Jepang Kerahkan Rudal Jarak Jauh Dekat China, Ada Apa?
Ilustrasi rudal.(iStockphoto/Ewg3D)
16:18
31 Maret 2026

Jepang Kerahkan Rudal Jarak Jauh Dekat China, Ada Apa?

- Jepang mengerahkan sistem rudal jarak jauh di wilayah barat daya, tepatnya di Kumamoto, Pulau Kyushu. 

Langkah ini diambil Tokyo guna memperkuat kapasitas militer di tengah meningkatnya aktivitas angkatan laut China di kawasan Laut China Timur.

Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi mengatakan, penempatan alutsista ini merupakan bagian dari upaya pertahanan negara untuk menangkal potensi ancaman dari pasukan asing.

"Kemampuan pertahanan jarak jauh memungkinkan kita untuk menangkal ancaman pasukan musuh yang berupaya menyerang negara kita sekaligus memastikan keselamatan personel kita," kata Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi, dikutip dari AFP, Selasa (31/3/2026).

"Ini adalah inisiatif yang sangat penting untuk memperkuat kemampuan pencegahan dan respons Jepang," tambahnya.

Baca juga: Pasokan Energi Asia Terancam Konflik Timur Tengah, Jepang Berpaling ke Indonesia

Mampu menjangkau wilayah China

Sistem rudal berpemandu permukaan-ke-kapal ini memiliki jangkauan sekitar 1.000 kilometer, sehingga mampu mencapai sebagian wilayah daratan China.

Sebagai informasi, Shanghai terletak sekitar 900 kilometer dari Kumamoto.

Koizumi menuturkan, proyektil luncur berkecepatan tinggi yang dirancang untuk mempertahankan pulau-pulau terpencil dari pasukan musuh, telah dikerahkan di Shizuoka, daerah pesisir lain yang lebih dekat ke Tokyo dan menghadap Samudra Pasifik.

Jepang sejak lama memiliki kebijakan penggunaan militer hanya untuk membela diri dalam arti yang paling ketat.

Baca juga: Jepang Akhirnya Terima Minyak Timur Tengah, Lewati Jalur Alternatif

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Tokyo terus membangun kapasitas pertahanannya seiring dengan meningkatnya aktivitas militer negara-negara tetangga di kawasan tersebut, termasuk China, Rusia, dan Korea Utara.

Pada 2022, mereka menyetujui rencana untuk mengerahkan rudal dengan kemampuan serangan balik.

"Jika kita terus hanya mengandalkan pertahanan rudal balistik, akan semakin sulit untuk sepenuhnya mengatasi ancaman rudal dengan teknologi canggih," demikian bunyi buku putih pertahanan yang dikeluarkan tahun lalu.

Sementara, China sendiri sedang memperkuat militernya dan terlibat dalam sejumlah sengketa teritorial dengan negara-negara lain di kawasan itu, termasuk Jepang terkait Kepulauan Senkaku, yang dikenal sebagai Diaoyu di China.

Baca juga: Awak Kapal Indonesia Hilang Usai Jatuh ke Laut, Korsel-Jepang Lakukan Pencarian

Eskalasi hubungan China-Jepang

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam konferensi pers di Kantor PM di Tokyo, 19 Januari 2026. Takaichi membubarkan parlemen untuk menggelar pemilu legislatif dini.AFP/POOL/RODRIGO REYES MARIN Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam konferensi pers di Kantor PM di Tokyo, 19 Januari 2026. Takaichi membubarkan parlemen untuk menggelar pemilu legislatif dini.

Diketahui, hubungan Jepang dengan Beijing memburuk dalam beberapa bulan terakhir. 

Ini terjadi setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November lalu mengisyaratkan bahwa Tokyo dapat melakukan intervensi militer dalam serangan apa pun terhadap Taiwan.

China memandang Taiwan sebagai wilayahnya dan tidak mengesampingkan kemungkinan merebutnya dengan kekerasan.

Para kritikus yang menentang langkah Tokyo untuk mengerahkan rudal dapat menjadikan wilayah tersebut sebagai target serangan musuh.

Awal bulan ini, media lokal melaporkan, pasukan darat Jepang mengirimkan peluncur rudal ke Kumamoto tanpa memberi peringatan kepada masyarakat setempat.

Hal ini memicu puluhan penentang untuk melakukan protes di depan pangkalan militer setempat.

Tag:  #jepang #kerahkan #rudal #jarak #jauh #dekat #china

KOMENTAR