Niat Saja Tak Cukup, Dokter Sebut Berhenti Merokok Butuh Pendampingan Medis dan Terapi
Ilustrasi berhenti merokok.(SHUTTERSTOCK/Nopphon_1987)
19:30
5 Juni 2026

Niat Saja Tak Cukup, Dokter Sebut Berhenti Merokok Butuh Pendampingan Medis dan Terapi

- Banyak orang mengira, kunci utama berhenti merokok adalah kemauan yang kuat. Oleh sebab itu, jika ada yang gagal berhenti merokok, maka akan dianggap tak memiliki tekad dan niat yang kuat.

Padahal sebenarnya, ketergantungan pada rokok bukan sekadar kebiasaan buruk yang bisa dihentikan begitu saja. Pasalnya, ketergantungan ini merupakan bentuk adiksi kronis yang melibatkan perubahan fungsi pada sistem saraf di otak.

Bukan hanya rokok konvensional, rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan vape juga mengandung nikotin, yakni zat adiktif yang berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan serius, termasuk kanker paru dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Karena itu, upaya berhenti merokok sering kali tak bisa hanya dengan niat dan kemauan.

Baca juga: Pengaruh Teman Sebaya Jadi Penyebab Remaja Sulit Berhenti Merokok

Mengapa Berhenti Merokok Sangat Sulit?

Penasihat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)., MHPM., FISR., FAPSR, menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat berhenti merokok adalah munculnya gejala putus nikotin atau withdrawal syndrome.

Menurutnya, nikotin yang dihirup melalui rokok dapat mencapai reseptor otak α4β2 hanya dalam waktu sekitar 10 detik. Zat ini kemudian memicu pelepasan dopamin, senyawa yang menimbulkan rasa nyaman dan senang.

"Ketika otak seorang perokok melepaskan dopamin, muncul rasa nyaman yang ingin didapatkan kembali. Karena itu, ia akan merokok dengan jumlah lebih banyak hingga mencapai tingkat toleransi tertentu, sampai efek dopamine release-nya dirasakan,” jelas Prof. Agus dalam acara Konferensi Pers Peluncuran Kampanye #SehatTanpa Rokok di Hotel JW Marriott, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang bisa membuat kita mendapatkan dopamin, misalnya saat menerima hadiah. Namun bagi seorang perokok, tanpa hadiah, rokok pun sudah cukup memberikan rasa nyaman yang dihasilkan dopamine.

Akibatnya, ketika seseorang mencoba berhenti merokok, tubuh akan bereaksi karena kehilangan pasokan nikotin yang selama ini diterima secara rutin.

Gejala Putus Nikotin Bisa Menyiksa

Masalahnya, gejala putus nikotin dapat muncul dalam berbagai bentuk, baik fisik maupun psikologis. Beberapa di antaranya adalah:

- Stres dan mudah marah
- Sulit berkonsentrasi
- Gangguan tidur atau insomnia
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Dorongan kuat untuk kembali merokok

Kondisi inilah yang membuat banyak orang kembali merokok, meski sebenarnya sudah memiliki keinginan kuat untuk berhenti.

Baca juga: Bukan Vape, Ini Cara Berhenti Merokok yang Terbukti Ampuh

Oleh sebab itu, menurut Prof. Agus, keberhasilan berhenti merokok memerlukan pendekatan yang komprehensif.

"Keberhasilan berhenti merokok adalah kombinasi mengatasi adiksi, withdrawal, behavior (perilaku), dan environmental factor (faktor lingkungan). Dan biasanya multimodality menjadi sebuah kunci," tegasnya.

Niat Saja Seringkali Tidak Cukup

Dalam kesempatan yang sama, praktisi kesehatan yang juga mantan perokok dr. Tirta Mandira Hudhi mengungkap, dirinya memutuskan berhenti merokok setelah menyadari tubuhnya mengalami penurunan kualitas kesehatan fisik yang drastis.

“Saya dulu perokok dari SMP kelas 3, lalu di tahun 2022 berhenti karena saat dicek VO2 max saya Cuma 34. Akhirnya saya stop total pakai metode cold turkey. Saya benar-benar Latihan fisik, angkat beban bisa4-5 kali per minggu, lari, renang, sepedaan, semua saya lakukan,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengaku setiap orang punya kondisi berbeda. Seringkali niat dan tekad berhenti merokok kalah oleh withdrawal syndrome.

“Banyak perokok sebenarnya sudah memiliki niat untuk berhenti. Namun, niat tersebut sering kali kalah oleh dampak fisik dan psikologis yang muncul ketika tubuh kehilangan nikotin. Perokok memang butuh solusi terukur, bukan sekadar imbauan," tegasnya.

