Terungkap, Trump Sengaja Tampil Ofensif dan Tak Terduga demi Tekan Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sengaja menggunakan bahasa kasar untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.(AFP/NATHAN HOWARD)
19:12
20 April 2026

Terungkap, Trump Sengaja Tampil Ofensif dan Tak Terduga demi Tekan Iran

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut sengaja menggunakan gaya komunikasi yang dianggap tidak stabil dan kasar terhadap Iran saat perang berkecamuk. 

Strategi ini dilakukan untuk menekan Teheran agar mau kembali ke meja perundingan guna mengakhiri konflik. 

Taktik tersebut tercermin dalam serangkaian unggahan kontroversial di media sosial terkait Selat Hormuz yang dibuat awal bulan ini.

Baca juga: Wajah Ganda Trump dalam Perang Iran: Menggertak di Publik, Gelisah di Balik Layar

Retorika Trump paksa Iran capai kesepakatan

Ilustrasi bendera Pakistan, Iran, dan Amerika Serikat.Chat GPT Ilustrasi bendera Pakistan, Iran, dan Amerika Serikat.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Sabtu (18/4/2026), Trump secara sadar menggunakan bahasa kasar dalam beberapa unggahannya. 

Dalam salah satu pesan pada 5 April, ia memerintahkan Iran untuk membuka Selat Hormuz dengan nada keras dan disertai ungkapan kasar. 

Dua hari kemudian, pada 7 April, Trump kembali mengeluarkan ancaman keras bahwa “sebuah peradaban akan mati malam ini” jika Iran tidak membuka jalur tersebut. 

Malam itu juga, gencatan senjata selama dua pekan diumumkan kurang dari 90 menit sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan.

Seorang pejabat pemerintahan mengatakan, pendekatan ini tidak selalu diketahui tim keamanan nasional dan bukan bagian dari rencana resmi. 

Namun, Trump disebut memang sengaja memilih gaya komunikasi yang dianggap tidak lazim agar terlihat “tidak terduga” di mata Iran.

Respons internal

Ketika ditanya oleh penasihatnya, Trump mengaku bahwa ide untuk menggunakan ungkapan kasar itu muncul dari dirinya sendiri. 

Ia berharap gaya tersebut akan lebih “mengena” bagi pihak Iran. Bahkan, Trump sempat menanyakan bagaimana dampak dari strategi tersebut.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio secara pribadi disebut menilai bahwa bahasa keras presiden mungkin dapat mendorong Iran untuk bernegosiasi. Sementara itu, Gedung Putih melalui juru bicaranya, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa langkah Trump bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

“Presiden Trump berkampanye dengan bangga atas janjinya untuk menolak kemampuan rezim Iran mengembangkan senjata nuklir, yang merupakan tujuan dari operasi ini,” ujar Leavitt. 

Ia juga menambahkan bahwa Trump “tetap menjadi pemimpin yang stabil yang dibutuhkan negara ini.

Baca juga: Trump Ungkap Detik-detik Kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman

Kritik dari dalam dan luar negeri

Meski dinilai efektif menekan Iran, unggahan tersebut memicu kekhawatiran luas, bahkan dari anggota Kongres lintas partai dan pemimpin agama yang menghubungi Gedung Putih untuk meminta penjelasan.

Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, mengkritik keras sikap Trump. 

“Ini adalah orang yang sangat sakit. Setiap anggota Partai Republik yang menolak bergabung dengan kami untuk menentang perang ini harus menanggung konsekuensinya,” katanya.

Mantan anggota Kongres dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, juga menentang retorika tersebut. 

“Tidak satu pun bom dijatuhkan ke Amerika. Kita tidak bisa membunuh seluruh peradaban. Ini jahat dan gila,” tulisnya di media sosial.

Kritik juga datang dari tokoh agama. Paus Leo dalam pesan Paskahnya yang menyerukan perdamaian. 

“Biarkan mereka yang memiliki senjata meletakkannya! Biarkan mereka yang memiliki kekuatan untuk memicu perang memilih perdamaian!” ujarnya di hadapan umat di Vatikan.

Hingga kini, arah konflik masih belum pasti. Iran kembali menyatakan bahwa Selat Hormuz yang sempat dibuka kini ditutup lagi, sementara kapal tanker yang melintas dilaporkan menghadapi serangan.

Teheran menegaskan akan terus memblokade selat tersebut selama blokade AS terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung. Di sisi lain, gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dicapai Jumat lalu tampak masih bertahan.

Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa AS dan Iran masih jauh dari kesepakatan akhir. Meski demikian, pejabat Gedung Putih tetap berharap adanya “terobosan” dalam negosiasi dalam beberapa hari ke depan.

Baca juga: Delusi Pergantian Rezim Iran: Trump dan Kekacauan Geopolitik Timur Tengah

Tag:  #terungkap #trump #sengaja #tampil #ofensif #terduga #demi #tekan #iran

KOMENTAR