Bos Minyak Dunia Ketar-ketir Krisis Energi Kian Nyata akibat Perang Iran
Ilustrasi minyak bumi. (Freepik)
18:12
26 Maret 2026

Bos Minyak Dunia Ketar-ketir Krisis Energi Kian Nyata akibat Perang Iran

- Konflik Timur Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu gejolak besar di pasar energi global. 

Akan tetapi, terdapat perbedaan pandangan yang tajam antara pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan para bos industri minyak dan gas (migas) terkait masa depan krisis ini.

Dalam konferensi energi global CERAWeek di Houston, Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan bahwa kekacauan pasar saat ini hanya bersifat sementara. 

Baca juga: Pasokan Energi Menipis, Sri Lanka Padamkan Lampu Jalan hingga Papan Reklame

"Kekacauan di pasar energi global yang lahir dari perang AS-Iran akan bersifat jangka pendek," ujar Wright di hadapan para eksekutif migas pekan ini.

Meski demikian, para CEO di lapangan memberikan gambaran yang jauh lebih suram, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Rabu (25/3/2026).

Mereka menilai pasar keuangan belum sepenuhnya menyadari gravitasi krisis yang terjadi. 

Perang tersebut dinilai telah melumpuhkan pasokan bahan bakar dunia dan mengancam operasi industri di Timur Tengah.

Baca juga: Filipina Resmi Deklarasikan Darurat Energi Nasional

Tidak sinkron

Beberapa pejabat tinggi, termasuk Menteri Dalam Negeri Doug Burgum dan Direktur Eksekutif Dewan Dominasi Energi Nasional Jarrod Agen, dilaporkan telah melakukan pertemuan pribadi dengan para CEO migas seperti Toby Rice (EQT), Jack Fusco (Cheniere Energy), dan Michael Sabel (Venture Global).

Dalam pertemuan tersebut, pejabat pemerintah menyatakan bahwa konflik akan mereda dalam hitungan minggu, bukan bulan. 

Namun, optimisme ini justru memicu frustrasi di kalangan eksekutif. Mereka menilai pemerintah tidak memiliki rencana penarikan diri yang dari krisis yang kian mendalam.

"Apa yang gagal mereka pahami adalah bahwa cuitan harian yang mendorong volatilitas, baik di pasar komoditas maupun pasar ekuitas, tidak baik bagi siapa pun," kata Mark Viviano, mitra pelaksana di firma investasi energi Kimmeridge. 

"Sangat sulit untuk membuat keputusan cerdas dalam lingkungan seperti itu," lanjutnya.

Baca juga: Ketika Negara Asia Kembali ke Batu Bara di Tengah Krisis Energi...

Dunia kena dampaknya

Krisis ini bukan sekadar angka di papan perdagangan, melainkan sudah berdampak pada kehidupan sehari-hari di berbagai negara. 

Penutupan Selat Hormuz akibat perang menyebabkan dunia kehilangan 70 juta barel minyak setiap minggunya, serta produk vital lainnya untuk manufaktur cip dan peralatan medis.

China sudah mengambil langkah untuk melarang ekspor bahan bakar pada bulan Maret.

Sementara itu, Korea Selatan memberlakukan pembatasan mengemudi bagi kendaraan berbahan bakar gas.

Di Asia Tenggara, Laos bahkan memangkas hari sekolah menjadi hanya tiga hari dalam seminggu.

Sedangkan Bangladesh dan Pakistan memilih untuk menutup universitas atau memindahkan kelas ke sistem daring.

CEO Chevron Mike Wirth memperingatkan bahwa dampak fisik dari penutupan Selat Hormuz belum sepenuhnya diantisipasi oleh pasar. 

"Ada manifestasi fisik yang sangat nyata dari penutupan Selat Hormuz yang sedang menjalar ke seluruh dunia yang menurut saya belum sepenuhnya diperhitungkan," ungkap Wirth.

Baca juga: Iran Bantah Nego dengan AS, Sebut Trump Akal-akalan Tekan Harga Energi

Ancaman kelangkaan di AS

Ilustrasi Selat Hormuz.Google Maps Ilustrasi Selat Hormuz.

Meskipun pejabat Trump mengeklaim rekor produksi migas AS mampu melindungi warga Amerika, para ahli memperingatkan ancaman di pesisir barat, khususnya California. 

Negara bagian ini mengimpor sekitar 75 persen kebutuhan minyaknya, yang sebagian besar berasal dari Asia dan Timur Tengah.

Andy Walz, yang memimpin unit pemurnian dan pipa Chevron, menyebutkan bahwa kilang-kilang di Asia mulai kehabisan cadangan minyak mentah. 

"Kami sedang berebut mencari solusi lain. Beberapa negara merilis cadangan minyak strategis tetapi pada titik tertentu, itu akan habis," kata Walz.

Baca juga: IRGC Bakal Tutup Selat Hormuz Sepenuhnya jika Trump Terus Ancam Targetkan Fasilitas Energi Iran

Di sisi lain, meskipun harga minyak mentah AS melonjak ke level 90 dollar AS per barel yang memberikan keuntungan jangka pendek bagi perusahaan, para eksekutif khawatir akan penurunan konsumsi global secara jangka panjang.

CEO NextDecade Matt Schatzman menegaskan bahwa solusi tercepat adalah diplomasi. 

"Apa hal tercepat yang bisa kita lakukan untuk mencoba menyelesaikan ini? Duduklah dengan pihak Iran secepat mungkin, capai gencatan senjata, dan amankan Selat (Hormuz)," ujarnya dalam sebuah wawancara di sela konferensi.

Saat ini, pemerintah AS terus berupaya memitigasi harga energi dengan melepas cadangan minyak nasional hingga melonggarkan sanksi pada minyak Rusia dan Iran. 

Namun, langkah-langkah tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membendung krisis yang kian meluas.

Baca juga: Krisis Energi Parah Sampai Blackout, Kuba Tetap Ogah Gadai Kedaulatan ke AS

Tag:  #minyak #dunia #ketar #ketir #krisis #energi #kian #nyata #akibat #perang #iran

KOMENTAR