Ekonom Unand Sebut Kenaikan BI Rate Bisa Tekan Dolar, Asal Kepercayaan Pasar Pulih
Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate terbaru sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode 19-20 Mei 2026(Laman resmi Bank Indonesie (BI), bi.go.id)
18:40
11 Juni 2026

Ekonom Unand Sebut Kenaikan BI Rate Bisa Tekan Dolar, Asal Kepercayaan Pasar Pulih

Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dari 5,25 persen dinilai sebagai langkah yang tepat untuk menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Pakar Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Werry Darta Taifur, mengatakan kenaikan suku bunga merupakan instrumen yang lazim digunakan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

"Secara teori betul itu. Tingkat bunga dinaikkan sehingga orang lebih memilih menabung dan tidak membeli dollar. Dengan begitu permintaan dollar bisa ditekan," kata Werry, Kamis (11/06/2026).

Menurut dia, kenaikan BI Rate juga bertujuan menarik kembali aliran modal asing yang sebelumnya keluar dari Indonesia.

"Kalau terjadi capital inflow, modal-modal yang sempat keluar bisa masuk kembali. Itu salah satu tujuan kenaikan suku bunga," ujarnya.

Meski demikian, Werry menilai kebijakan moneter tersebut belum tentu mampu mengembalikan stabilitas rupiah dalam waktu cepat apabila kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi nasional dan kebijakan pemerintah masih rendah.

Menurutnya, pergerakan pasar tidak hanya dipengaruhi kebijakan suku bunga, tetapi juga persepsi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan.

"Yang menentukan itu tingkat kepercayaan pasar terhadap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Orang-orang sudah menghitung berbagai risiko ekonomi yang akan terjadi," katanya.

Werry menjelaskan, pelaku pasar saat ini mencermati sejumlah indikator ekonomi, mulai dari potensi pelebaran defisit anggaran, pertumbuhan penerimaan pajak, peningkatan utang, hingga tren pelemahan nilai tukar rupiah.

"Kalau orang melihat defisit anggaran berpotensi membesar dan rupiah terus melemah, mereka akan tetap memilih dollar. Jadi kebijakan menaikkan bunga saja belum tentu cukup jika tidak dibarengi meningkatnya kepercayaan pasar," jelasnya.

Ia juga tidak sependapat dengan anggapan bahwa langkah BI menaikkan suku bunga dilakukan terlambat.

Menurut Werry, Bank Indonesia memang memiliki mandat menjaga stabilitas pasar melalui berbagai instrumen kebijakan moneter yang tersedia, termasuk penyesuaian suku bunga acuan.

"Bank Indonesia memang bertugas mengendalikan kondisi pasar melalui instrumen yang dimilikinya. Salah satu caranya ya menaikkan suku bunga. Jadi bukan terlambat, tetapi memang itu bagian dari upaya yang terus dilakukan," ujarnya.

Terkait dampaknya terhadap masyarakat, Werry menilai kenaikan BI Rate tidak otomatis membuat cicilan Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun Kredit Pemilikan Rumah (KPR) langsung meningkat.

Menurut dia, bunga KUR selama ini ditetapkan melalui kebijakan pemerintah sehingga tidak serta-merta mengikuti perubahan BI Rate.

Sementara itu, cicilan KPR pada umumnya telah diatur dalam akad kredit yang disepakati antara nasabah dan perbankan.

"KPR itu berdasarkan akad atau kontrak yang sudah dibuat. Jadi tidak otomatis berubah karena kenaikan suku bunga BI," katanya.

Werry justru melihat risiko yang lebih besar apabila perlambatan ekonomi terjadi dan menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat maupun pelaku usaha.

"Kalau kegiatan ekonomi menurun dan permintaan terhadap produk berkurang, kemampuan membayar kewajiban bisa terganggu. Itu yang lebih berbahaya," ungkapnya.

Selain berdampak pada sektor keuangan, pelemahan rupiah juga berpotensi menekan perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Menurut Werry, perusahaan yang tidak memiliki mekanisme lindung nilai atau hedging akan menghadapi kenaikan biaya produksi karena harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk membeli dollar AS.

"Kalau perusahaan memakai bahan baku impor dan tidak melakukan hedging, biaya yang dikeluarkan akan lebih besar. Dampaknya bisa berujung pada kenaikan harga barang atau inflasi di masyarakat," katanya.

Karena itu, ia meminta pemerintah memperkuat transparansi dan komunikasi kebijakan ekonomi guna memulihkan kepercayaan pasar.

Menurut Werry, berbagai pernyataan mengenai kuatnya ekonomi nasional maupun kondisi defisit anggaran yang terkendali perlu didukung data dan penjelasan yang perinci agar mudah dipahami investor.

"Kalau pemerintah menyampaikan ekonomi kuat, harus dijelaskan sumber kekuatannya dari mana, bagaimana menjaga defisit tetap terkendali, dan langkah-langkah yang dilakukan. Kalau penjelasannya jelas, pasar bisa lebih yakin," ujarnya.

Ia menambahkan, semakin banyak kebijakan diumumkan tanpa penjelasan yang komprehensif, semakin besar pula risiko turunnya kepercayaan pasar.

"Intinya memang soal kepercayaan. Pasar akan melihat apakah kebijakan yang diambil didukung data, perhitungan yang jelas, dan langkah nyata untuk mengatasi persoalan ekonomi," tutup Werry.

Sebelumnya, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar Selasa (09/06/2026).

Kebijakan tersebut ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran, serta meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing ke Indonesia.

Tag:  #ekonom #unand #sebut #kenaikan #rate #bisa #tekan #dolar #asal #kepercayaan #pasar #pulih

KOMENTAR