Bukan di Paruh atau Mata, Ilmuwan Temukan ''GPS'' Alami Merpati
Ilustrasi burung merpati.(Shutterstock/Fercast)
10:36
30 Mei 2026

Bukan di Paruh atau Mata, Ilmuwan Temukan ''GPS'' Alami Merpati

- Selama hampir satu abad, para ilmuwan bertanya-tanya bagaimana merpati bisa menemukan jalan pulang setelah ratusan kilometer jauhnya. 

Kini, sebuah studi baru mengungkap petunjuk mengejutkan. Jawaban dari pertanyaan itu mungkin tersimpan di dalam hati.

Studi yang diterbitkan Kamis (28/5/2026) di jurnal Science, menemukan bahwa sel-sel kekebalan tubuh di dalam hati merpati berperan dalam mendeteksi medan magnet Bumi.

Baca juga: Gegara 131 Kucing Disingkirkan, Populasi Merpati Langka Melonjak Drastis

Hal tersebut merupakan kemampuan yang selama ini menjadi salah satu misteri terbesar dalam ilmu perilaku hewan.

"Rasa magnetik ini telah menjadi misteri selama hampir 100 tahun," kata Martin Wikelski dari Max Planck Institute of Animal Behavior, Jerman

Wikelski dan timnya awalnya menyisir organ-organ tubuh merpati untuk mencari jejak magnetik.

Sinyal terkuat justru muncul dari tempat yang tidak mereka duga: hati, sebagaimana dilansir Associated Press

Baca juga: Perusahaan Rusia Uji Coba Bio-Drone Pakai Merpati Hidup, Terbangnya Bisa Diatur

Di sana, sel-sel kekebalan khusus memecah sel darah merah dan menyimpan zat besi, mineral yang diduga menjadi kunci kompas alami burung ini.

Untuk membuktikan hipotesis itu, para peneliti secara sementara menghilangkan sel-sel kekebalan tersebut dari tubuh merpati, lalu melepaskan burung-burung itu untuk terbang. Hasilnya mengejutkan.

"Mereka benar-benar tidak bisa menemukan jalan mereka," ujar Christian Kurts dari Universitas Bonn, Jerman.

Menariknya, kemampuan navigasi merpati hanya terganggu pada hari-hari mendung. 

Baca juga: Bukan Drone Biasa, Perusahaan Rusia Mulai Uji Coba Merpati Cyborg

Pada cuaca cerah, merpati juga memanfaatkan matahari sebagai pemandu arah, sehingga hilangnya fungsi sel hati tidak sepenuhnya melumpuhkan orientasi mereka.

Para peneliti menduga, sel-sel kekebalan di hati itu berada berdekatan dengan serat saraf, yang memungkinkan informasi magnetik diteruskan ke otak.

"Hal itu mungkin menjelaskan bagaimana mereka menyampaikan 'rasa magnetik' ke otak dan membantu merpati bernavigasi," papar co-author studi Clivia Lisowski dari Universitas Bonn

Tim peneliti juga berspekulasi bahwa mekanisme serupa bisa berlaku pada hewan lain, termasuk tikus. 

Baca juga: Foto Merpati yang Ditahan Polisi India 8 Bulan karena Diduga Mata-mata China

Namun para pakar di luar tim memperingatkan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan temuan ini dan memahami secara detail bagaimana sinyal magnetik itu diteruskan ke otak.

Ahli ekologi perilaku dari University of Massachusetts Boston, Albert Kao, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengaku tidak menyangka jawabannya berada di hati.

"Saya tidak pernah menduga hal itu, tetapi begitu dijelaskan kepada saya, ternyata masuk akal," papar Kao.

Studi baru ini menjadi yang pertama mengajukan teori lengkap soal keterlibatan sel kekebalan dalam penginderaan magnetik. 

Baca juga: Polisi India Tahan Burung Merpati 8 Bulan, Diduga Mata-mata China

Sebelumnya, ilmuwan pernah menduga kemungkinan itu, tetapi belum ada bukti yang memadai.

Selama ini, berbagai hipotesis beredar soal bagaimana merpati mendeteksi medan magnet. 

Sebagian ilmuwan menduga molekul peka cahaya di mata burung menjadi kuncinya, yang lain menunjuk paruh atau telinga bagian dalam. 

Sinyal magnetik juga terdeteksi di paruh dan limpa merpati, tidak hanya di hati.

Dalam editorial pendamping di jurnal yang sama, ahli patologi veteriner Simon Spiro dan biolog Hal Drakesmith menyarankan bahwa jawaban dari teka-teki ini mungkin bukan tunggal. 

Baca juga: Sopir Taksi di Tokyo Sengaja Tabrak Kawanan Merpati, 1 Ekor Mati

Merpati bisa jadi menggunakan teknik berbeda tergantung kebutuhan, apakah sedang menempuh jarak jauh atau mencari tujuan spesifik.

"Memang, mungkin lebih bijak untuk memiliki lebih dari satu cara untuk pulang ke rumah dalam kegelapan," tutur Spiro.

Sementara itu, sejak ribuan tahun lalu manusia telah mengandalkan kemampuan navigasi merpati yang luar biasa ini.

Manusia memanfaatkan merpati sebagai pengantar pesan, berita, hingga komunikasi militer. Kini, misteri di balik kemampuan itu perlahan mulai terungkap.

Baca juga: 2 WNI Ditangkap karena Racuni Merpati di Malaysia, Terancam Penjara 2 Tahun

Tag:  #bukan #paruh #atau #mata #ilmuwan #temukan #alami #merpati

KOMENTAR