Harga Ayam Anjlok, Peternak Minta BUMN Serap Produksi Broiler
- Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) Kusnan meminta agar pemerintah melalui Perum Bulog dan BUMN dapat meningkatkan serapan ayam peternak.
Hal ini mengingat persoalan yang dihadapi peternak tidak hanya terjadi pada sektor petelur, tetapi juga sangat dirasakan oleh peternak ayam pedaging (broiler) yang saat ini mengalami tekanan harga live bird jauh di bawah biaya pokok produksi.
"Karena itu, selain Kementerian Pertanian, PERMINDO juga berharap adanya keterlibatan aktif Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bulog, serta BUMN Pangan dalam membangun sistem penyerapan dan distribusi yang lebih kuat," kata Kusnan dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).
Baca juga: Produksi Telur Surplus, Amran Minta Investasi Peternakan Ayam Dibatasi
Sebanyak 18 ribu ekor ayam broiler siap panen milik Muhammad Hatta, warga Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mati secara massal akibat kepanasan dampak listrik mata selama 3 hari di Aceh.
Dia bilang, pemerintah perlu membangun mekanisme penyerapan ayam dan telur secara berkelanjutan melalui BULOG atau BUMN Pangan sebagai instrumen stabilisasi pasar.
Sebagaimana pemerintah melakukan penyerapan gabah dan beras untuk menjaga kesejahteraan petani, mekanisme serupa perlu dipertimbangkan untuk protein hewani rakyat ketika terjadi kelebihan pasokan dan harga jatuh di tingkat peternak.
Kusnan berharap Kementerian Pertanian juga membuka ruang dialog yang setara bagi perwakilan peternak ayam broiler rakyat.
Dengan begitu, kondisi riil yang terjadi di lapangan dapat disampaikan secara langsung kepada Menteri Pertanian dan menjadi bagian dari perumusan solusi nasional sektor perunggasan.
Baca juga: 2 Bulan Merugi, Peternak Keluhkan Harga Ayam di Kandang Terpuruk
Saat ini kondisi usaha peternak broiler berada dalam tekanan yang sangat berat.
Sepanjang tahun 2026 terjadi kenaikan harga pakan secara akumulatif sekitar Rp 800 per kilogram, sementara harga pakan saat ini berada pada kisaran Rp 8.800 sampai Rp 9.400 per kilogram (loco pabrik).
Ilustrasi peternak ayam. Industri peternakan ayam petelur rakyat di Jawa Timur (Jatim) tengah menghadapi tekanan hebat dalam beberapa pekan terakhir. Para peternak lokal di berbagai wilayah, mulai dari Jombang, Lamongan, Ponorogo, hingga Magetan, mengeluhkan harga telur ayam yang anjlok drastis hingga berada jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP).
Di sisi lain, harga DOC final stock saat panen hari ini input masih berada pada kisaran Rp 5.000 sampai Rp 6.000 per ekor, sehingga semakin meningkatkan biaya produksi peternak.
"Akibat kenaikan berbagai komponen biaya tersebut, Harga Pokok Produksi (HPP) broiler saat ini diperkirakan telah mencapai Rp 21.000 sampai Rp 22.000 per kilogram live bird," ujar dia.
Baca juga: BUMN Berdikari Genjot Hilirisasi Ayam untuk Pasok Program MBG
Namun kondisi pasar menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Harga live bird di wilayah Jabodetabek dan Banten masih berada pada kisaran Rp 15.000 hingga Rp 16.000 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi peternak.
"Artinya, peternak rakyat saat ini menanggung kerugian sekitar Rp 5.000 sampai Rp 7.000 per kilogram live bird atau sekitar Rp 10.000 sampai Rp 14.000 per ekor ayam panen berbobot 2 kilogram," ujar dia.
Kondisi ini tidak mungkin bertahan dalam jangka panjang karena akan menggerus modal kerja peternak rakyat dan berpotensi menyebabkan banyak usaha budidaya berhenti beroperasi.
Baca juga: Kadin Buka Suara soal Kabar Investor China Mau Bangun Peternakan Ayam Rp 1,4 T
Menurut dia, persoalan utama yang saat ini dihadapi peternak bukan semata-mata masalah produksi, melainkan bagaimana memperbesar dan memperluas pasar untuk menyerap produksi ayam dan telur nasional yang telah melimpah.
Dia mengusulkan beberapa langkah strategis di antaranya, perluasan akses produk unggas di ritel modern nasional.
