Imbas Perang Iran, Minat Mobil Listrik di Asia Tenggara Meningkat
- Penjualan kendaraan listrik telah melonjak di Asia Tenggara imbas krisi minyak yang diakibatkan oleh perang Iran di Timur Tengah.
Negara-negara Asia menjadi yang sangat terpukul karena penurunan tajam pengiriman minyak mentah, sementara itu hanya memiliki sedikit alternatif untuk menggantikannya.
Masyarakat kemudian beralih ke kendaraan listrik untuk menghindari lonjakan harga bahan bakar yang terjadi.
Dilansir AFP, Selasa (14/4/2026), ekspor kendaraan listrik China, yang mana Asia Tenggara merupakan pasar utama, meningkat dua kali lipat pada bulan Maret.
Jumlah tersebut naik dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu di semua produsen, menurut asosiasi industri CPCA.
Baca juga: Prabowo ke Rusia, RI-Putin Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Ekonomi-Energi
Kendaraan listrik semakin populer di luar Asia Tenggara. Faktor ekonomi berada di garis depan atas meningkatnya permintaan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
"Anda melihat respons konsumen individu terhadap apa yang mereka lihat terkait harga bensin atau solar yang tiba-tiba melonjak," kata Euan Graham, analis listrik dan data di lembaga think tank energi Ember.
AFP menyebut, Indonesia akan mengambil langkah-langkah lebih serius untuk mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional guna mengatasi tingkat konsumsi energi yang tinggi.
Menurut laporan Capital Economics, pendaftaran kendaraan listrik di Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru meningkat lebih dari dua kali lipat pada Maret, dan naik lebih dari 50 persen di India dan Australia.
Baca juga: Strategi China Sukses Hadapi Krisis Energi akibat Perang Iran
Krisis energi menguntungkan produsen kendaraan listrik
Bukan hanya produsen China, krisis energi menjadi keuntungan bagi produsen kendaraan listrik terkemuka Vietnam, Vinfast.
Vinfast, mengalami lonjakan penjualan tahunan sebesar 127 persen di Vietnam pada Maret 2026, yakni mencapai 27.600 mobil.
"Saat ini, klien sangat mempertimbangkan biaya bahan bakar ketika memutuskan mobil mana yang akan dibeli," kata Pham Minh Hai, wakil kepala penjualan di showroom Vinfast.
Baca juga: Diplomasi Energi Prabowo Ke Rusia: Bebas Aktif atau Srategi Keluar dari Krisis?
Sebagai MPV listrik pertama yang dipasarkan di Tanah Air, BYD M6 hadir dengan desain sederhana khas bahasa desain ?Dragon Face? yang juga digunakan pada model BYD lain. Namun, daya tarik utamanya justru terasa ketika masuk ke dalam kabin. (BYD M6 GIIAS 2024
"Pada bulan Maret kami menjual 300-400 mobil," kata Hai, sambil menambahkan bahwa showroom tersebut biasanya menjual antara 200 dan 250 mobil per bulan.
Dia menyebut, lebih dari 50 persen kliennya beralih dari mobil berbahan bakar bensin ke mobil listrik bulan lalu.
Sementara itu, di luar Vietnam, produsen kendaraan listrik China, BYD, juga sedang berkembang pesat. Terutama di Thailand dan Filipina.
Di Bangkok Auto Show awal bulan ini, BYD mendapatkan pesanan terbanyak dibandingkan dengan produsen lain, melampaui Toyota dari Jepang untuk pertama kalinya.
Baca juga: Blokade Iran Ganggu Rantai Pasok Global, Naiknya Harga Energi Bebani Konsumen Dunia
Kemudian, Mae Anne Clarisse Bacquiano, manajer showroom BYD di Manila, Filipina, mengatakan bahwa lalu lintas pengunjung di dealer meningkat.
"Semua itu karena kenaikan harga bahan bakar," katanya, dan menambahkan bahwa semua stoknya untuk bulan ini sudah dipesan oleh pembeli.
Perusahaan tersebut mengatakan kepada analis bahwa diperkirakan pada 2026, kendaraan yang diekspor melampaui 1,5 juta, jauh di atas target awal 1,3 juta.
Tag: #imbas #perang #iran #minat #mobil #listrik #asia #tenggara #meningkat