Peran Nicotine Replacement Therapy (NRT)

Salah satu metode yang telah terbukti secara ilmiah membantu proses berhenti merokok adalah Nicotine Replacement Therapy (NRT). Terapi ini bekerja dengan memberikan nikotin dalam dosis yang lebih terkontrol tanpa paparan ribuan zat berbahaya yang terdapat dalam asap rokok.

NRT tersedia dalam berbagai bentuk, salah satunya permen karet nikotin (nicotine gum). Penggunaannya dapat membantu mengurangi gejala putus nikotin sekaligus menekan keinginan untuk merokok kembali.

Menurut dr. Tirta, kombinasi antara tekad yang kuat dan metode berbasis sains seperti NRT dapat meningkatkan peluang keberhasilan berhenti merokok secara signifikan.

Baca juga: Upaya Berhenti Merokok Tak Harus Sendiri, BPOM Soroti Peran Terapi Nikotin

Pentingnya Memilih Produk yang Legal dan Teruji

Selain efektivitas terapi, aspek keamanan juga menjadi perhatian penting. Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, dr. William Adi Teja, MD., BMed., MMed., menekankan pentingnya memilih produk terapi yang telah memiliki izin edar resmi.

"Dalam konteks pengendalian zat adiktif, kehadiran produk terapi yang berstandar medis dan memiliki izin edar resmi dari BPOM memberikan kepastian keamanan bagi masyarakat yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan," jelasnya.

Dengan demikian, masyarakat dianjurkan menggunakan terapi yang telah melalui proses evaluasi keamanan, mutu, dan manfaat oleh regulator.

Kolaborasi untuk Kampanye #SehatTanpaRokok

Sinergi Guardian, Kenvue, dan Kementerian Kesehatan dalam Peluncuran Kampanye Nasional #SehatTanpaRokokKOMPAS.com Sinergi Guardian, Kenvue, dan Kementerian Kesehatan dalam Peluncuran Kampanye Nasional #SehatTanpaRokokMarketing Director Kenvue Indonesia, Fika Yolanda, menegaskan komitmen Kenvue untuk mendukung upaya pemerintah menurunkan prevalensi perokok di Indonesia melalui edukasi dan akses terhadap terapi berhenti merokok.

"Kami ingin memastikan setiap individu yang berniat berhenti merokok, mendapatkan pendampingan yang tepat serta akses terhadap solusi medis yang terbukti secara ilmiah," ujar Fika.

Ia menuturkan, dukungan tersebut telah diwujudkan melalui pelatihan tenaga kesehatan, edukasi masyarakat, kampanye layanan publik bersama Kemenkes dan PDPI, serta perluasan akses produk terapi melalui jaringan Guardian.

Sebagai upaya memperluas akses terhadap layanan berhenti merokok, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) berkolaborasi dengan Kenvue dan Guardian Indonesia meluncurkan kampanye nasional #SehatTanpaRokok.

Kolaborasi lintas sektor ini bertujuan mempermudah masyarakat memperoleh bantuan untuk mengatasi ketergantungan nikotin, mulai dari edukasi hingga akses terhadap terapi yang sesuai.

Inisiatif tersebut juga mendukung layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) di fasilitas kesehatan seperti puskesmas, serta menyediakan akses terhadap produk farmakoterapi resmi, termasuk Nicorette®, di gerai Guardian di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagai bagian dari kampanye tersebut, Kenvue juga menggelar Workshop Upaya Berhenti Merokok (UBM) yang diikuti 150 tenaga kesehatan, terdiri dari konselor Klinik UBM Puskesmas serta apoteker dan staf Guardian.

Pelatihan ini mencakup kebijakan UBM, dampak medis rokok, penggunaan farmakoterapi dan non-farmakoterapi, hingga teknik wawancara motivasional bagi pasien dengan adiksi nikotin.

Baca juga: Berhenti Merokok Bisa Dimulai dari Mengurangi atau Menunda, Ini Kata Dokter

Commercial Director Guardian Indonesia, Karlina Elisabet Wirian menegaskan, pihaknya akan berkomitmen membantu masyarakat memperoleh akses terhadap informasi dan pendampingan kesehatan yang terpercaya.

Menurutnya, proses berhenti merokok merupakan perjalanan yang membutuhkan waktu dan dukungan berkelanjutan, sehingga penting untuk mendapatkan pendampingan dari tenaga kefarmasian.

"Melalui peran apoteker dan tenaga farmasi Guardian, kami ingin membantu masyarakat mendapatkan informasi yang akurat serta pendampingan yang tepat agar lebih percaya diri memulai perjalanan berhenti merokok," pungkasnya.

Tag:  #niat #saja #cukup #dokter #sebut #berhenti #merokok #butuh #pendampingan #medis #terapi

KOMENTAR