Mengenal Orthokeratology, Terapi Lensa Kontak Malam Hari untuk Koreksi Rabun Jauh
Ilustrasi treatment orthokeratology untuk miopia atau rabun jauh(Magnific.com/Andrea Rankovic)
20:06
30 April 2026

Mengenal Orthokeratology, Terapi Lensa Kontak Malam Hari untuk Koreksi Rabun Jauh

- Di tengah gaya hidup modern yang tak lepas dari layar gadget, kesehatan mata menjadi masalah yang semakin penting untuk diperhatikan.

Paparan layar dalam waktu lama, minimnya aktivitas luar ruangan, hingga kebiasaan membaca dalam jarak dekat membuat risiko gangguan penglihatan, khususnya miopia (rabun jauh), kian meningka. Bahkan, sejak usia anak-anak.

Miopia bukan sekadar gangguan kecil yang bisa diatasi dengan kacamata. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat terus berkembang seiring pertumbuhan usia dan meningkatkan risiko komplikasi serius seperti gangguan retina, glaukoma, hingga katarak.

Baca juga: 1 dari 3 Anak di Dunia Alami Rabun Jauh

Oleh sebab itu, berbagai inovasi dalam dunia kesehatan mata terus dikembangkan, salah satunya melalui metode non-bedah bernama orthokeratology atau Ortho-K.

Apa Itu Orthokeratology?

Dokter spesialis mata Dr. dr. Tri Rahayu, Sp.M (K)., FIACLE menjelaskan, orthokeratology atau yang lebih dikenal sebagai Ortho-K, merupakan metode koreksi penglihatan non-bedah dengan menggunakan lensa kontak khusus saat tidur.

Lensa ini dirancang dari material rigid gas permeable dengan transmisi oksigen tinggi dan menggunakan desain reverse geometry, yang memungkinkan kornea dibentuk ulang secara sementara.

“Lensa Orthokeratology atau lensa Ortho-K ini merupakan pilihan pada tata laksana miopia. Lensa Ortho K digunakan saat tidur pada malam hari dengan tujuan membantu meratakan bagian tengah kornea secara sementara, sehingga dapat mengoreksi kelainan refraksi miopia hingga tingkat tertentu,” jelas dr. Tri dalam siaran resmi yang diterima Kompas.com, Kamis (30/4).

Lebih lanjut ia mengatakan, dengan penggunaan pada malam hari, pasien dapat memperoleh penglihatan yang lebih jelas pada siang hari tanpa menggunakan kacamata atau lensa kontak.

Metode ini bisa menjadi pilihan menarik, terutama bagi individu yang aktif secara fisik, seperti rutin berolahraga atau berenang, serta mereka yang memiliki profesi yang kurang memungkinkan untuk menggunakan kacamata.

Baca juga: Kedua Orangtua Pakai Kacamata, Apakah Anak Pasti Alami Mata Minus?

Angka Miopia pada Anak Indonesia Terus Meningkat

Sementara itu, dokter spesialis mata dr. Susanti Natalya Sirait. Sp.M (K). M.Kes mengungkap, kasus miopia pada anak di Indonesia juga menunjukkan tren peningkatan.

Dari Data Kemenkes, sebanyak 3,6 juta anak Indonesia mengalami kelainan refraksi miopia, dan jumlah ini diperkirakan terus meningkat.

Pertambahan ukuran minus pada masa anak-anak dapat terus terjadi sejalan dengan masa pertumbuhan yang dapat menyebabkan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi seperti kelainan retina, glaukoma, dan katarak.

“Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian Brien Holden disebutkan bahwa pada tahun 2050, prevalensi mereka yang mengalami miopia akan mencapai 50% dari keseluruhan populasi penduduk dunia dan terjadi pada anak usia sekolah. Karenanya lensa Ortho-K, merupakan salah satu pilihan untuk mereka yang mengalami miopia selain berbagai terapi lainnya,” jelasnya.

Mengenal terapi Orthokeratology untuk miopia atau rabun jauhdok. Menicon Indonesia Mengenal terapi Orthokeratology untuk miopia atau rabun jauhMelihat urgensi tersebut, edukasi mengenai teknologi ini terus digencarkan. Dalam rangka 75 tahun Menicon Group, Menicon Indonesia berkolaborasi dengan PERDAMI (Persatuan Dokter Mata Indonesia) menyelenggarakan seminar luring bertajuk Unlocking yang berlangsung di Nuanu Creative City.

Kegiatan ini juga didukung oleh PT. Berjaya Mandirin Opto-Medic dan dihadiri puluhan dokter spesialis mata dari berbagai daerah di Indonesia, baik secara langsung maupun daring.

Dalam kesempatan yang sama, Marketing Manager Menicon Indonesia Carolina Fenny menambahkan, Menicon Vision Care (Menicon Indoensia) memanfaatkan momentum 75 thn Menicon Group, untuk memperkenalkan lensa Orthokeratology yang terbuat dari material rigid gas permeable dengan transmisi oksigen tinggi, serta menggunakan desain reverse geometry, yang diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan terapi koreksi penglihatan yang inovatif bagi masyarakat.

“Melalui kolaborasi ini, diharapkan pemahaman tenaga medis terhadap Ortho-K semakin meningkat, sehingga terapi ini dapat menjadi alternatif yang aman dan efektif bagi masyarakat Indonesia, khususnya dalam mengatasi miopia yang terus meningkat,” pungkasnya.

Baca juga: Mata Minus pada Anak Sering Tak Disadari Orangtua, Ketahui Bahayanya

Tag:  #mengenal #orthokeratology #terapi #lensa #kontak #malam #hari #untuk #koreksi #rabun #jauh

KOMENTAR