IEA: Penjualan Kendaraan Listrik Pecah Rekor di Hampir 100 Negara
Penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) kembali mencatatkan rekor global.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperkirakan penjualan mobil listrik dunia akan mencapai 23 juta unit pada 2026 atau hampir 30 persen dari total penjualan mobil global tahun ini.
Tren tersebut didorong kenaikan harga bahan bakar, kebijakan pemerintah, hingga makin kompetitifnya harga kendaraan listrik di berbagai negara.
Baca juga: Singapura Punya 30.500 Stasiun Pengisian Daya Kendaraan Listrik, Lampaui Separuh Target
Ilustrasi kendaraan listrik.
Dalam laporan Global EV Outlook 2026 yang dikutip pada Kamis (21/5/2026), IEA mencatat penjualan mobil listrik global tumbuh 20 persen pada 2025 hingga melampaui 20 juta unit.
Dengan capaian tersebut, satu dari empat mobil baru yang terjual di dunia tahun lalu merupakan kendaraan listrik.
IEA menyebut momentum pertumbuhan ini terjadi di hampir 100 negara yang mencatat rekor penjualan EV sepanjang 2025.
Organisasi tersebut menilai pertumbuhan pasar kendaraan listrik kini tidak lagi hanya ditopang China, Eropa, dan Amerika Serikat, tetapi mulai meluas ke negara-negara berkembang.
Baca juga: Pemerintah Siapkan Insentif untuk Kendaraan Listrik, Ini Rinciannya
“Setelah pertumbuhan kuat tahun lalu, penjualan mobil listrik global diperkirakan kembali meningkat pada 2026,” tulis IEA dalam laporan tersebut.
Lembaga itu juga menyoroti kondisi krisis energi global dan lonjakan harga minyak turut mempercepat minat masyarakat terhadap kendaraan listrik. Konsumen di berbagai negara mulai melihat EV sebagai alternatif untuk menekan pengeluaran energi rumah tangga.
China tetap jadi motor utama
Ilustrasi kendaraan listrik atau electric vehivle (EV).
China masih menjadi pasar kendaraan listrik terbesar di dunia. Dalam laporannya, IEA menyebut penjualan mobil listrik di China mencapai sekitar 12,9 juta unit pada 2025, meningkat 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pangsa kendaraan listrik di pasar otomotif China juga terus meningkat. IEA memperkirakan sekitar 60 persen mobil baru yang dijual di China pada 2025 merupakan kendaraan listrik.
Baca juga: Tak Hanya Dorong Konsumsi, Insentif Kendaraan Listrik Disiapkan untuk Tekan Beban BBM
Faktor pendorong utamanya adalah insentif pemerintah untuk mengganti kendaraan lama serta penurunan harga kendaran listrik di pasar domestik.
Persaingan harga di China bahkan membuat produsen kendaraan listrik di negara tersebut makin agresif mengekspor produknya ke pasar internasional.
Menurut Financial Times, China memproduksi hampir 75 persen kendaraan listrik dunia pada 2025.
Kondisi itu mendorong ekspansi produsen China ke Asia Tenggara, Amerika Latin, hingga Eropa. IEA memperkirakan pangsa pasar kendaraan listrik di Asia Tenggara dapat meningkat dari 20 persen pada 2025 menjadi 60 persen pada 2035.
Baca juga: Menperin Temui Purbaya, Bahas Penguatan Manufaktur hingga Insentif Kendaraan Listrik
Eropa catat pertumbuhan tercepat
Di antara pasar utama dunia, Eropa mencatat pertumbuhan penjualan kendaraan listrik paling tinggi. IEA menyebut penjualan mobil listrik di kawasan tersebut naik lebih dari 30 persen pada 2025 sehingga mencakup 28 persen dari total penjualan mobil baru.
Pertumbuhan itu dipicu aturan emisi karbon Uni Eropa yang semakin ketat. Selain itu, harga kendaraan listrik di Eropa mulai lebih kompetitif dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.
Financial Times melaporkan lebih dari 30 persen kendaraan listrik yang dijual di Eropa pada 2025 memiliki harga lebih murah dibandingkan mobil bensin setara.
