Mengapa Hantavirus Bisa Mematikan? Ini Penjelasan Epidemiolog
Kemunculan kasus Hantavirus di kapal pesiar yang tengah berlayar di wilayah Argentina belakangan memicu pertanyaan publik.
Salah satunya, seberapa berbahaya virus ini dan mengapa disebut bisa mematikan.
Epidemiolog dari Griffith University, Dr. Dicky Budiman, PhD menjelaskan bahwa hantavirus merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia.
Reservoir utama virus ini adalah hewan pengerat, terutama tikus liar. Penularan paling sering terjadi ketika manusia menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus.
“Yang perlu dipahami, hantavirus umumnya bukan menyebar dari manusia ke manusia, melainkan dari lingkungan yang terkontaminasi,” ujar Dr. Dicky saat dihubungi Kompas.com, Kamis (7/5/2026).
Meski penularannya tidak semudah Covid-19, hantavirus tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gangguan serius pada tubuh, terutama paru-paru.
Baca juga: Hantavirus Tak Mudah Jadi Pandemi seperti Covid-19, Ini Penjelasan Epidemiolog
Mengapa hantavirus bisa mematikan?
Dr. Dicky menjelaskan, hantavirus dapat memicu kerusakan pembuluh darah dan kebocoran cairan di paru-paru.
Kondisi ini membuat cairan masuk ke jaringan paru sehingga mengganggu proses pernapasan.
Pada tahap awal, pasien biasanya mengalami gejala mirip flu, seperti demam, nyeri otot, tubuh lemas, mual, dan sakit kepala. Namun dalam beberapa hari, kondisi dapat memburuk dengan cepat.
“Pasien bisa mengalami sesak napas berat, paru-paru terisi cairan, kadar oksigen turun drastis hingga syok,” kata dia.
Dalam dunia medis, kondisi tersebut menyerupai ARDS atau acute respiratory distress syndrome, yaitu gangguan pernapasan akut yang membuat paru-paru tidak mampu memasok oksigen secara optimal ke tubuh.
Menurut Dr. Dicky, fatalitas kasus berat hantavirus dapat mencapai sekitar 40 persen, terutama bila diagnosis terlambat atau pasien tidak segera mendapatkan perawatan intensif.
Ia menegaskan, yang membuat penyakit ini berbahaya bukan hanya virusnya, tetapi juga respons inflamasi tubuh yang sangat berat dan terjadi secara cepat.
Apakah hantavirus bisa jadi pandemi?
Meski terdengar mengkhawatirkan, Dr. Dicky menilai kemungkinan hantavirus berkembang menjadi pandemi global seperti Covid-19 sangat kecil.
Hal ini karena reservoir utama virus tetap berasal dari tikus, bukan manusia. Selain itu, penularan antarmanusia juga sangat terbatas dan tidak seefisien virus pernapasan seperti SARS-CoV-2 atau influenza.
Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan iklim, urbanisasi, kerusakan ekosistem, hingga meningkatnya interaksi manusia dengan hewan liar tetap dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit zoonosis baru.
“Ancaman hantavirus lebih berupa outbreak sporadis dengan fatalitas tinggi, bukan pandemi global yang menyebar cepat,” ujar dia.
Baca juga: Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Ini Penyebab dan Cara Penularannya
Cara mencegah hantavirus
Untuk menekan risiko penularan, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus di rumah maupun tempat kerja.
Selain itu, gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan gudang, area lembap, atau lokasi yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus.
Masyarakat juga diminta waspada bila mengalami demam, nyeri otot, atau gangguan pernapasan setelah terpapar lingkungan dengan sanitasi buruk.
“Waspada tetap penting, tetapi jangan panik berlebihan. Yang utama adalah menjaga kebersihan lingkungan dan mencari informasi dari sumber yang kredibel,” kata Dr. Dicky.
Tag: #mengapa #hantavirus #bisa #mematikan #penjelasan #epidemiolog