Trump Sempat Mau Pencet Tombol Senjata Nuklir, Tapi Dihalangi Jenderal Caine
Kolase foto senjata nuklir AS (kiri) dan Presiden AS Donald Trump (kanan). [Suara.com]
10:40
23 April 2026

Trump Sempat Mau Pencet Tombol Senjata Nuklir, Tapi Dihalangi Jenderal Caine

Presiden Amerika Serikat disebut sempat hendak memakai kode aktivasi senjata nuklir untuk memusnahkan Iran. Namun, sebelum ia sempat menggunakannya, Trump dicegah seorang jenderal.

Dikutip Newsweek, Kamis (23/4/2026), spekulasi itu dilontarkan oleh mantan perwira agen intelijen AS atau CIA, Larry Johnson.

"Trump mencoba mengakses kode nuklir dalam rapat darurat terkait perang di Iran," kata Larry Johnson dalam acara YouTube Judging Freedom, yang dipandu Andrew Napolitano.

Mulanya, kata Johnson, trump dan staf militernya tengah berdiskusi mengenai konflik yang sedang berlangsung, lalu sang presiden menunjukkan intensi untuk menggunakan kekuatan nuklir.

Namun, langkah tersebut kabarnya berhasil dihentikan oleh Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan.

Dalam penuturannya, Johnson memberikan gambaran yang cukup spesifik mengenai suasana di dalam ruang rapat tersebut.

Ia menyebutkan, konfrontasi antara sang presiden dan pucuk pimpinan militer tersebut berakhir dengan ketegangan yang sangat tinggi.

Kedutaan Iran mengunggah video AI Yesus memukul Trump sebagai bentuk balasan atas unggahan kontroversial sebelumnya. (The Hill)Kedutaan Iran mengunggah video AI Yesus memukul Trump sebagai bentuk balasan atas unggahan kontroversial sebelumnya. (The Hill)

“Salah satu laporan yang muncul dari pertemuan di Gedung Putih itu adalah, Trump ingin menggunakan kode nuklir dan Jenderal Dan Caine berdiri dan berkata ‘Tidak’,” ujar Johnson dalam wawancara tersebut.

Lebih lanjut, Johnson menjelaskan bagaimana Jenderal Caine mengambil posisi tegas untuk menentang permintaan presiden ke-45 AS tersebut, yang kini berusia 79 tahun.

Johnson menambahkan detail mengenai suasana setelah rapat yang diduga terjadi pada Sabtu, 18 April tersebut.

“Dia menggunakan hak istimewanya sebagai kepala militer, bisa dibilang begitu. Rupanya itu adalah sebuah keributan besar. Ada foto-foto Caine keluar dari pertemuan itu dengan kepala tertunduk. Ada beberapa hal yang sangat aneh terjadi di Washington DC,” ungkap Johnson.

Konteks Perang Operation Epic Fury

Ketegangan ini tidak muncul di ruang hampa. Sejak Februari, militer AS dan Israel telah melancarkan serangan udara masif ke wilayah Iran dalam sebuah operasi yang diberi nama Operation Epic Fury.

Konflik ini telah menelan korban jiwa yang sangat besar. Berdasarkan laporan AP, perang ini telah menewaskan sedikitnya 3.000 orang di Iran dan lebih dari 2.290 orang di Lebanon.

Dampak perang juga dirasakan oleh pihak sekutu, dengan matinya 15 tentara Israel di Lebanon dan 13 anggota militer AS di berbagai titik di kawasan tersebut.

Tanggal 3 April, situasi semakin genting ketika sebuah pesawat tempur F-15 Eagle milik AS ditembak jatuh di atas wilayah Iran, yang menyebabkan dua pilot Amerika dinyatakan hilang.

Laporan dari Wall Street Journal menyebutkan, Trump sangat emosional menanggapi insiden F-15 tersebut.

Ia dikabarkan berteriak kepada para pejabat militer selama berjam-jam, dan menuntut misi penyelamatan segera.

Ketakutan akan terulangnya tragedi krisis sandera Iran tahun 1979 dilaporkan menghantui pikiran Trump, membuatnya semakin tidak terduga dalam mengambil keputusan.

Keraguan dan Verifikasi Data

Meskipun klaim Larry Johnson telah menjadi pembicaraan hangat di kalangan pengamat politik, penting untuk dicatat bahwa hingga saat ini belum ada bukti kuat yang mendukung pernyataan tersebut.

Pihak Gedung Putih dan Pentagon, belum memberikan komentar resmi meskipun telah dihubungi oleh berbagai media internasional seperti Newsweek.

Laporan dari The Mirror US menekankan, tidak ada catatan resmi mengenai rapat darurat yang terjadi pada hari Sabtu, 18 April.

Briefing Pentagon terakhir yang tercatat secara publik dilakukan pada 16 April, di mana Menteri Pertahanan Pete Hegseth tampil bersama Jenderal Caine.

Selain itu, muncul laporan paralel yang menyebutkan bahwa Trump mulai "diasingkan" dari Situation Room (Ruang Situasi) selama misi-misi krusial penyelamatan di Iran.

Para pejabat tinggi militer dan intelijen dikabarkan khawatir, temperamen Trump yang meledak-ledak dan sifatnya yang sulit ditebak, dapat mengganggu jalannya operasi militer yang sangat sensitif.

Editor: Bernadette Sariyem

Tag:  #trump #sempat #pencet #tombol #senjata #nuklir #tapi #dihalangi #jenderal #caine

KOMENTAR