Rahasia Diplomasi Pakistan: Mengapa Islamabad Jadi Juru Runding AS-Iran?
Tentara Pakistan berpatroli di pos perbatasan Chaman yang memisahkan negara itu dengan Afghanistan, Jumat (27/2/2026). Perang Pakistan-Afghanistan pecah pada hari itu setelah pasukan Islamabad membombardir Kabul lewat serangan udara.(AFP/ABDUL BASIT)
11:42
27 Maret 2026

Rahasia Diplomasi Pakistan: Mengapa Islamabad Jadi Juru Runding AS-Iran?

- Pakistan kini muncul sebagai perantara kunci antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dalam upaya mengamankan pembicaraan guna mengakhiri perang yang berkecamuk di Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar pada Kamis (26/3/2026) mengonfirmasi bahwa Islamabad terlibat aktif dalam mediasi tersebut. 

"Pembicaraan tidak langsung AS-Iran sedang berlangsung melalui pesan-pesan yang disampaikan oleh Pakistan," ujar Dar, sebagaimana dilansir AFP.

Baca juga: Trump Ejek Kapal Induk Inggris sebagai Mainan, Dianggap Telat Bantu AS Lawan Iran

Keterlibatan Pakistan ini dinilai sebagai langkah strategis mengingat posisi unik negara tersebut di peta politik internasional. 

Mantan Duta Besar Pakistan untuk Teheran, Asif Durrani, menyebut negaranya memiliki modal diplomatik yang tidak dimiliki negara lain.

"Pakistan memiliki kredensial kuat sebagai satu-satunya negara di kawasan yang menikmati hubungan baik dengan AS dan Iran," kata Durrani kepada AFP.

"Secara bersamaan, Pakistan juga memiliki hubungan strategis dengan Arab Saudi, negara-negara Teluk, dan Turkiye," tambahnya.

Baca juga: Dipukul Balik Iran, Deretan Alutsista Mahal AS Berguguran di Medan Perang

Alasan Pakistan jadi mediator perang Iran

Salah satu faktor penguat peran Pakistan adalah hubungan personal yang dibangun oleh Panglima Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir dengan Presiden AS Donald Trump.

Munir dilaporkan telah berbicara langsung dengan Trump beberapa waktu lalu. 

Kedekatan keduanya sebenarnya telah terpupuk sejak tahun lalu, saat Munir bersama Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengunjungi Washington setelah ketegangan dengan India di Kashmir.

Kala itu, Sharif memuji intervensi Trump sebagai langkah yang berani dan visioner. 

Sebaliknya, Trump membalas dengan menyebut bahwa Pakistan mengenal Iran lebih baik daripada kebanyakan negara lainnya. 

Pekan ini, Trump bahkan membagikan ulang unggahan Sharif di media sosial X yang menyatakan kesiapan Pakistan untuk menjadi tuan rumah pembicaraan damai.

Baca juga: Trump Ingin Kuasai Minyak Iran, Banggakan Keberhasilan AS di Venezuela

Menjaga keseimbangan di tengah tekanan

Meski menjalin hubungan erat dengan AS, Pakistan tetap menjaga ikatan sejarah yang dalam dengan Iran. 

Kedua negara berbagi perbatasan sepanjang 900 kilometer. 

Iran adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Pakistan pada 1947, dan Pakistan membalas dukungan tersebut saat Revolusi Iran 1979.

Namun, posisi Pakistan tidaklah mudah. Di satu sisi, Islamabad harus mewakili kepentingan diplomatik Iran di Washington karena Teheran tidak memiliki kedutaan di sana. 

Di sisi lain, Pakistan baru saja menandatangani perjanjian pertahanan timbal balik strategis dengan Arab Saudi pada 2025.

Sharif harus bergerak lincah agar tetap selaras dengan Riyadh tanpa memicu kemarahan populasi Syiah di dalam negerinya, yang menjadi populasi Syiah terbesar kedua di dunia setelah Iran. 

Protes mematikan bahkan sempat terjadi di Pakistan menyusul gugurnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan AS-Israel.

Baca juga: Malaysia Tak Cabut Subsidi BBM di Tengah Perang Iran, tapi Batasi Kuota

Taruhan ekonomi dan stabilitas

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan terima kasih kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berhasil memediasi gencatan senjata antara Pakistan dan India. instagram.com/govtofpakistan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan terima kasih kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berhasil memediasi gencatan senjata antara Pakistan dan India.

Selain alasan diplomatik, netralitas dan perdamaian menjadi kebutuhan ekonomi yang mendesak bagi Pakistan. 

Sebagai negara yang bergantung pada impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz, gangguan berkelanjutan di wilayah tersebut dapat memperburuk pasokan bahan bakar dan memicu kenaikan harga serta kebijakan penghematan yang berat.

Pakar Asia Selatan, Michael Kugelman, menilai posisi Pakistan sangat krusial karena berada tepat di pintu depan konflik.

"Pakistan, yang terletak tepat di ambang pintu perang, jelas lebih memilih untuk mengambil langkah-langkah yang bertujuan membantu mengakhiri perang, daripada terseret ke dalamnya," tulis Kugelman dalam unggahannya di X.

Jika upaya mediasi ini berhasil, hal tersebut tidak hanya akan meningkatkan stabilitas dan keamanan regional, tetapi juga mengangkat posisi internasional Pakistan di mata dunia.

Baca juga: Trump Undur Deadline Serangan ke Iran hingga 6 April, Klaim Itu Permintaan Teheran

Tag:  #rahasia #diplomasi #pakistan #mengapa #islamabad #jadi #juru #runding #iran

KOMENTAR