Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi (Suara.com/Dinda)
11:40
23 Mei 2026

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Merasa sehat bukan berarti bebas dari risiko stroke atau serangan jantung. Pesan itu terasa kuat dari kisah dua figur publik Indonesia, Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik, yang sama-sama mengalami kondisi serius secara tiba-tiba meski merasa menjalani hidup sehat.

Iwet Ramadhan mengaku sempat tidak menyangka dirinya bisa terkena stroke. Sebagai sosok yang aktif berolahraga dan menjaga pola hidup, ia merasa tubuhnya baik-baik saja. Namun, stres yang terus menumpuk diam-diam bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatannya.

“Kalau saya yang merasa sehat saja bisa terkena stroke, berarti siapa pun harus lebih waspada. Jangan tunggu gejala datang, cek kesehatan secara rutin itu penting,” ujar Iwet.

Setelah mengalami stroke, Iwet mulai mengubah banyak hal dalam hidupnya. Ia tetap menjaga rutinitas olahraga, bahkan kini menambahkan latihan angkat beban selain lari. Pola makan juga semakin diperhatikan dengan lebih mindful terhadap apa yang dikonsumsi setiap hari.

Namun, perubahan terbesar justru terjadi pada cara ia mengelola stres. Iwet menyadari selama ini dirinya terbiasa memendam emosi dan berusaha terlihat baik-baik saja. Kini, ia memilih lebih jujur terhadap apa yang dirasakan.

“Dulu aku tipe yang mendem kalau ada apa-apa. Setelah stroke, enggak lagi. Kalau enggak suka ya bilang enggak suka, kalau enggak bisa ya bilang enggak bisa,” katanya.

Ia juga mulai belajar menerima hal-hal yang berada di luar kendali hidupnya. Menurutnya, stres sering muncul ketika kenyataan tidak sesuai harapan.

“Aku mencoba lebih berserah. Ketika ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai keinginan, aku tanya dulu ke diri sendiri, ini bisa diatasi atau tidak. Kalau memang tidak bisa, ya sudah let it go,” ujarnya.

Pengalaman serupa juga dialami Dave Hendrik. Aktor, penulis, MC, dan penyiar radio itu mengaku serangan jantung datang tanpa tanda yang ia sadari sebelumnya. Dari pengalaman tersebut, Dave kini menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama.

“Kita sering merasa baik-baik saja, sampai akhirnya terlambat sadar. Dari pengalaman saya, memantau kesehatan secara rutin bisa jadi langkah sederhana yang sangat berarti,” kata Dave.

Kini, Dave menerapkan tiga kebiasaan yang menurutnya tidak bisa lagi ditawar dalam hidup: makan bergizi, olahraga, dan tidur cukup.

“Tiga hal yang tidak bisa ditawar saat ini dalam hidup saya adalah makan bergizi, olahraga, dan tidur cukup. Jam 9 atau 10 malam saya sudah berusaha tidur,” ujarnya.

Kisah Iwet dan Dave menjadi gambaran nyata bagaimana penyakit kardiovaskular bisa menyerang siapa saja, termasuk mereka yang terlihat sehat dan aktif. Salah satu faktor risiko terbesar di balik stroke dan serangan jantung adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi yang kerap hadir tanpa gejala.

Bahaya Hipertensi

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Pada 2021, angka kematian akibat stroke mencapai 140,8 per 100.000 penduduk, disusul penyakit jantung iskemik sebesar 90,4 per 100.000 penduduk. Ironisnya, banyak penderita hipertensi tidak menyadari kondisinya sampai komplikasi serius terjadi.

Menurut Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), Dr. Eka Harmeiwaty, hipertensi memang sering tidak menimbulkan gejala, tetapi dampaknya sangat berbahaya.

“Hipertensi sering tidak bergejala, tetapi dampaknya bisa sangat serius, termasuk komplikasi stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, kebutaan, dan kepikunan,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya pengukuran tekanan darah yang benar dan akurat, termasuk pemeriksaan mandiri di rumah menggunakan alat yang telah tervalidasi klinis.

Dr. Eka juga mengingatkan bahwa hipertensi sering berkaitan dengan gangguan irama jantung atrial fibrillation (AFib), kondisi yang meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat. Karena sifat AFib yang bisa muncul dan hilang, pemantauan rutin menjadi sangat penting untuk deteksi dini.

Kesadaran inilah yang kemudian mendorong Omron Healthcare Indonesia meluncurkan Tensimeter Seri EZ & IQ di Indonesia dalam momentum Hari Hipertensi Sedunia.

Menurut Director Omron Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, inovasi terbaru ini dirancang agar masyarakat lebih mudah memantau tekanan darah dari rumah.

“Melalui Tensimeter Seri EZ & IQ, kami ingin memberikan kemudahan bagi masyarakat Indonesia untuk memantau tekanan darah secara akurat, cepat, dan nyaman dari rumah,” ujarnya.

Seri EZ ditujukan bagi pengguna yang membutuhkan tensimeter praktis dengan pengoperasian satu sentuhan dan teknologi IntelliSense untuk pengukuran yang cepat dan nyaman. Seri ini juga lebih hemat energi dibanding generasi sebelumnya.

Sementara itu, Seri IQ hadir dengan fitur lebih canggih, termasuk layar lebih besar, manset yang lebih nyaman, serta teknologi IntelliSense AFib berbasis AI yang membantu mendeteksi indikasi atrial fibrillation dalam setiap pengukuran tekanan darah.

Inovasi ini menjadi relevan di tengah meningkatnya kasus hipertensi dan penyakit ginjal kronis pada usia produktif. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan kelompok usia 25–34 tahun juga mulai banyak menjalani hemodialisis atau cuci darah, dengan hipertensi sebagai salah satu penyebab utamanya.

Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, kisah Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik menjadi pengingat penting bahwa menjaga kesehatan tidak cukup hanya merasa sehat. Tubuh sering memberi sinyal yang halus, sementara hipertensi dapat berkembang diam-diam sebagai silent killer.

Karena itu, langkah sederhana seperti rutin mengecek tekanan darah di rumah, menjaga pola makan, aktif bergerak, tidur cukup, dan mengelola stres bisa menjadi investasi besar untuk mencegah stroke maupun serangan jantung di masa depan.

Editor: Dinda Rachmawati

Tag:  #merasa #sehat #bisa #menipu #cerita #iwet #ramadhan #dave #hendrik #jadi #peringatan #bahaya #hipertensi

KOMENTAR