AS dan Iran Siap Perang Lagi, Negosiasi Damai Mandek
Ilustrasi perundingan AS dan Iran di Pakistan. Pertemuan Pakistan dan Iran Bahas 3 Poin Penting, Akankah Perang Segera Berakhir?(Chat GPT)
06:54
21 April 2026

AS dan Iran Siap Perang Lagi, Negosiasi Damai Mandek

Amerika Serikat dan Iran kembali mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka siap untuk kembali berperang di tengah ketidakpastian nasib gencatan senjata yang hampir berakhir.

Situasi ini terjadi saat upaya diplomasi kedua yang sebelumnya diumumkan akan dilanjutkan di Pakistan justru belum jelas kelanjutannya.

Kedua belah pihak juga saling menuding melanggar gencata yang telah disepakati pada Selasa (7/4/2026).

Baca juga: Terungkap, Trump Sengaja Tampil Ofensif dan Tak Terduga demi Tekan Iran

Negosiasi mandek

Wakil Presiden AS JD Vance tiba untuk pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan di tengah perundingan damai AS-Iran di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026). Vance tiba di ibu kota Pakistan untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan perdamaian penting dengan Iran, di bawah naungan gencatan senjata rapuh selama dua minggu antara Washington dan Teheran, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator.AFP/JACQUELYN MARTIN Wakil Presiden AS JD Vance tiba untuk pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan di tengah perundingan damai AS-Iran di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026). Vance tiba di ibu kota Pakistan untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan perdamaian penting dengan Iran, di bawah naungan gencatan senjata rapuh selama dua minggu antara Washington dan Teheran, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa Wakil Presiden JD Vance siap kembali ke Islamabad untuk melanjutkan perundingan.

Namun, Iran belum memastikan keikutsertaannya dan justru menuduh Washington melanggar gencatan senjata melalui blokade pelabuhan dan penyitaan kapal.

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan kritik keras terhadap langkah AS. Ia mengatakan, “Dengan memberlakukan blokade dan melanggar gencatan senjata, Trump ingin mengubah meja perundingan ini menjadi meja penyerahan atau membenarkan dimulainya kembali permusuhan, sesuai keinginannya.”

Ia menegaskan, Iran tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan. “Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua minggu terakhir kami telah bersiap untuk menunjukkan kartu baru di medan perang,” ujarnya.

Trump ancam serangan

Presiden Donald Trump juga menuduh Iran melanggar kesepakatan dengan mengganggu kapal di Selat Hormuz.

Ia menyatakan bahwa blokade yang dilakukan AS “benar-benar menghancurkan” Iran dan tidak akan dihentikan sampai tercapai kesepakatan terkait program nuklir Teheran.

Di sisi lain, Trump menegaskan, Iran seharusnya hadir dalam perundingan di Pakistan.

“Kami sepakat untuk berada di sana,” ujarnya. Ia juga memperingatkan bahwa jika gencatan senjata berakhir, “maka banyak bom akan mulai berjatuhan.”

Dalam pernyataan terpisah, Trump menyebut sangat kecil kemungkinan dirinya memperpanjang gencatan senjata dua minggu tersebut.

Selat Hormuz memanas

Ketegangan juga meningkat di jalur vital energi dunia, Selat Hormuz. Iran kembali menutup jalur tersebut setelah sempat dibuka, memicu lonjakan harga minyak global.

Baca juga: Wajah Ganda Trump dalam Perang Iran: Menggertak di Publik, Gelisah di Balik Layar

Garda Revolusi Iran memperingatkan akan menargetkan kapal mana pun yang melintas tanpa izin. Di sisi lain, AS menilai Iran justru menjadi pihak yang memicu ketegangan di kawasan tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada pasar global.

Warga Iran tertekan

Meski aktivitas di Teheran mulai terlihat normal dengan bandara dibuka kembali dan warga beraktivitas, kondisi sebenarnya dinilai tidak lebih baik.

Seorang dokter berusia 30 tahun mengatakan, “Mari kita lihat apa yang terjadi pada Selasa. Satu-satunya hal yang ditunjukkan oleh 50 hari perang adalah tidak ada yang peduli pada rakyat Iran.”

Seorang warga lain, Saghar, 39, mengungkapkan pesimisme terhadap kondisi ekonomi. “Ekonomi sangat buruk. Mereka menahan orang tanpa alasan,” ujarnya.

Isu Nuklir

Salah satu isu utama dalam negosiasi adalah cadangan uranium yang diperkaya milik Iran. Trump mengeklaim Teheran telah setuju untuk menyerahkannya, namun Kementerian Luar Negeri Iran membantah keras.

Juru bicara Iran menegaskan bahwa uranium tersebut “tidak akan dipindahkan ke mana pun” dan opsi itu “tidak pernah dibahas” dalam negosiasi.

Di saat yang sama, konflik lain di kawasan juga belum sepenuhnya mereda. Israel dan Lebanon dijadwalkan melanjutkan perundingan di Washington, meski bentrokan sporadis masih terjadi dan ribuan warga Lebanon mulai kembali ke rumah mereka.

Baca juga: Ketika Selat Hormuz Jadi Senjata Baru Iran...

Tag:  #iran #siap #perang #lagi #negosiasi #damai #mandek

KOMENTAR