Manuver China Saat Krisis Selat Hormuz, antara Diplomasi dan Ambisi
Ilustrasi bendera China.(Chat GPT)
11:06
23 April 2026

Manuver China Saat Krisis Selat Hormuz, antara Diplomasi dan Ambisi

- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sempat mengungkap keterlibatan China di balik layar dalam meredam ketegangan dengan Iran. 

Kini, China mulai mengambil langkah yang lebih terbuka untuk mendesak Teheran agar segera duduk di meja perundingan guna mengakhiri konflik yang berkepanjangan.

Langkah diplomatik China semakin nyata ketika pekan lalu mereka mengeluarkan tujuan tambahan untuk perdamaian Timur Tengah, melengkapi rencana perdamaian lima poin yang telah ada sebelumnya. 

Baca juga: China Respons Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran, Sebut Situasi Kritis

Dalam pertemuan dengan negara-negara Teluk, Beijing secara eksplisit menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz

Keaktifan ini bukan tanpa alasan. China memiliki kepentingan ekonomi dan geopolitik yang sangat besar di kawasan tersebut. 

Dikutip dari Newsweek, Selasa (21/4/2026), China melihat situasi ini sebagai momentum emas untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah, sekaligus mengambil peran yang selama ini sulit dilakukan oleh Gedung Putih, yakni menghentikan perang.

Beijing bahkan berpeluang meraih kemenangan diplomatik besar jika dapat membantu mengakhiri konflik dengan cara yang memuaskan Washington dan tidak sepenuhnya mengasingkan Teheran.

Baca juga: Perang Iran Bikin Taiwan Ragukan Senjata AS, Tak Yakin Bisa Lawan China

Kepentingan ekonomi

Sebagai sekutu ekonomi dan diplomatik utama bagi Iran, China berada dalam posisi yang unik. 

Meski sekitar 13 persen pasokan minyaknya diyakini berasal dari Teheran, ekonomi China dinilai lebih tangguh dalam menghadapi guncangan energi dibandingkan negara lain. 

Hal ini disebabkan oleh strategi penimbunan cadangan minyak yang telah dilakukan sejak awal masa jabatan kedua Trump. 

Baca juga: China Luncurkan Jaringan Uji Coba Pra-6G, Diklaim 10 Kali Lebih Cepat dari 5G

Namun, gangguan terus-menerus di Teluk mulai menggerus cadangan energi tersebut.

Data terbaru menunjukkan, penurunan impor minyak dari Teluk sebesar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Kondisi inilah yang memicu Beijing untuk beralih dari diplomasi pasif menuju peran konstruktif yang lebih agresif. 

Keberhasilan dalam mendamaikan Washington dan Teheran tidak hanya akan mengamankan energi mereka, tetapi juga menjadi modal diplomatik yang kuat menjelang kunjungan kenegaraan Trump ke China yang bertujuan untuk memperbaiki hubungan bilateral kedua negara.

Baca juga: China Bantah Kapal yang Ditahan AS Berisi Hadiah untuk Iran

Hubungan dekat China dengan Iran

Salah satu kekuatan utama China di Iran adalah jalur komunikasinya yang tetap terbuka dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). 

Analis dari Planet Nine, Tuvia Gering, mencatat bahwa China kemungkinan besar berasumsi IRGC akan tetap menjadi kekuatan dominan dalam politik Iran di bawah tokoh-tokoh seperti Mojtaba Khamenei.

"Ini adalah 'kabar baik' bagi Beijing, mengingat mereka telah melembagakan hubungan dengan IRGC," kata Gering. 

Hubungan ini memiliki dimensi ekonomi yang kuat karena Beijing secara efektif mendanai organisasi tersebut melalui pembelian minyak Iran yang dikenai sanksi. 

Kedekatan inilah yang memungkinkan China memiliki daya tawar tinggi dalam menekan faksi-faksi di Teheran agar tetap berada dalam koridor gencatan senjata.

Baca juga: Trump Klaim AS Tangkap Kapal yang Bawa Hadiah dari China untuk Iran

Keseimbangan diplomasi dan hubungan AS-China

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berbincang saat meninggalkan bandara setelah pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, Rabu (30/10/2025).REUTERS/EVELYN HOCSETIN Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berbincang saat meninggalkan bandara setelah pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, Rabu (30/10/2025).

Meskipun mendukung Iran, strategi diplomatik Presiden Xi Jinping terlihat sangat terukur. 

Juru bicara kedutaan China di Washington, Liu Pengyu, menegaskan bahwa Beijing memegang posisi yang objektif dan adil. 

"Akar penyebab gangguan di Selat Hormuz adalah konflik militer. Untuk menyelesaikan masalah ini, konflik harus dihentikan sesegera mungkin," tegas Liu. 

China berupaya mendorong solusi diplomatik tanpa harus terlibat langsung dalam eskalasi militer, namun tetap memberikan tekanan halus pada Teheran.

Peneliti dari Nanyang Technological University Singapura, Adrian Ang menilai, langkah-langkah Beijing sejauh ini relatif tidak memakan biaya besar namun menempatkan mereka dalam posisi tawar yang lebih baik dibandingkan Washington. 

Baca juga: Terkuak, Perusahaan Pertahanan NATO Diam-diam Bekerja Sama dengan Satelit Militer China

China bahkan rela meredam kritiknya terhadap AS, seperti saat mereka tidak mengutuk penyitaan kapal kargo Iran Touska oleh militer Amerika baru-baru ini.

Bagi Beijing, hubungan dengan AS tetap menjadi prioritas utama di atas kepentingannya dengan Iran. 

Gering menyebutkan, ketika dipaksa memilih, China akan mengutamakan hubungannya dengan AS karena ketidakseimbangan nilai ekonomi kedua negara tersebut bagi Beijing. 

"Dengan begitu banyak hal yang dipertaruhkan dalam keterlibatan tingkat tinggi AS-China, termasuk kunjungan Trump ke Beijing, hierarki prioritas tetap jelas, dan bagi China, itu pada dasarnya adalah 'Amerika yang utama'," pungkasnya.

Potensi keberhasilan China dalam membuka kembali Selat Hormuz sebelum kunjungan Trump bulan depan bisa menjadi kejutan diplomatik besar. 

Tag:  #manuver #china #saat #krisis #selat #hormuz #antara #diplomasi #ambisi

KOMENTAR