Industri Ekstrak Bahan Baku Alam Berbasis Ilmiah Perlu Diperkuat
Indonesia memiliki kekayaan alam yang berpotensi untuk dipakai sebagai bahan baku obat. Namun, pemanfaatannya di kalangan medis masih rendah karena masih minimnya riset ilmiah.
Oleh karena itu industri ekstrak bahan baku alam juga harus didorong untuk mengembangkan produk herbal yang tidak hanya berdasar tradisi, tetapi juga berbasis sains dan inovasi.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM RI, Mohamad Kashuri S.Si, Apt., M.Farm, mengatakan pemerintah terus mendorong penguatan industri farmasi berbasis riset dan inovasi.
"BPOM akan terus mendukung penguatan industri berbasis riset agar mampu bersaing di tingkat global,” katanya.
Baca juga: BPOM Temukan 24 Obat Herbal yang Mengandung Bahan Kimia dan Memicu Masalah Jantung, Ini Daftarnya
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara industri, regulator, dan akademisi dalam membangun ekosistem kesehatan yang kuat dan berkelanjutan.
Budaya pemanfaatan tanaman herbal sudah berlangsung turun-temurun, namun diperlukan saintifikasi jamu agar dapat diterima dalam pelayanan kesehatan modern.
Tantangan yang dihadapi antara lain berupa masih banyak produk yang belum terstandardisasi dan biaya riset yang besar.
Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 18.000 jamu yang sudah terdaftar. Apabila jamu tersebut telah melalui uji praklinis, maka statusnya bisa naik menjadi obat herbal terstandar.
Sementara obat fitofarmaka adalah obat bahan alam yang telah melalui uji praklinis, maupun uji klinis. Dari sejak Indonesia merdeka hingga kini, fitofarmaka yang terdaftar di Badan POM baru sebanyak 20 produk.
Baca juga: Pengembangan Fitofarmaka Masih Terkendala Akses JKN
Produk ekstrak bahan alam PT Phytochemindo Reksa telah menjangkau lebih dari 16 negara.
Kerjasama riset dengan universitas
Dalam upaya memajukan obat bahan alam, PT Phytochemindo Reksa meresmikan Pabrik Klapanunggal di Kabupaten Bogor, Jawa Barat (12/5/2026).
Direktur Utama PT Phytochemindo Reksa, Patrick Kalona mengatakan, pabrik Klapanunggal bukan hanya tentang pembangunan fasilitas produksi, tetapi wujud komitmen dalam membangun kemandirian ekstrak bahan baku alam nasional berbasis riset.
"Kami percaya bahwa herbal Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi solusi kesehatan global, selama dikembangkan dengan pendekatan ilmiah yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Baca juga: UNS Solo Jadi Pusat Pengembangan Obat Herbal, Siapkan Gedung Riset dan Uji Klinis
Di tengah meningkatnya tren global terhadap produk kesehatan berbasis natural ingredients, kebutuhan akan bahan baku yang aman, terstandar, dan berbasis pembuktian ilmiah terus meningkat.
"Menjawab kebutuhan tersebut, kami terus memperkuat pengembangan riset yang telah dilakukan sejak tahun 1978 dan kini didukung penerapan standar Cara Pembuatan Obat Bahan Alam yang Baik (CPOBAB) dari Badan POM RI," katanya.
Produk unggulan perusahaan seperti ekstrak kunyit dan ekstrak temulawak telah dipasarkan ke berbagai negara sejak tahun 1992. Hingga kini, produk PT Phytochemindo Reksa telah menjangkau lebih dari 16 negara, menunjukkan potensi besar bahan alam Indonesia di pasar kesehatan global.
Patrick mengatakan, sebagai upaya untuk menjadikan obat herbal sebagai bagian dari sains modern, pihaknya juga terus menjalin kolaborasi dengan institusi akademik untuk melakukan berbagai inovasi.
Baca juga: Minum Jamu Tidak Lagi Kuno, Kini Digemari Anak Muda
Phytochemindo antara lain berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung dalam pengembangan riset produk Rhemaukur hingga terdaftar sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT).
Sementara itu, bersama Universitas Gajah Mada dan Universitas Sanata Dharma mengembangkan ekstrak nano kunyit pada tahun 2022. Setelah itu, kemitraan dengan Universitas Indonesia melahirkan inovasi ekstrak dan kapsul propolis Sulawesi yang diluncurkan pada tahun 2025.
Meski demikian, pemanfaatan obat berbahan alam masih harus didorong oleh pemerintah melalui perluasan penggunaan fitofarmaka di banyak sarana pelayanan kesehatan di Indonesia.
Baca juga: Literasi Konsumen terhadap Produk Herbal Masih Rendah, Ini Tantangan Industri Lokal
Tag: #industri #ekstrak #bahan #baku #alam #berbasis #ilmiah #perlu #diperkuat