5 Fakta tentang Hantavirus, dari Penularan hingga Risiko di Indonesia
Perkembangan terbaru wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menunjukkan proses evakuasi pasien mulai dilakukan pada Rabu (6/5/2026). Saat dibawa ke ambulans, pasien sudah dibekali dengan baju tertutup rapat.(WHO)
19:18
8 Mei 2026

5 Fakta tentang Hantavirus, dari Penularan hingga Risiko di Indonesia

Hantavirus menjadi sorotan setelah muncul laporan wabah yang dikaitkan dengan kapal pesiar MV Hondius dan menyebabkan sejumlah kasus infeksi hingga kematian.

Kasus tersebut memicu perhatian dunia karena hantavirus dikenal sebagai penyakit zoonosis yang dapat menyebabkan gangguan paru berat dan berisiko fatal.

Meski demikian, epidemiolog dari Griffith University, Dr. Dicky Budiman, PhD mengatakan bahwa risiko hantavirus menjadi pandemi global seperti Covid-19 masih sangat kecil.

"Tapi secara umum penularan hantavirus itu berbeda jauh dengan COVID-19. Tidak semudah COVID-19," kata Dr. Dicky kepada Kompas.com, Kamis (7/5/2026).

Berikut lima fakta tentang hantavirus yang perlu diketahui masyarakat:

1. Hantavirus disebabkan oleh virus dari hewan pengerat

Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang reservoir utamanya berasal dari hewan pengerat, terutama tikus liar.

Menurut Dr. Dicky, virus ini pertama kali ditemukan di Korea Selatan pada 1976 dan namanya diambil dari Sungai Hantan.

Penularan ke manusia paling sering terjadi saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.

Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui kontak dengan permukaan yang terkontaminasi, meski kasus akibat gigitan tikus relatif lebih jarang.

"Nah, kalau di Indonesia juga ditemukan di tikus got atau tikus rumah, yang paling rawan di wilayah pelabuhan dan area dengan sanitasi buruk," jelasnya.

Baca juga: Singapura Isolasi 2 Warga Terkait Klaster Hantavirus MV Hondius

Dr. Dicky menjelaskan bahwa secara umum hantavirus berbeda dengan Covid-19 karena tidak mudah menular dari manusia ke manusia.

Sebagian besar kasus hantavirus terjadi akibat paparan lingkungan yang tercemar tikus terinfeksi, bukan karena kontak dengan pasien.

"Penularan ke manusia itu paling sering terjadi malah karena si manusia ini menghirup partikel udara (aerosol) yang berasal dari urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi hantavirus dan sudah bercampur dengan debu di udara," jelasnya.

Namun, investigasi terhadap kasus kapal pesiar MV Hondius masih berlangsung untuk memastikan kemungkinan keterlibatan strain Andes, jenis hantavirus langka yang pernah terbukti dapat menular antarmanusia dalam kontak sangat dekat dan terbatas.

Meski begitu, kemampuan penularannya tetap jauh lebih rendah dibanding virus pernapasan seperti SARS-CoV-2 atau influenza.

3. Kasus kapal pesiar MV Hondius jadi sorotan dunia

Wabah hantavirus yang dikaitkan dengan kapal pesiar MV Hondius kini menjadi perhatian internasional.

Dikutip dari AP News, Jumat (8/6/2026), para penumpang diketahui telah turun dari kapal pesiar MV Hondius sebelum kasus pertama hantavirus teridentifikasi di kapal tersebut.

Mengutip Associated Press, otoritas kesehatan di sejumlah negara kini berusaha melacak orang-orang yang sempat melakukan kontak dengan para penumpang setelah pelayaran berakhir.

Sementara itu, kematian pertama terkait wabah di MV Hondius dilaporkan terjadi pada 11 April 2026. Korban merupakan seorang penumpang pria asal Belanda berusia 70 tahun.

Kasus ini menjadi sorotan karena muncul dugaan keterlibatan strain Andes yang langka.

Meski demikian, para ahli menilai risiko wabah ini berkembang menjadi pandemi global masih sangat kecil.

4. Gejalanya dan cara mencegah hantavirus

Pada tahap awal, gejala hantavirus umumnya menyerupai infeksi virus biasa, seperti demam, nyeri otot, lemas, mual, dan sakit kepala.

Namun dalam beberapa hari, kondisi pasien bisa berkembang menjadi sesak napas berat akibat paru-paru dipenuhi cairan.

Dalam dunia medis, kondisi tersebut menyerupai acute respiratory distress syndrome (ARDS), yakni gangguan paru serius yang menyebabkan kadar oksigen tubuh turun drastis.

Menurut Dr. Dicky, tingkat kematian pada kasus berat dapat mencapai sekitar 40 persen, terutama jika diagnosis terlambat atau fasilitas ICU terbatas.

Untuk mencegah penularan, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus di rumah, serta menghindari kontak langsung dengan kotoran tikus.

Penggunaan masker dan sarung tangan saat membersihkan area berdebu atau kotor juga dianjurkan, terutama di wilayah rawan banjir dan sanitasi buruk.

Baca juga: Mengapa Hantavirus Bisa Mematikan? Ini Penjelasan Epidemiolog

Hantavirus dapat dicegah dengan menjaga kebersihan rumah dan menghindari paparan kotoran tikus. Ini saran epidemiolog.freepik Hantavirus dapat dicegah dengan menjaga kebersihan rumah dan menghindari paparan kotoran tikus. Ini saran epidemiolog.

5. Risiko penularan di Indonesia masih rendah

Dr. Dicky menilai risiko hantavirus bagi masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah.

Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena Indonesia memiliki beberapa faktor risiko, seperti populasi tikus yang tinggi, banjir musiman, sanitasi perkotaan, hingga kepadatan pelabuhan dan pergudangan.

Kelompok yang dinilai lebih rentan antara lain petugas kebersihan, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, dan masyarakat yang sering terpapar lingkungan kotor.

Selain itu, hantavirus juga dinilai berpotensi sulit terdeteksi karena gejalanya mirip dengan penyakit lain seperti leptospirosis, demam berdarah dengue, atau pneumonia berat.

Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada tanpa panik dan mengandalkan informasi dari sumber yang kredibel terkait perkembangan hantavirus.

Tag:  #fakta #tentang #hantavirus #dari #penularan #hingga #risiko #indonesia

KOMENTAR