Ada Ketegangan di Kubu Pemimpin Iran, Hambat Upaya Negosiasi dengan AS
Warga Iran mengibarkan bendera negara saat menghadiri pemakaman para komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel, di Lapangan Enghelab, Teheran, 11 Maret 2026.(AFP/ATTA KENARE)
12:54
25 April 2026

Ada Ketegangan di Kubu Pemimpin Iran, Hambat Upaya Negosiasi dengan AS

- Ketegangan antara para pemimpin Iran terkait perundingan dengan Amerika Serikat (AS) mencuat ke permukaan belakangan ini.

Presiden AS Donald Trump menyebut perpecahan tersebut sebagai penghalang untuk melanjutkan pembicaraan.

Para pemimpin politik Iran sendiri pada Jumat (24/4/2026), kompak dan dengan cepat membantah adanya perpecahan.

“Di Iran, tidak ada ekstremis atau moderat,” kata Ghalibaf.

“Kita semua adalah 'orang Iran' dan 'revolusioner'.” Araghchi dan Presiden Masoud Pezeshkian mengeluarkan pernyataan yang hampir identik.

Baca juga: Iran Klaim Baru Pakai Sebagian Kekuatan Rudal lawan AS dan Israel


Namun, perbedaan pendapat terlihat jelas pada putaran pertama pembicaraan awal April lalu, menurut laporan Wall Street Journal, Jumat (24/4/2026).

Para mediator mengatakan Iran menjadi tidak jelas ketika didesak oleh AS untuk memberikan rincian spesifik tentang isu-isu yang sebelumnya dinyatakan bersedia untuk didiskusikan, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Kini semakin jelas bahwa terdapat perpecahan mendalam di dalam kepemimpinan Teheran mengenai sejauh mana upaya harus dilakukan untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika.

Baca juga: Iran Tetap Buka Pintu Negosiasi dengan AS, Ajukan Syarat Mutlak

Perbedaan pendapat hambat peluang negosiasi

Kondisi ini menjadi sebuah kekhawatiran karena para mediator berupaya keras untuk mengatur putaran kedua pembicaraan AS dan Iran di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.

Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner akan pergi ke Islamabad untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat Iran, kata sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Jumat (24/4/2026) di Fox News.

Wakil Presiden JD Vance akan bersiap untuk berangkat jika ada kemajuan dalam negosiasi, katanya.

Baca juga: Menlu Iran ke Pakistan Hari Ini, tapi Bukan untuk Negosiasi dengan AS

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Islamabad pada Jumat, tetapi media pemerintah Iran mengatakan tidak ada pertemuan yang direncanakan.

Para analis mengatakan, perbedaan pendapat di dalam pemerintahan Iran mengenai seberapa banyak konsesi yang harus diberikan tampaknya mempersulit mereka untuk bernegosiasi.

“Mesin pengambilan keputusan di tingkat tertinggi mengalami hambatan dan keraguan,” ujar Mohamed Amersi, ahli Timur Tengah di Dewan Penasihat Global Wilson Center, lembaga think tank di Washington.

“Debat internal tentang apa yang terbaik untuk kepentingan Iran menunda waktu yang dibutuhkan untuk mencapai konsensus,” lanjut dia.

Baca juga: Menlu Iran Disebut Berangkat ke Pakistan, Perundingan dengan AS Terwujud?

Terjadi konflik di kubu Iran

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dilaporkan tengah digadang-gadang Amerika Serikat untuk menjadi Pemimpin Baru Iran.AFP Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dilaporkan tengah digadang-gadang Amerika Serikat untuk menjadi Pemimpin Baru Iran.

Selama perang berlangsung, kepemimpinan Iran menunjukkan persatuan dalam pesan politiknya dan mempertahankan komando ketat atas angkatan bersenjatanya.

Namun, kekompakan itu tampaknya mulai terkikis seiring upaya untuk mendapatkan keringanan sanksi dengan mencapai kesepakatan dengan AS, yang kemungkinan membutuhkan konsesi yang sulit.

Terjadi “pertarungan” sengit antara kelompok garis keras yang baru berkuasa di Korps Garda Revolusi (IRGC) dan di berbagai kalangan dalam sistem politik, melawan para pejabat tinggi yang lebih berfokus pada pemulihan ekonomi Iran yang terpuruk.

Para pemimpin garis keras di Iran semakin menekan perwakilan Teheran agar tidak berkompromi.

Baca juga: Menhan Israel Sebut Akan Hapus Rezim Khamenei jika Perang Iran Berlanjut

Mereka memanfaatkan media massa dalam negeri dan media sosial untuk mengecam para negosiator utama Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Araghchi.

Mereka dianggap terlibat dalam pembahasan mengenai program nuklir Iran pada putaran pertama perundingan dengan AS.

Mahmoud Nabavian, anggota parlemen ultrakonservatif bagian dari delegasi Iran di Pakistan, secara terbuka menyerang cara Ghalibaf memimpin perundingan tersebut.

Baca juga: Perang Iran Mengancam Ukraina, Berisiko Hambat Sistem Pertahanan Udara

“Dalam negosiasi Pakistan, kita melakukan kesalahan strategis,” katanya kepada Student News Network, sebuah kantor berita resmi yang bersekutu dengan kelompok garis keras.

“Seharusnya kita tidak mengangkat isu nuklir untuk dinegosiasikan. Dengan melakukan itu, musuh menjadi lebih berani,” sambungnya.

Ahmad Vahidi, yang memimpin IRGC, juga menentang kompromi yang terlalu besar, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Baca juga: China Tiba-tiba Minta Warganya Keluar Iran Segera, Ada Apa?

Teheran kehilangan sosok pemimpin tertinggi yang kuat

Sulit untuk menarik kesimpulan pasti tentang cara kerja internal kepemimpinan Iran yang tidak terlalu transparan.

Debat publik baru-baru ini setidaknya yang ketiga antara kedua kubu, termasuk langkah-langkah garis keras awal untuk membungkam upaya para pejabat yang lebih pragmatis.

Terutama dalam meredakan ketegangan dengan negara-negara tetangga Arab di Teluk dan di Selat Hormuz.

Trump menyebut perpecahan di dalam “tubuh” Iran tersebut sebagai penghalang untuk melanjutkan pembicaraan.

Baca juga: AS Sebut Tidak Larang Iran Main di Piala Dunia 2026, tapi Tolak Pemain yang Terkait IRGC

Perbedaan pendapat juga diperparah oleh ketiadaan pemimpin tertinggi yang kuat dan hadir untuk mengambil risiko keputusan sulit dan menyelaraskan berbagai faksi.

Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei belum terlihat atau terdengar sejak ia mengambil alih jabatan tertinggi setelah ayahnya terbunuh di awal perang.

Ketidakhadiran Khamenei di tengah perdebatan yang berkecamuk ini menyoroti betapa Iran saat ini kekurangan figur yang dapat menjadi penentu akhir keputusan-keputusan penting terkait keamanan nasional.

Tag:  #ketegangan #kubu #pemimpin #iran #hambat #upaya #negosiasi #dengan

KOMENTAR