Virus Influenza Strain Yamagata Menghilang, Komposisi Vaksin Diubah
Ilustrasi vaksin(FREEPIK)
09:42
5 Mei 2026

Virus Influenza Strain Yamagata Menghilang, Komposisi Vaksin Diubah

- Pemantauan penyebaran virus influenza di seluruh dunia terus dilakukan secara ketat oleh para pakar untuk mendeteksi perubahan signifikan pada strain virus yang aktif menginfeksi manusia.

Perubahan sirkulasi virus ini mengharuskan formula vaksin beradaptasi dari empat strain (quadrivalent) menjadi tiga (trivalent).

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI mengatakan, langkah ini merupakan penyesuaian ilmiah agar perlindungan antibodi yang diberikan tepat sasaran sesuai dengan ancaman kesehatan yang nyata.

"Perubahan dari vaksin quadrivalent ke trivalent bukan pengurangan kualitas, ini adalah penyesuaian ilmiah berdasarkan evidence yang benar-benar beredar saat ini," kata dia dalam media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Baca juga: Vaksin Influenza Trivalen Jadi Rekomendasi Baru WHO, Ini Penjelasannya

Ada strain virus yang telah menghilang

Melalui Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS), World Health Organization (WHO) memantau pergerakan virus secara harian di tingkat global.

Data dari pantauan ekstensif ini mengonfirmasi bahwa virus influenza B garis keturunan Yamagata sudah tidak lagi bersirkulasi secara alami di belahan bumi manapun sejak Maret 2020.

Menghilangnya strain Yamagata ini diduga kuat merupakan efek sekunder dari berbagai langkah mitigasi pandemi COVID-19 yang secara masif memutus rantai penularan virus.

"Ini Yamagata tidak ada. Sampai empat tahun ini. Jadi vaksinnya dibikinlah trivalen," kata dr. Sukamto.

Keputusan WHO untuk menghapus komponen Yamagata dari peredaran vaksin diambil setelah melewati masa penelitian dan observasi bertahun-tahun.

Keberadaan komponen virus yang sudah musnah di alam dianggap tidak lagi memberikan nilai tambah pada efektivitas perlindungan antibodi. Alhasil, lanjut dr. Sukamto, penghapusannya dinilai sangat logis demi optimalisasi vaksin.

Baca juga: Virus Influenza Terus Bermutasi, Lindungi Tubuh dengan Vaksin Flu

Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Vidi Agiorno (kedua dari kiri), Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI (kedua dari kanan), dan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI (kanan), dalam media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Senin (4/5/2026).dok PT Kalbe Farma Tbk Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Vidi Agiorno (kedua dari kiri), Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI (kedua dari kanan), dan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI (kanan), dalam media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Senin (4/5/2026).

"Memasukkan galur (strain) yang sudah tidak beredar itu seperti memasang kunci untuk pintu yang sudah tidak ada," ujar dia.

Dokter Sukamto menerangkan, perubahan komposisi dalam pembuatan vaksin influenza adalah sesuatu yang wajar.

Bahkan, sepanjang sejarah produksinya sejak tahun 1989, komposisi vaksin influenza tercatat telah mengalami 53 kali perubahan untuk merespons mutasi dan pergeseran dominasi virus di alam.

Baca juga: Super Flu Masuk Indonesia, Vaksin Influenza Tahunan Jadi Kunci Perlindungan

Pemangkasan jumlah strain ini juga memberikan keuntungan lain berupa peningkatan efisiensi kapasitas produksi vaksin dunia.

"Berdasarkan penelitian, penyelidik terus berhitung dulu ya, jadi enggak gampang. 'Wah rangka trivalent harga lebih murah', enggak bukan itu," tambah Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI.

Keamanan dan kemanjuran yang setara

Berkurangnya satu jenis virus dalam kandungan vaksin sempat memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat akan turunnya kualitas perlindungan.

Padahal, penelitian membuktikan bahwa vaksin trivalent ini sama manjur dan amannya dengan vaksin quadrivalent sebelumnya.

"Pembentukan antibodinya, baik yang trivalent maupun quadrivalent, itu tidak berbeda," kata dr. Sukamto.

Baca juga: 5 Fakta tentang Superflu, Influenza dengan Penularan Cepat

Hal ini diperkuat oleh penelitian yang melibatkan lebih dari 5.800 anak sehat di sembilan negara. Kemampuan vaksin trivalen dalam membentuk kekebalan tubuh terbukti tidak kalah saing dan sama kuatnya.

Selain itu, profil keamanan vaksin dengan tiga strain ini juga telah melalui metode pengujian ketat dengan membandingkannya terhadap plasebo berupa cairan garam fisiologis.

Keluhan efek samping sistemik maupun reaksi di lokasi suntikan berada pada tingkat yang serupa dan sangat bisa ditoleransi oleh tubuh manusia.

Pembaruan ini menurut dr. Sukamto dan dr. Iris, menjadikan tata laksana vaksinasi global sangat dinamis dan responsif terhadap fluktuasi lingkungan.

"Yang harus jadi fokus kita hari ini dan yang akan datang bukan strain dalam vaksin, tapi seberapa banyak masyarakat Indonesia yang sudah divaksinasi," pungkas dr. Sukamto.

Baca juga: Vaksin Flu Bisa Kurangi Risiko Serangan Jantung dan Stroke, Ini Temuannya

Tag:  #virus #influenza #strain #yamagata #menghilang #komposisi #vaksin #diubah

KOMENTAR