya," kata dr. Lahargo.

Baca juga: Gangguan Bipolar dan Skizofrenia: Pentingkah Minum Obat?

Dukungan keluarga berperan penting

Menurut Lahargo, pencegahan tidak hanya bergantung pada obat-obatan.

Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor protektif yang terbukti membantu meningkatkan hasil pengobatan pasien.

Keluarga yang menerima kondisi pasien, mendampingi proses perawatan, serta mengingatkan konsumsi obat secara rutin dapat membantu menurunkan risiko kekambuhan.

Selain itu, rehabilitasi psikososial juga berperan penting dalam proses pemulihan.

Program ini mencakup pelatihan keterampilan sosial, terapi okupasi, pelatihan kerja, hingga dukungan berbasis komunitas.

Psikoterapi seperti Cognitive Behavioral Therapy for Psychosis (CBT for Psychosis), assertiveness training, dan anger management juga disebut dapat membantu mengurangi perilaku agresif pada pasien tertentu.

Baca juga: Perbedaan Gangguan Bipolar dan Skizofrenia pada Anak, Ini Kata Pakar

Jangan hanya fokus pada diagnosis

Lahargo mengingatkan keluarga untuk tidak hanya bertanya apakah seseorang memiliki skizofrenia atau tidak.

Yang lebih penting adalah memahami apakah pasien sedang mengalami kekambuhan, rutin minum obat, menggunakan alkohol atau narkoba, serta mengalami waham curiga atau halusinasi perintah.

Menurut dia, faktor-faktor tersebut jauh lebih menentukan dibanding sekadar diagnosis.

"Yang perlu ditakuti bukan orang dengan skizofrenia, tetapi skizofrenia yang tidak diobati. Karena dengan pengobatan yang baik maka skizofrenia bisa dipulihkan. Tapi stigma justru hanya akan memperburuk keadaan," ujar dr. Lahargo.

Baca juga: Apa Penyebab Anak Bisa Mengalami Skizofrenia? Ini Ulasannya...

Tag:  #psikiater #yang #perlu #ditakuti #bukan #skizofrenia #tetapi #skizofrenia #yang #tidak #diobati

KOMENTAR