Perang AS - Iran Makin Parah, Donald Trump Lakukan Hal Tak Terduga Ini
Gedung Putih secara agresif menekan Uni Emirat Arab agar bersedia memimpin operasi darat berbahaya guna merebut wilayah strategis milik Teheran. Langkah ini diambil Washington sebagai strategi licik untuk mengamankan pasukan mereka sendiri dari risiko kematian di medan tempur Teluk.
Siasat ini membongkar bagaimana negara-negara Arab sekutu kini didorong menjadi tameng utama dalam eskalasi pertempuran yang pecah sejak akhir Februari lalu. Mantan pejabat tinggi pertahanan era Donald Trump membocorkan bahwa Abu Dhabi dipaksa mengambil alih garis depan pertempuran.
"Silakan ambil alih! Yang turun ke lapangan adalah pasukan UEA, bukan pasukan AS," kata eks pejabat tersebut dikutip dari Telegraph.
Presiden China, Xi Jinping, diperkirakan akan menekan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait isu Taiwan dan perang tarif dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di tengah memanasnya perang Iran. [istimewa]Sikap ofensif Washington ini muncul saat Abu Dhabi menderita kerugian paling parah akibat menjadi basis militer bagi pergerakan tentara Amerika Serikat. Wilayah udara mereka dihujani ribuan proyektil mematikan karena posisi geografisnya yang menampung aset penting milik Pentagon.
Pihak intelijen mencatat lebih dari 2.800 serangan udara telah menghantam objek vital di Uni Emirat Arab dalam rentang waktu yang sangat singkat. Gelombang gempuran masif tersebut memaksa para petinggi Abu Dhabi merombak total doktrin pertahanan nasional mereka secara drastis.
Dalam kepanikan menghadapi serangan, Uni Emirat Arab sempat mengemis bantuan militer kepada Riyadh dan Doha untuk membentuk koalisi serangan balasan. Namun, upaya diplomasi militer tersebut berujung kegagalan total karena tetangga Teluk mereka menolak terseret lebih jauh.
Perang Iran melawan Israel semakin memanas. Hal tersebut berdampak pada harga minyak yang mulai naik.Riyadh dan Qatar memilih menjaga jarak aman demi menyelamatkan kedaulatan domestik mereka dari amukan militer Teheran. Meski demikian, pertahanan Abu Dhabi dilaporkan sempat bergerak sendiri melakukan agresi sepihak ke wilayah pesisir Teheran pada awal April.
Isolasi dari sesama negara Arab justru membuat hubungan geopolitik Abu Dhabi dengan Tel Aviv mengalami peningkatan intensitas yang sangat signifikan. Kerja sama pertahanan di bawah payung Abraham Accords tahun 2020 kini berubah menjadi aliansi militer taktis yang nyata.
Bantuan pertahanan udara canggih langsung dikirimkan oleh Tel Aviv guna membentengi wilayah udara Uni Emirat Arab dari kehancuran total. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan dilaporkan melakukan diplomasi rahasia ke Abu Dhabi saat situasi perang sedang berada di titik paling kritis.
Sikap politik Abu Dhabi langsung memicu kemarahan besar dari pihak Teheran yang mengutuk keras keterlibatan aktif mereka dengan blok Barat. Teheran secara resmi melabeli tetangga Teluknya itu sebagai kaki tangan utama dalam agresi militer asing di tanah Timur Tengah.
Menanggapi tuduhan tersebut, otoritas Abu Dhabi menegaskan bahwa mereka memiliki hak penuh untuk menggerakkan militer demi menangkal segala ancaman luar. Pengamat menilai krisis ini justru mempercepat pembentukan peta aliansi baru antara Amerika Serikat, Israel, dan Uni Emirat Arab.
Poros baru ini dinilai akan mengubah lanskap keamanan regional secara permanen meskipun memicu ketegangan mendalam di internal negara Arab. Kehadiran militer asing di Teluk Persia diprediksi akan semakin mencengkeram kuat dan sulit untuk direduksi di masa depan.
Pertempuran bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang meletus sejak 28 Februari telah menyeret banyak negara sekutu di Timur Tengah ke dalam krisis. Posisi Uni Emirat Arab yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat menjadikannya target utama serangan balasan yang merusak stabilitas ekonomi kawasan.
Tag: #perang #iran #makin #parah #donald #trump #lakukan #terduga