Dia bilang, pemerintah perlu mendorong ketersediaan ayam karkas segar, ayam beku, dan telur di seluruh jaringan ritel modern nasional seperti minimarket, supermarket, hypermarket, dan gerai pangan modern lainnya.
"Dengan semakin mudahnya akses masyarakat terhadap protein hewani, konsumsi nasional dapat meningkat sekaligus memperluas pasar bagi peternak rakyat," ujar dia.
Ilustrasi: Peternak mengecek pakan ternak ayam broiler di Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (25/2/2016).
Baca juga: Libatkan Praktisi dan Akademisi, BUMN Peternakan Kebut Proyek Hilirisasi Ayam
Dia mengatakan, penguatan pasar dan distribusi dinilai menjadi langkah penting untuk mengatasi persoalan yang dihadapi peternak rakyat.
PERMINDO menilai produksi ayam dan telur nasional perlu diintegrasikan secara lebih luas ke dalam berbagai program pemerintah agar penyerapan hasil produksi meningkat sekaligus mendukung perbaikan gizi masyarakat.
"Produksi ayam dan telur nasional perlu diintegrasikan ke dalam berbagai program pemerintah seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penanganan stunting, bantuan sosial pangan, cadangan pangan pemerintah, serta kebutuhan pesantren, sekolah, rumah sakit, asrama, TNI, Polri, dan institusi negara lainnya. Langkah ini tidak hanya membantu peternak tetapi juga meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia," ujar Kusnan.
Selain itu, pemerintah juga didorong memperkuat distribusi dari daerah surplus ke wilayah yang masih kekurangan pasokan melalui dukungan logistik nasional, pengembangan rantai dingin (cold chain), penambahan cold storage regional, dan penguatan distribusi antarpulau.
Baca juga: Harga Ayam Hidup Anjlok: Peternak Mandiri Tertekan, Suplai Berlebih Jadi Sebab
Menurut Kusnan, distribusi yang lebih merata akan membantu mengurangi disparitas harga antarwilayah sekaligus meningkatkan serapan hasil produksi peternak.
Di sisi lain, organisasi tersebut juga menilai pemerintah perlu menyusun peta produksi dan kebutuhan unggas nasional yang lebih akurat sebagai dasar pengembangan investasi peternakan.
Saat ini sekitar 70 persen populasi ayam pedaging dan ayam petelur masih terkonsentrasi di Pulau Jawa sehingga kerap memicu tekanan harga akibat kelebihan pasokan.
"Ke depan, investasi peternakan baru perlu diarahkan ke wilayah-wilayah potensial di luar Jawa yang masih memiliki ruang pertumbuhan konsumsi dan kebutuhan protein hewani yang tinggi," kata Kusnan.
Baca juga: Kementan Cari Cara Simpan Kelebihan Stok Pangan Nasional, Ada Beras, Jagung, dan Daging Ayam
Ilustrasi peternakan ayam
Dia juga mengusulkan pembentukan Cadangan Protein Hewani Nasional berbasis ayam dan telur, sebagaimana mekanisme Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Melalui skema tersebut, pemerintah dapat melakukan penyerapan saat terjadi surplus produksi dan menyalurkan stok ketika terjadi kekurangan pasokan atau kondisi darurat pangan.
Berdasarkan data komposisi pangan, satu ekor ayam broiler rata-rata mengandung sekitar 160 gram protein yang cukup memenuhi kebutuhan protein hewani seorang anak selama kurang lebih tujuh hari.
Program ini menjadi solusi nyata yang mempertemukan kepentingan peternak rakyat dengan agenda perbaikan gizi nasional.
Baca juga: Harga Ayam Hidup Anjlok, Mentan Akan Cek dan Panggil Produsen Pakan
PERMINDO meyakini pembenahan sistem pasar, distribusi, dan penyerapan akan menciptakan harga ayam dan telur yang lebih sehat tanpa harus terus bergantung pada kebijakan pengurangan produksi.
"Peternak tidak meminta subsidi. Peternak meminta pasar diperbesar, distribusi diperbaiki, dan hasil produksi rakyat diserap secara adil. Masalah unggas nasional hari ini bukan kekurangan produksi, melainkan belum optimalnya pasar dan distribusi. Ketika HPP sudah mencapai Rp 21.000-Rp 22.000 per kilogram sementara harga live bird hanya Rp 15.000-Rp 16.000 per kilogram, maka yang dijual peternak bukan keuntungan, melainkan kerugian," tegas Kusnan.
Tag: #harga #ayam #anjlok #peternak #minta #bumn #serap #produksi #broiler