Penggunaan Inhaler Asma Sebabkan Ketergantungan, Mitos atau Fakta?
Ilustrasi inhaler untuk meredakan gejala serangan asma.(SHUTTERSTOCK/Antonio Guillem)
17:12
7 Mei 2026

Penggunaan Inhaler Asma Sebabkan Ketergantungan, Mitos atau Fakta?

- Bagi sebagian penyandang asma, menjalani terapi pengobatan secara rutin kerap menghadirkan kekhawatiran tersendiri.

Di tengah masyarakat, masih banyak yang beranggapan bahwa metode pengobatan yang benar dan afdal harus selalu melalui cara menelan pil atau meminum obat cair.

Akibatnya, pemakaian obat hirup atau inhaler kerap dihindari karena adanya ketakutan yang keliru bahwa penggunaannya setiap hari akan memicu ketergantungan.

Baca juga: Asma pada Anak Bisa Pengaruhi Fungsi Paru saat Dewasa, Ini Kata Dokter

Namun, anggota Tim Ilmiah Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Pusat Dr. dr. Susanthy Djajalaksana, Sp.P(K), FISR, menegaskan, mitos ini tidak berdasar.

Mitos tersebut juga berpotensi besar menghambat proses pengendalian penyakit dan justru membahayakan keselamatan kamu saat serangan sesak napas terjadi.

Meluruskan mitos ketagihan inhaler pada penyandang asma

Inhaler adalah kebutuhan medis, bukan bentuk adiksi

Tantangan terbesar dalam mengedukasi penyandang asma di berbagai fasilitas kesehatan adalah mengubah stigma buruk tentang pemakaian inhaler.

Pasien sering kali merasa ragu dan menolak resep obat hirup karena merasa takut tidak bisa lepas dari alat tersebut.

"Itu suatu kebutuhan, bukan ketagihan. Kebutuhan sesuai dengan kondisi badan seseorang," kata dr. Susanthy dalam konferensi pers PDPI beberapa waktu lalu.

Konotasi ketagihan selama ini selalu dikaitkan dengan hal yang buruk dan seolah-olah merusak fungsi alami organ.

Menurut dia, pandangan negatif ini harus segera diluruskan ke arah medis, mengingat setiap manusia pada dasarnya memiliki takaran biologis yang berbeda-beda untuk bisa beraktivitas dengan nyaman.

"Kebutuhan seseorang, baik itu makan dalam porsi yang sekian dan sebagainya (atau penggunaan inhaler), adalah yang disesuaikan dengan badannya masing-masing," ujar dr. Susanthy.

Pada penyandang asma yang sering mengalami kekambuhan, penggunaan inhaler merupakan cara paling aman dan efektif untuk merawat organ pernapasan.

Baca juga: Waspadai Serangan Asma pada Anak, Ini Ciri dan Cara Mengatasinya

Jika asma kamu stabil, kamu mungkin tidak akan selalu memerlukan intervensi obat secara harian.

Namun, bagi saluran pernapasan yang rentan menyempit, inhaler menjadi penunjang kehidupan yang esensial, sama sekali bukan bentuk adiksi.

Memahami mekanisme peradangan pada saluran napas

Sangat penting bagi kamu untuk memahami mekanisme kerja inhaler karena serangan asma umumnya dipicu oleh proses peradangan kronis.

Kondisi ini menyebabkan pembengkakan pada dinding saluran napas dan produksi lendir berlebih yang membuat jalan napas menyempit.

Penyumbatan ini secara langsung mengurangi kemampuan paru-paru untuk menghirup oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh untuk bertahan hidup.

"Serangan asma melibatkan penyumbatan saluran napas di paru yang mengurangi kemampuan seseorang untuk menghirup oksigen yang menopang kehidupan ke dalam tubuh," jelas dr. Susanthy.

Bagi orang dengan kondisi paru-paru sehat, proses bernapas mungkin terasa seperti aktivitas biasa yang berjalan otomatis.

Namun, bagi penyandang asma yang sedang mengalami eksaserbasi, penyempitan akibat peradangan ini bisa menjadi pengalaman yang menyiksa.

Selain mengancam keselamatan fisik secara langsung, frekuensi serangan asma yang tidak terkendali juga terbukti sangat mengganggu kualitas hidup penderita.

Kondisi ini secara otomatis akan membatasi produktivitasmu saat bekerja atau belajar sehari-hari, hingga berimbas pada penambahan beban kecemasan bagi pihak keluarga di rumah.

Pentingnya obat pengontrol untuk mencegah serangan berulang

Banyak pasien yang masih salah kaprah dengan sekadar mengandalkan obat pelega instan yang hanya mengatasi penyempitan sementara.

Obat jenis ini, seperti salbutamol atau terbutalin, memang bisa dengan cepat melonggarkan jalan napas saat kamu sesak.

Namun, efeknya hanya bertahan sesaat dan sama sekali tidak mengobati akar permasalahannya, yaitu peradangan yang masih terus aktif membengkak di dalam saluran paru-paru kamu.

Baca juga: Anak Asma Perlu Hindari Cokelat dan MSG, Ini Penjelasan Dokter...

Padahal, peradangan di dalam paru-paru harus ditekan dengan obat pengontrol khusus yang mengandung kortikosteroid inhalasi agar tidak memicu kekambuhan yang lebih parah.

Penggunaan inhaler anti-inflamasi secara rutin dirancang untuk meredam sensitivitas saluran napas dan menurunkan risiko serangan asma berat yang berujung pada rawat inap.

"Obat yang mengandung kortikosteroid inhalasi inilah yang mampu mencegah serangan asma berikutnya, dengan mengatasi peradangan yang mendasari penyebab asma," tutur dr. Susanthy.

Tag:  #penggunaan #inhaler #asma #sebabkan #ketergantungan #mitos #atau #fakta

KOMENTAR