Sepanjang 2026 Asing Kabur Rp 75,39 Triliun dari Bursa, Mampukah IHSG Bertahan?
- Gelombang dana asing tinggalkan pasar saham Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sepanjang 2026, investor asing telah membukukan jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp 75,39 triliun.
Kondisi tersebut berdampak pada anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 31,74 persen sejak awal tahun ini.
Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), investor asing mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 2,93 triliun Meski demikian, IHSG justru mampu bangkit dan ditutup menguat 2,70 persen.
Baca juga: IHSG Melonjak Lebih dari 10 Persen dalam 2 Hari, Aksi Profit Taking Mengintai
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal IHSG mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah berhasil membentuk pola pullback dari fase “wave (v)/5/A”.
Menurutnya, pola three outside up candlestick pattern yang terbentuk menjadi indikasi awal adanya peluang pembalikan arah tren setelah tekanan jual yang berkepanjangan.
“Secara teknikal, pergerakan IHSG berhasil membentu pullback dengan baik dari “wave (v)/5/A” dan membentuk pola three outside up candlestick pattern. Di sisi lain, indikator Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume,” ujar Nafan, Kamis (11/6/2026).
Ia memperkirakan support IHSG pada perdagangan Kamis ini berada pada area 5.688 dan 5.547. Sementara itu, resistance terdekat 6.058-6.178.
Meski arus keluar dana asing masih besar, pasar mendapat dorongan positif dari hasil pertemuan strategis antara DPR RI, anggota bank Himbara, BPJS, dan perusahaan asuransi BUMN yang membahas komitmen memperkuat pasar modal melalui aksi buyback saham.
“Para pelaku pasar merespons positif hasil pertemuan strategis antara DPR, Himbara, BPJS, dan asuransi BUMN terkait komitmen penguatan pasar melalui aksi buyback saham,” paparnya.
Selain itu, langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) mulai menunjukkan efektivitas dalam menarik aliran dana masuk ke pasar keuangan nasional.
Kondisi tersebut turut membantu penguatan nilai tukar rupiah yang pada perdagangan Rabu kemarin menguat 0,63 persen ke level Rp 17.944 per dollar AS.
Lebih jauh, pelaku pasar juga menanti rilis data penjualan ritel April 2026. Data tersebut dipandang penting karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi daya beli masyarakat dan kekuatan konsumsi domestik yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Namun, tantangan bagi IHSG masih cukup besar. Dari eksternal, pasar global tengah menghadapi kekhawatiran baru setelah inflasi Amerika Serikat berdasarkan Consumer Price Index (CPI) melonjak dari 3,8 persen menjadi 4,2 persen.
Kenaikan inflasi meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan. Situasi itu berpotensi memperbesar risiko keluarnya dana asing dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Hasil perilisan data CPI (inflasi) AS yang melonjak signifikan dari 3,8 persen ke 4,2 persen memicu kekhawatiran pasar global, dimana berpotensi membuat The Fed tetap bersikap hawkish, yang memicu kekhawatiran terjadinya risiko capital outflow jangka pendek dari emerging markets,” pungkas dia.
Tekanan juga datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan merespons tindakan Iran yang menembak jatuh helikopter militer AS, memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat mengguncang pasar keuangan global.
Selain itu, investor juga masih mencermati proses penyesuaian komposisi indeks global atau rebalancing FTSE Russell yang dijadwalkan berlaku efektif pada 22 Juni 2026. Peristiwa tersebut kerap memicu perpindahan dana investasi dalam jumlah besar dan berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.
Meski demikian, Nafan menilai peluang pemulihan IHSG masih terbuka selama sentimen domestik tetap terjaga dan arus modal keluar dapat mulai mereda.
Untuk itu, ia menyarankan investor melakukan akumulasi secara selektif pada saham-saham berfundamental kuat, memiliki valuasi murah, serta mulai menunjukkan sinyal pembalikan tren.
Saham pilihan analis untuk IHSG Kamis
Adapun, sejumlah saham yang direkomendasikan Nafan untuk dicermati investor ritel pada perdagangan Kamis, di antaranya:
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dinilai mulai menunjukkan perubahan tren ke fase markup atau fase kenaikan harga yang lebih kuat. Kondisi ini membuka peluang akumulasi bagi investor, terutama pada area harga masuk di kisaran Rp 3.700-Rp 4.400 per saham.
Untuk target kenaikan jangka pendek, BREN berpotensi menuju Rp 4.440 atau sekitar 5,21 persen dari area akumulasi. Jika momentum berlanjut, saham ini berpeluang menguji target berikutnya di Rp 4.720 atau naik sekitar 11,85 persen. Sementara itu, target optimistis berada di Rp 6.350 yang mencerminkan potensi kenaikan 50,47 persen.
Adapun support BREN berada pada area Rp 3.700 dan Rp 3.250.
PT Elnusa Tbk (ELSA) juga menunjukkan potensi pullback atau pemantulan harga setelah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Investor dapat mempertimbangkan aksi beli, khususnya pada area harga Rp 555-Rp 605 per saham. Saham ini juga termasuk kategori saham yang dapat ditransaksikan menggunakan fasilitas margin (marginable stock).
Secara teknikal, ELSA memiliki target harga pertama di Rp 615 atau berpotensi naik sekitar 4,24 persen. Target berikutnya di Rp 690 dengan potensi kenaikan 16,95 persen, sedangkan target ketiga Rp 725 atau sekitar 22,88 persen di atas area akumulasi.
Level support ELSA berada Rp 555 dan Rp 535.
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) masuk dalam daftar saham yang berpotensi mengalami pullback. Investor dapat mempertimbangkan aksi beli secara bertahap pada area Rp 5.875-Rp 6.475 per saham. Sama seperti ELSA, saham PANI juga termasuk saham yang dapat ditransaksikan menggunakan fasilitas margin.
Untuk target jangka pendek, PANI berpotensi menuju Rp 6.650 atau sekitar 5,14 persen lebih tinggi dari area akumulasi.
Selanjutnya, saham ini berpeluang menguji Rp 6.950 dengan potensi kenaikan 9,88 persen. Jika tren penguatan berlanjut, target berikutnya berada Rp 7.425 atau sekitar 17,39 persen.
Adapun area support PANI berada pada level Rp 5.875 dan Rp 5.400.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #sepanjang #2026 #asing #kabur #7539 #triliun #dari #bursa #mampukah #ihsg #bertahan