Iran Kini Jadi ''Penjaga Gerbang'' Selat Hormuz, Bisa Dikte Harga Minyak
Gambar yang diperoleh AFP dari kantor berita Iran Tasnim pada 4 Januari 2021 memerlihatkan kapal tanker Korea Selatan, MT Hankuk hemi, dikawal oleh angkatan laut Garda Revolusi Iran setelah disergap di Teluk Persia.(AFP PHOTO/TASNIM NEWS/-)
16:36
9 April 2026

Iran Kini Jadi ''Penjaga Gerbang'' Selat Hormuz, Bisa Dikte Harga Minyak

- Kecamuk perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang telah berlangsung hampir selama enam pekan telah mencapai babak baru yakni gencatan senjata yang diumumkan pada Rabu (8/4/2026).

Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut gencatan senjata selama dua pekan tersebut menjadi kemenangan dan Washington telah mencapai tujuannya. 

Namun, di balik klaim tersebut, gencatan senjata ini menghadirkan realitas baru yakni pemerintah Iran semakin mengakar dan memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.

Kondisi ini memberikan Teheran pengaruh besar terhadap pasar energi global dan negara-negara tetangga di kawasan Teluk, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (8/4/2026).

Selat Hormuz, jalur bagi seperlima minyak dan gas dunia, kini tidak lagi sekadar menjadi perairan internasional yang dipantau, melainkan jalur yang aturannya didikte oleh Iran.

Teheran kini berfungsi sebagai "penjaga gerbang" de facto yang berkuasa menentukan kapal mana yang boleh lewat, bahkan berencana mengenakan biaya keamanan bagi kapal yang melintas.

Baca juga: Waspada Ranjau Laut, Iran Umumkan Rute Alternatif di Selat Hormuz

Kesalahan strategis AS?

Cendekiawan Timur Tengah, Fawaz Gerges, memberikan kritik tajam terhadap hasil konflik ini. 

Kepada Reuters, dia menyebut langkah AS tidak membuahkan hasil yang diinginkan.

"Perang ini akan diingat sebagai kesalahan strategis fatal bagi Trump. Sebuah langkah yang konsekuensinya mengubah peta kawasan dengan cara yang tidak terduga," ujar Gerges.

Dia juga mempertanyakan efektivitas serangan militer AS-Israel terhadap stabilitas rezim di Teheran.

"Apa yang sebenarnya dicapai oleh perang AS-Israel ini? Perubahan rezim di Teheran? Tidak. Penyerahan diri Iran? Tidak. Pembatasan stok uranium Iran? Tidak. Pengakhiran dukungan Teheran terhadap sekutu regionalnya? Tidak," tegas Gerges.

Baca juga: Nyaris Gagal, Pakistan Jadi “Penyelamat” di Menit Terakhir Gencatan Senjata AS-Iran

Meskipun ekonomi Iran hancur dan infrastrukturnya luluh lantak akibat bom AS dan Israel, kepemimpinan Iran tetap memegang kendali penuh. 

Iran dinilai mampu menyerap serangan sambil mempertahankan instrumen kekuasaan intinya, termasuk produksi rudal, drone, dan dukungan bagi milisi regional di Lebanon, Irak, hingga kelompok Houthi di Yaman.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa Washington telah meraih kemenangan militer.

Menurutnya, program rudal Iran telah dihancurkan secara fungsional, meskipun kenyataannya Iran masih mampu meluncurkan rudal sesaat sebelum gencatan senjata dimulai.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa prioritas Trump saat ini adalah membuka kembali Selat Hormuz tanpa batasan. Namun, dia tidak menutup kemungkinan kerja sama di masa depan.

"Trump tidak mengesampingkan masa depan di mana Iran dan AS berbagi pendapatan dari tarif (pelintasan)," ungkap Leavitt.

Baca juga: Netanyahu Gagal Total Tumbangkan Iran, Trump Pilih Damai dengan Teheran

Kekhawatiran negara-negara Teluk

Bagi negara-negara Teluk, kendali Iran atas Selat Hormuz adalah ancaman nyata. Analis Arab Saudi, Ali Shihabi, menekankan bahwa jalur air tersebut merupakan garis merah yang tidak bisa dinegosiasikan.

"Hasil apa pun yang membiarkan jalur air tersebut secara efektif berada di tangan Iran akan menjadi kekalahan bagi Trump," kata Shihabi. 

Dia menambahkan bahwa potensi kenaikan harga energi bisa berdampak hingga ke pemilihan sela di AS.

Presiden Emirates Policy Center Ebtesam Al-Ketbi menilai, gencatan senjata ini hanyalah jeda rapuh yang bisa melembagakan ketidakstabilan baru.

"Gencatan senjata ini bukan solusi, melainkan ujian niat. Jika ini tidak berkembang menjadi perjanjian yang lebih luas maka ini hanyalah jeda taktis sebelum eskalasi yang lebih berbahaya dan kompleks," jelas Ketbi.

Dia juga memperingatkan dampak ekonomi jika Iran mulai memungut biaya pelintasan kapal. 

"Jika Iran dapat mengekstraksi jutaan dollar AS per kapal, implikasinya sangat besar, bukan hanya bagi Teluk, tetapi bagi ekonomi global," papar Ketbi.

Baca juga: Tak Tiru Malaysia, Singapura Enggan Negosiasi dengan Iran soal Selat Hormuz

Menuju meja perundingan

Seorang pria berdiri membawa bendera Iran di persimpangan Valiasr Square di Teheran, Senin (6/4/2026). Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Respons Negara-negara soal Gencatan Senjata Iran-AS: Sambut Positif dan Desak Perdamaian AbadiAFP/ATTA KENARE Seorang pria berdiri membawa bendera Iran di persimpangan Valiasr Square di Teheran, Senin (6/4/2026). Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Respons Negara-negara soal Gencatan Senjata Iran-AS: Sambut Positif dan Desak Perdamaian Abadi

Gencatan senjata yang ditengahi oleh Pakistan ini dimulai sejak Selasa lalu. 

Delegasi dari Iran dan AS dijadwalkan bertemu di Islamabad pada Jumat (10/4/2026) untuk membahas penyelesaian jangka panjang.

Iran sendiri telah mengajukan syarat-syarat yang cukup berat, termasuk pencabutan sanksi, pengakuan hak pengayaan nuklir, kompensasi kerusakan perang, dan kontrol berkelanjutan atas Selat Hormuz.

Trump mengakui telah menerima rencana Iran tersebut dan menyebutnya sebagai fondasi yang layak untuk bernegosiasi. 

Namun, para pejabat Teluk memperingatkan bahwa tanpa komitmen tertulis yang ketat mengenai kebebasan navigasi dan keamanan koridor maritim, kawasan ini akan tetap berada dalam bayang-bayang konflik yang belum terselesaikan.

Baca juga: Reza Pahlavi Kecewa Rezim Iran Tak Runtuh, Sesalkan Gencatan Senjata

Tag:  #iran #kini #jadi #penjaga #gerbang #selat #hormuz #bisa #dikte #harga #minyak

KOMENTAR