Wabah Ebola di Kongo dan Uganda Sulit Dikendalikan, Ini Faktor Pemicunya
Para dokter berjalan di dalam bagian isolasi Ebola Rumah Sakit Rujukan Regional Mubende, di Mubende, Uganda Kamis, 29 September 2022. Wabah Ebola terbaru di Kongo dan Uganda lebih sulit dikendalikan karena terjadi di wilayah konflik, banyak warga mengungsi, deteksi sempat terlambat, dan belum ada vaksin khusus untuk varian Bundibugyo.(AP PHOTO/HAJARAH NALWADDA)
19:06
20 Mei 2026

Wabah Ebola di Kongo dan Uganda Sulit Dikendalikan, Ini Faktor Pemicunya

Pengendalian wabah Ebola terbaru di Republik Demokratik Kongo dan Uganda tidak hanya bergantung pada kemampuan medis.

Di lapangan, petugas kesehatan juga harus menghadapi konflik, perpindahan penduduk, keterbatasan akses, hingga varian virus yang belum memiliki vaksin khusus.

Kondisi inilah yang membuat wabah Ebola kali ini menjadi lebih rumit dibandingkan sekadar menangani penyakit menular.

Melansir The Guardian (19/5/2026), respons terhadap wabah di wilayah terdampak dapat dipersulit oleh konflik, ketidakpercayaan masyarakat, dan keterlambatan deteksi.

Tantangan tersebut bukan hal baru bagi Republik Demokratik Kongo atau DRC. Pada wabah Ebola 2018–2020 di Kivu Utara, penanganan penyakit juga terganggu oleh situasi sosial, politik, ekonomi, dan keamanan di wilayah konflik.

Kini, pola tantangan serupa kembali muncul ketika wabah terbaru menyebar di DRC dan Uganda.

Baca juga: Virus Ebola Kembali Wabah di Uganda, 1 Perawat Meninggal

Konflik membuat petugas sulit menjangkau warga

Salah satu hambatan terbesar dalam pengendalian Ebola adalah kondisi keamanan di wilayah terdampak.

Mengutip CNN (19/5/2026), ketidakamanan akibat konflik di Provinsi Ituri meningkat dalam dua bulan terakhir. Provinsi Ituri merupakan wilayah tempat virus pertama kali terdeteksi pada awal Mei.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan lebih dari 100.000 orang baru mengungsi akibat kondisi tersebut.

Perpindahan penduduk dalam jumlah besar membuat pelacakan kasus menjadi lebih sulit.

Saat orang terus bergerak, petugas kesehatan harus bekerja lebih keras untuk menemukan pasien, melacak kontak erat, dan memastikan mereka yang berisiko bisa dipantau.

Epidemiolog klinis dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, Daniela Manno, mengatakan wabah ini terjadi di wilayah dengan banyak hambatan sekaligus.

“Wabah terjadi di wilayah yang terdampak ketidakamanan, perpindahan penduduk, dan mobilitas penduduk yang tinggi, yang semuanya dapat mempersulit pengawasan, pelacakan kontak, dan pemberian layanan kesehatan,” kata Manno.

Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Afrika sebagai Darurat Kesehatan Global

Deteksi terlambat memperbesar risiko

Ilustrasi ebola. Wabah Ebola terbaru di Kongo dan Uganda lebih sulit dikendalikan karena terjadi di wilayah konflik, banyak warga mengungsi, deteksi sempat terlambat, dan belum ada vaksin khusus untuk varian Bundibugyo.Motortion Films/SHUTTERSTOCK Ilustrasi ebola. Wabah Ebola terbaru di Kongo dan Uganda lebih sulit dikendalikan karena terjadi di wilayah konflik, banyak warga mengungsi, deteksi sempat terlambat, dan belum ada vaksin khusus untuk varian Bundibugyo.

Selain konflik, keterlambatan deteksi juga menjadi alasan wabah ini sulit dikendalikan.

CNN melaporkan, kasus suspek pertama adalah seorang tenaga kesehatan yang mulai mengalami gejala pada 24 April 2026. Orang tersebut kemudian meninggal di pusat medis di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri.

WHO baru menerima peringatan tentang “penyakit tidak diketahui” dengan tingkat kematian tinggi pada 5 Mei 2026.

Setelah penyelidikan oleh tim respons cepat pada 13 Mei, wabah dikonfirmasi sebagai virus Bundibugyo pada 15 Mei 2026.

Menurut Manno, jumlah kasus suspek yang sudah dilaporkan sebelum konfirmasi menunjukkan bahwa penularan kemungkinan sudah berlangsung selama beberapa minggu sebelum wabah secara resmi dikenali.

Artinya, ketika wabah diumumkan, sebagian rantai penularan mungkin sudah berjalan lebih dulu di masyarakat.

Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola sebagai Darurat Global, Apa Risikonya bagi Indonesia?

Varian Bundibugyo belum punya vaksin khusus

Tantangan lain datang dari jenis virus yang menyebar.

Melansir Reuters (19/5/2026), wabah ini disebabkan oleh Ebola varian Bundibugyo. Berbeda dari beberapa wabah Ebola sebelumnya, belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui secara khusus untuk varian ini.

Reuters melaporkan, panel ahli yang dipimpin WHO bertemu secara virtual pada Selasa untuk membahas kemungkinan pilihan vaksin bagi wabah di Kongo bagian timur.

Dr. Mosoka Fallah, penjabat direktur departemen sains Africa CDC, mengatakan para ahli akan menilai bukti yang tersedia sebelum memberi rekomendasi.

“Ketika ada wabah dengan strain yang tidak memiliki penanggulangan, kami akan memberi saran tentang pendekatan terbaik yang dapat diambil,” kata Fallah.

Meski sejumlah opsi dapat dibahas, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah Kongo dan Uganda.

Baca juga: Subvarian Baru Ebola Diwaspadai, Seberapa Besar Ancamannya? Ini Kata Pakar

Penularan di fasilitas kesehatan jadi perhatian

Ebola tidak menular melalui udara seperti Covid-19. Namun, Ebola dapat menyebar melalui kontak fisik dengan cairan tubuh, termasuk darah dan muntah.

Hal ini membuat tenaga kesehatan menjadi kelompok yang sangat rentan, terutama ketika menangani pasien secara langsung.

WHO juga menyoroti adanya tanda penularan yang berkaitan dengan fasilitas kesehatan setelah kematian dilaporkan terjadi pada tenaga kesehatan.

Situasi ini membuat perlindungan tenaga medis menjadi bagian penting dalam pengendalian wabah.

Tanpa perlindungan yang ketat, fasilitas kesehatan yang seharusnya menjadi tempat penanganan justru dapat menjadi titik risiko penularan.

Wabah bisa meluas lintas negara

Wabah terbaru ini juga menjadi perhatian karena tidak hanya terjadi di satu negara. Kasus telah ditemukan di DRC dan Uganda, termasuk di Kampala, Goma, dan Bunia.

Penyebaran lintas batas kemungkinan ikut memengaruhi cepatnya WHO menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

Dengan kondisi tersebut, pengendalian wabah Ebola kali ini membutuhkan lebih dari respons medis.

Pelacakan kontak, perlindungan tenaga kesehatan, komunikasi dengan masyarakat, akses ke wilayah konflik, dan koordinasi lintas negara menjadi kunci agar penyebaran tidak semakin meluas.

Baca juga: Mengenal Sejarah Virus Ebola dan Asal-usulnya

Tag:  #wabah #ebola #kongo #uganda #sulit #dikendalikan #faktor #pemicunya

KOMENTAR