Sikap Trump soal Uranium Iran Berubah: Dulu Jadi Ancaman, Kini Disebut Tak Penting
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan, tidak lagi mengkhawatirkan stok uranium Iran yang telah diperkaya.
Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Reuters, meski sebelumnya ia menjadikan isu tersebut sebagai ancaman utama global dan alasan atas operasi militer AS di Iran.
Dalam wawancara tersebut, Trump merespons laporan soal 970 pon uranium yang telah diperkaya hingga mendekati tingkat senjata nuklir. Menurut pengawas internasional, jumlah itu cukup untuk membuat 10 hingga 12 bom nuklir.
Baca juga: Trump Sesumbar Tak Butuh Minyak Timur Tengah, Dunia Diminta Urusi Selat Hormuz
Namun Trump justru menepis kekhawatiran tersebut. “Kami akan selalu memantaunya lewat satelit,” kata Trump, dikutip dari New York Times, Rabu (1/4/2026).
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan uranium tersebut bukan lagi masalah karena lokasinya yang sangat dalam di bawah tanah.
“Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir karena mereka tidak mampu melakukannya sekarang,” ujarnya.
Pernyataan ini menjadi kedua kalinya dalam 24 jam Trump mengeklaim bahwa persoalan nuklir Iran telah terselesaikan, meskipun bukti yang ada menunjukkan sebaliknya.
Bertolak belakang dengan sikap lama
Sikap terbaru ini dinilai bertolak belakang dengan posisi Trump selama lebih dari satu dekade.
Sebelumnya, ia secara konsisten menekankan pentingnya mencegah Iran memiliki bahan bakar nuklir yang bisa digunakan untuk membuat senjata.
Kritik utamanya terhadap kesepakatan nuklir 2015 yang dicapai Presiden Barack Obama adalah bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk memproduksi uranium di masa depan.
Saat menarik diri dari kesepakatan tersebut pada 2018, Trump menyatakan bahwa meskipun Iran mematuhi perjanjian, negara itu masih bisa “berada di ambang terobosan nuklir dalam waktu singkat.”
Kini, justru ketika stok uranium Iran berada lebih dekat ke tahap akhir pembuatan senjata dibanding sebelumnya, Trump menyebutnya bukan sebagai kekhawatiran.
Baca juga: Tak Mau Dianggap Kalah, Trump Ubah Tujuan Perang Iran
Upaya menghentikan program nuklir
Citra satelit dari Vantor memperlihatkan situs nuklir Iran di Natanz dengan beberapa kerusakan yang diduga akibat serangan, ketika dipublikasi pada Senin (2/3/2026).
Pada Juni 2025, Trump memerintahkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran, yakni Natanz, Fordo, dan Isfahan.
Tujuannya adalah mencegah Iran meningkatkan pengayaan uranium dari 60 persen menjadi 90 persen, tingkat yang dapat digunakan untuk senjata nuklir.
Dalam negosiasi sebelumnya, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, bersama menantunya Jared Kushner, juga menuntut agar Iran mengirim seluruh bahan bakar nuklirnya ke luar negeri dan menghentikan produksi di dalam negeri.
Ketika negosiasi menemui jalan buntu, Trump beralasan bahwa serangan diperlukan karena Iran berupaya membangun kembali program nuklirnya, termasuk memproduksi sentrifugal baru.
Risiko masih ada
Meski demikian, kekhawatiran terhadap program nuklir Iran belum sepenuhnya hilang. Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan bahwa Iran saat ini tidak diyakini sedang memperkaya uranium.
Namun ia menegaskan bahwa selama stok uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen masih berada di Iran, proses untuk mencapai tingkat senjata nuklir dapat dilakukan dalam hitungan hari atau minggu, bahkan berpotensi tanpa terdeteksi jika dilakukan di lokasi bawah tanah.
Opsi serangan kembali
Trump juga membuka kemungkinan strategi militer lanjutan. Ia menyebut Amerika Serikat bisa menarik pasukan, tetapi tetap siap kembali melakukan serangan jika Iran kembali mengaktifkan program nuklirnya.
“Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir karena mereka tidak mampu melakukannya sekarang, dan kemudian saya akan pergi, saya akan menarik semua orang, dan jika perlu kami akan kembali untuk melakukan serangan cepat,” ujar Trump.
Baca juga: 4 Skenario jika Trump Tinggalkan Perang Iran Tanpa Buka Selat Hormuz
Tag: #sikap #trump #soal #uranium #iran #berubah #dulu #jadi #ancaman #kini #disebut #penting