Digempur Habis-habisan, Iran Masih Punya Stok Rudal Melimpah di Bawah Tanah
- Hasil asesmen intelijen Amerika Serikat (AS) terbaru mengungkapkan, Iran masih mempertahankan kemampuan peluncuran rudal yang besar meski telah digempur habis-habisan oleh serangan udara AS dan Israel selama lima minggu terakhir.
Menurut tiga sumber yang mengetahui laporan intelijen tersebut, sekitar setengah dari peluncur rudal Iran dilaporkan masih utuh.
Selain itu, ribuan pesawat nirawak bunuh diri alias drone kamikaze masih tersedia dalam gudang senjata Iran.
Baca juga: AS Kehilangan 16 Drone MQ-9 Reaper Selama Perang Iran, Kerugian Capai Rp 8,4 T
Salah satu sumber intelijen memberikan peringatan keras mengenai kondisi ini, sebagaimana dilansir CNN, Kamis (2/4/2026).
"Mereka masih sangat siap untuk menciptakan kekacauan total di seluruh kawasan," ujarnya.
Sekitar 50 persen dari total kemampuan drone Iran masih ada, mencakup ribuan unit yang siap digunakan.
Sementara itu, sebagian besar rudal jelajah pertahanan pesisir Iran masih utuh.
Hal ini terjadi karena kampanye udara AS tidak berfokus pada aset militer pesisir, yang menjadi kunci bagi Iran untuk mengancam lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Di samping itu, nanyak peluncur rudal yang tidak hancur karena disembunyikan di jaringan terowongan dan gua bawah tanah yang sangat luas.
Baca juga: Kasad AS Didepak Tiba-tiba, Menhan AS Bersih-bersih Militer saat Perang Iran
Kontradiksi dengan Pernyataan Gedung Putih
Data intelijen ini memberikan gambaran berbeda dibandingkan klaim Presiden AS Donald Trump.
Dalam pidatonya pada Rabu (1/4/2026) malam, Trump menyatakan bahwa kekuatan militer Iran telah hancur total.
"Kemampuan Iran untuk meluncurkan rudal dan drone telah berkurang drastis, dan pabrik senjata serta peluncur roket mereka telah hancur berkeping-keping, hanya sedikit yang tersisa," tegas Trump.
Senada dengan Presiden, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly membela keberhasilan invasi dengan nama sandi Operasi Epic Fury tersebut.
Dia menyebut bahwa sumber-sumber anonim hanya mencoba mendiskreditkan kinerja militer AS.
"Inilah faktanya: serangan rudal balistik dan drone Iran turun 90 persen, angkatan laut mereka tersapu bersih, dua pertiga fasilitas produksi mereka rusak atau hancur, dan AS serta Israel memiliki keunggulan udara mutlak atas Iran," kata Kelly.
Dia menambahkan bahwa Iran sedang mengalami kehancuran militer dan situasi mereka semakin suram setiap harinya.
"Satu-satunya harapan mereka adalah membuat kesepakatan dengan pemerintahan Presiden Trump dan meninggalkan ambisi nuklir mereka selamanya," ujar Kelly.
Baca juga: Iran Giliran Beri Izin Kapal Filipina Lewat Selat Hormuz dengan Aman dan Tanpa Biaya
Perbedaan data AS dan Israel
Meski intelijen AS menyebut 50 persen peluncur masih utuh, militer Israel memberikan estimasi yang lebih rendah, yakni sekitar 20-25 persen.
Perbedaan ini terjadi karena Israel tidak memasukkan peluncur yang terkubur atau tidak dapat diakses di dalam gua dan terowongan ke dalam hitungan peluncur yang masih bisa dipakai.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam taklimat media pada 19 Maret lalu juga menekankan penurunan intensitas serangan, bukan jumlah aset yang dihancurkan.
"Serangan rudal balistik terhadap pasukan kami turun 90 persen sejak awal konflik, begitu pula dengan drone kamikaze, turun 90 persen," kata Hegseth.
Namun, seorang sumber intelijen menyebut target Trump untuk menyelesaikan operasi dalam dua hingga tiga minggu adalah hal yang tidak realistis.
"Kita bisa terus menghajar mereka, saya tidak meragukannya, tetapi Anda sudah gila jika berpikir ini akan selesai dalam dua minggu," ucap sumber tersebut.
Baca juga: Iran Mengaku Tembak Jatuh Jet F-35 AS untuk Kedua Kalinya, Pilot Disebut Tak Selamat
Terowongan dan Selat Hormuz
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Jenderal Mohammad Baqeri dan Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Iran, Amir Ali Hajizadeh menunjukkan pangkalan militer yang dikenal sebagai kota rudal Iran.
Salah satu alasan utama mengapa peluncur rudal Iran sulit dihancurkan adalah penggunaan taktik "tembak dan lari" serta pemanfaatan bunker bawah tanah.
Annika Ganzeveld, Manajer Portofolio Timur Tengah untuk Critical Threats Project di American Enterprise Institute, menjelaskan bahwa AS kini mulai menargetkan pintu masuk terowongan dan alat berat seperti buldozer.
Pasalnya, fasilitas da alat berat tersebut bermanfaat bagi Iran untuk membuka akses kembali ke fasilitas bawah tanah tersebut.
Di sektor laut, kekuatan angkatan laut milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) masih mempertahankan sekitar setengah kemampuannya.
IRGC diperkirakan masih memiliki ratusan, bahkan ribuan, kapal kecil dan kendaraan permukaan tanpa awak.
"Masih ada hal-hal yang tersisa—para proksi, serta drone. Iran baru-baru ini menunjukkan bahwa mereka masih mempertahankan kemampuan untuk menargetkan pelayaran di selat," ujar Ganzeveld.
Baca juga: Iran Hidupkan Lagi Skenario Perang 1980-an, Siaga Merah Hadapai Invasi Darat AS
Tag: #digempur #habis #habisan #iran #masih #punya #stok #rudal #melimpah #bawah #tanah