Terinspirasi Iran, Indonesia Ingin Pungut Tarif Kapal di Selat Malaka
Ilustrasi Selat Malaka.(WIKIMEDIA COMMONS/DRONEPICR)
15:06
23 April 2026

Terinspirasi Iran, Indonesia Ingin Pungut Tarif Kapal di Selat Malaka

Indonesia tengah menjajaki rencana mengenakan tarif pada kapal yang melintas di Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Gagasan ini disebut terinspirasi dari langkah Iran yang memungut biaya kapal di Selat Hormuz.

Pemerintah menilai potensi tersebut dapat meningkatkan peran strategis Indonesia dalam perdagangan global sekaligus menambah penerimaan negara.

Baca juga: Ranjau Iran Sulit Dideteksi, Pentagon Butuh Waktu 6 Bulan Bersihkan Selat Hormuz

Namun, rencana ini masih tahap awal dan menghadapi tantangan besar, termasuk penolakan dari negara tetangga.

Terinspirasi skema Iran di Selat Hormuz

Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.AFP/GIUSEPPE CACACE Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.

Dilansir Bernama, Rabu (22/4/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa ide pengenaan tarif ini merujuk pada wacana Iran yang berencana memungut biaya dari kapal yang melintasi Selat Hormuz.

“Iran sekarang merencanakan untuk mengenakan biaya pada kapal yang melewati Selat Hormuz. Jika kita membaginya menjadi tiga—Indonesia, Malaysia, dan Singapura—nilainya bisa sangat besar. Wilayah kita yang paling luas dan terpanjang,” ujarnya.

Ia menilai pendekatan serupa berpotensi memberikan nilai ekonomi signifikan jika diterapkan di Selat Malaka melalui kerja sama tiga negara pesisir.

Menurut Purbaya, usulan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia tidak lagi memandang diri sebagai negara pinggiran, melainkan pemain utama dalam ekonomi global.

Baca juga: Manuver China Saat Krisis Selat Hormuz, antara Diplomasi dan Ambisi

“Indonesia bukan negara marjinal. Kita berada di jalur perdagangan dan energi global yang penting, tetapi kapal yang melewati Selat Malaka tidak dikenakan biaya,” katanya, seperti dikutip Free Malaysia Today.

Ia menambahkan bahwa Indonesia perlu mulai berpikir lebih progresif dalam memanfaatkan sumber daya strategisnya, namun tetap dilakukan secara terukur.

“Dengan semua sumber daya yang kita miliki, kita tidak boleh berpikir defensif. Kita harus mulai berpikir lebih ofensif, tetapi dengan cara yang terukur.”

Jalur vital dunia yang belum bertarif

Selat Malaka merupakan jalur penting yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik serta dilalui sekitar 40 persen perdagangan global, termasuk pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Meski memiliki posisi strategis, hingga kini tidak ada pungutan bagi kapal yang melintasi perairan tersebut.

Kondisi ini berbeda dengan sejumlah titik strategis lain seperti Terusan Suez dan Terusan Panama yang mengenakan biaya transit.

Butuh persetujuan Malaysia dan Singapura

Purbaya menegaskan bahwa kebijakan ini tidak bisa diputuskan sepihak. Meski Indonesia menguasai sebagian besar wilayah Selat Malaka, penerapan tarif harus melalui kesepakatan dengan Malaysia dan Singapura.

“Jika saja semudah itu, mungkin bisa dibagi dua atau tiga. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu,” ujarnya.

Ia juga mengakui bahwa rencana ini masih dalam tahap awal dan belum tentu segera direalisasikan, mengingat kompleksitas koordinasi regional dan potensi dampaknya terhadap arus perdagangan global.

Rencana ini diketahui juga berpotensi mendapat tentangan dari industri pelayaran global, yang selama ini mengandalkan Selat Malaka sebagai jalur bebas hambatan.

Baca juga: Meja Makan Geopolitik di Selat Hormuz: Siapa Mengendalikan Menu Dunia?

Tag:  #terinspirasi #iran #indonesia #ingin #pungut #tarif #kapal #selat #malaka

KOMENTAR