Merasa di Atas Angin, Iran Patok Harga Mahal ke AS Jika Mau Perang Berakhir
Presiden Iran Hassan Rouhani (tengah) dan pejabat tinggi militer lainnya saat menyaksikan Garda Revolusi Iran (IRGC) baris-berbaris dalam parade tahunan yang menandai pecahnya negara dengan Irak, di Teheran, 22 September 2019.(KANTOR KEPRESIDENAN IRAN via AFP)
13:12
21 Maret 2026

Merasa di Atas Angin, Iran Patok Harga Mahal ke AS Jika Mau Perang Berakhir

- Memasuki minggu ketiga peperangan, Iran memberikan sinyal kuat bahwa mereka merasa berada di posisi pemenang. 

Teheran kini berambisi untuk memaksakan penyelesaian konflik kepada Washington demi mengamankan dominasi sumber daya energi di Timur Tengah selama beberapa dekade ke depan.

Sikap percaya diri ini terlihat dari tuntutan yang diajukan Iran sebagai syarat berakhirnya perang, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Jumat (20/3/2026).

Selain menuntut ganti rugi besar-besaran dari Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, Iran mendesak pengusiran seluruh pasukan militer AS dari kawasan tersebut.

Baca juga: Iran Tembakkan 2 Rudal Balistik ke Pangkalan Gabungan AS-Inggris di Diego Garcia

Ambisi kendali Selat Hormuz

Salah satu poin paling krusial adalah ambisi Iran untuk mengubah status Selat Hormuz. 

Jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi minyak dunia itu rencananya akan dijadikan "pos penagihan tarif tol" oleh Teheran.

Anggota Dewan Kebijaksanaan Iran sekaligus penasihat pemimpin tertinggi bidang ekonomi, Mohammad Mokhber, mengungkapkan rencana untuk menetapkan status baru di sana yang mengharuskan setiap kapal yang melintas membayar biaya kepada Iran.

"Iran akan mengubah posisinya dari negara yang dijatuhi sanksi menjadi kekuatan yang lebih besar di kawasan dan dunia," ujar Mokhber kepada kantor berita Mehr. 

"Kami akan menjatuhkan sanksi kepada kekuatan arogan yang haus dominasi tersebut," lanjutnya.

Baca juga: Ngamuk-ngamuk Tak Dibantu Perangi Iran, Trump Sebut NATO Pengecut

Meskipun AS dan Israel mengeklaim telah menghancurkan banyak peluncur dan stok rudal, Iran terbukti masih memiliki kemampuan untuk meluncurkan puluhan rudal balistik dan drone setiap hari ke berbagai penjuru Timur Tengah.

Bahkan, intensitas serangan Iran dilaporkan meningkat dalam beberapa hari terakhir. 

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada instalasi energi di Qatar, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, sementara ekspor minyak Iran sendiri justru tetap melonjak.

Kondisi ini memberikan tekanan besar bagi Presiden AS Donald Trump untuk segera mengakhiri perang, terutama karena lonjakan harga minyak dan gas mulai membebani ekonomi global.

Analisis dari Dina Esfandiary, seorang pakar tentang Iran, menyebutkan bahwa Teheran merasa mendapatkan pelajaran penting. 

"Mereka bisa menyebabkan banyak kerusakan dan gangguan dengan cara yang relatif mudah dan murah. Sekarang, mereka ingin seluruh dunia mempelajari pelajaran itu juga," ungkapnya.

Baca juga: Usai Bikin Porak-poranda, Trump Umumkan Mau Cabut dari Iran

Tanggapan keras Washington dan Israel

Di sisi lain, AS dan Israel memberikan sinyal yang beragam. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa perang akan berakhir jauh lebih cepat dari yang diperkirakan orang. 

Senada dengan itu, Trump menyebut konflik akan selesai dalam waktu dekat, meski di saat yang sama Pentagon mengirim ribuan personel tambahan Marinir ke Timur Tengah.

Jason Greenblatt, mantan utusan khusus Gedung Putih untuk Timur Tengah, menilai sikap Iran sebagai bentuk kesombongan yang berbahaya.

Trump sendiri menegaskan melalui unggahan di Truth Social bahwa membuka kembali Selat Hormuz adalah manuver militer sederhana dengan risiko kecil. 

Namun, para ahli militer memperingatkan bahwa di era drone dan rudal antikapal, merebut kembali kendali selat tersebut tidaklah sesederhana itu, meski bukan hal yang mustahil.

Baca juga: Iran Rayakan Idul Fitri Sabtu 21 Maret, Lebaran di Tengah Kecamuk Perang

Risiko sejarah dan domestik

Asap hitam membubung saat ribuan orang menghadiri aksi Hari Quds untuk mendukung Palestina, pada Jumat terakhir bulan suci Ramadhan, di Teheran pada 13 Maret 2026.FARS/MOHAMMAD MAHDI DEHGHANI via AFP Asap hitam membubung saat ribuan orang menghadiri aksi Hari Quds untuk mendukung Palestina, pada Jumat terakhir bulan suci Ramadhan, di Teheran pada 13 Maret 2026.

Di sisi lain, analis meragukan keberlanjutan ambisi Iran. Sanam Vakil dari Chatham House menilai bahwa membiarkan Iran menguasai jalur strategis tersebut akan menjadi kegagalan kategoris bagi AS. 

Sementara itu, Robin Mills dari Qamar Energy menyebut kontrol Iran atas energi global tidak akan bisa diterima oleh negara-negara pelanggan besar seperti China, India, dan Jepang.

Pengamat dari Middle East Institute, Alex Vatanka, mengingatkan sejarah kaku Iran dalam berdiplomasi. 

Dia mencontohkan bagaimana Iran baru menyetujui gencatan senjata dengan Irak pada 1988, enam tahun setelah mereka berhasil membebaskan wilayahnya, yang mengakibatkan kehancuran dan korban jiwa yang jauh lebih besar.

"Sisi Iran memiliki sejarah tidak mengambil peluang, baik di garis depan diplomasi maupun militer," kata Vatanka.

Di tengah kecamuk perang, pengamat dari Sciences Po, Nicole Grajewski, mengingatkan bahwa konflik ini juga digunakan rezim untuk memperkuat posisi domestik. 

Baca juga: Update Perang di Timur Tengah: AS Kurangi Operasi, Iran Klaim Musuh Mulai Kalah

Tag:  #merasa #atas #angin #iran #patok #harga #mahal #jika #perang #berakhir

KOMENTAR