Ilustrasi mobil listrik.
Lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik juga turut meningkatkan minat masyarakat Eropa terhadap EV.
Baca juga: Purbaya dan Menperin Akan Bertemu Besok, Bahas Insentif untuk Kendaraan Listrik
Reuters melaporkan penjualan kendaraan listrik di Eropa melonjak 34 persen secara tahunan pada April 2026.
Data dari E-Mobility Europe, New Automotive, dan Fier Automotive menunjukkan sebanyak 201.541 kendaraan listrik baru terdaftar di 15 negara Eropa sepanjang April 2026.
Norwegia menjadi negara dengan tingkat adopsi tertinggi, di mana 98,6 persen mobil baru yang dijual merupakan EV. Denmark menyusul dengan pangsa pasar 81,9 persen.
Reuters juga mencatat produsen otomotif seperti Volkswagen, Stellantis, Renault, Volvo, hingga Seat/Cupra mengalami kenaikan pesanan kendaraan listrik dalam beberapa bulan terakhir.
Baca juga: AEML Sambut Insentif Pajak Kendaraan Listrik, Dorong Ekosistem EV Nasional
Negara berkembang mulai tancap gas
Selain pasar utama dunia, pertumbuhan kendaraan listrik juga mulai terlihat di negara-negara berkembang. IEA menyebut rekor penjualan EV terjadi di hampir 100 negara pada 2025.
Beberapa negara bahkan mencatat pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan pasar utama dunia.
Laporan menunjukkan Indonesia mengalami pertumbuhan penjualan kendaraan listrik sebesar 119 persen, sementara Brasil tumbuh 220 persen. India juga mencatat kenaikan mendekati 100 persen.
Financial Times menyebut pertumbuhan pasar Asia-Pasifik diperkirakan melampaui 50 persen pada 2026, sedangkan Amerika Latin mencapai 45 persen.
Baca juga: Asosiasi: Kepastian Kebijakan Kendaraan Listrik Kunci Hadapi Ancaman Krisis Energi
Ilustrasi mobil listrik.
Menurut IEA, meluasnya pasar kendaraan listrik ke negara berkembang dipengaruhi turunnya harga baterai dan makin banyaknya model EV berbiaya lebih murah.
“Model kendaraan listrik yang lebih terjangkau membantu memperluas pasar,” tulis IEA.
Harga baterai dan biaya operasional jadi faktor utama
IEA mencatat salah satu faktor utama yang membuat kendaraan listrik makin diminati adalah biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan mobil konvensional.
Kenaikan harga bahan bakar global sejak krisis energi membuat masyarakat mulai menghitung ulang biaya penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak.
Baca juga: Pajak Kendaraan Listrik Diatur Pemda Bakal Bikin Investor Bingung
Di sejumlah negara, pengeluaran pengisian listrik kendaraan dinilai lebih murah dibandingkan bensin atau solar.
Reuters melaporkan lonjakan harga minyak dunia hingga di atas 100 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1,76 juta per barrel turut mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik.
Selain itu, biaya produksi baterai yang terus turun membuat harga jual EV makin kompetitif. IEA menilai tren ini menjadi salah satu alasan penting di balik percepatan adopsi kendaraan listrik global.
Penjualan kendaraan listrik global diprediksi terus naik
IEA memperkirakan tren pertumbuhan kendaraan listrik masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Pada 2026, penjualan mobil listrik diproyeksikan mencapai 23 juta unit secara global atau hampir 30 persen dari seluruh penjualan mobil dunia.
Baca juga: Pemprov Jateng Masih Kaji Pembebasan Pajak Kendaraan Listrik
Lembaga itu menilai momentum kendaraan listrik kini semakin kuat karena didukung kombinasi kebijakan pemerintah, investasi industri otomotif, dan perubahan perilaku konsumen.
“Momentum kendaraan listrik terus meningkat secara global,” tulis IEA.
Ilustrasi kendaraan listrik, mobil listrik.
Di sisi lain, investasi besar-besaran juga terus mengalir ke ekosistem kendaraan listrik. Reuters mencatat Eropa telah menggelontorkan investasi hampir 200 miliar euro atau sekitar Rp 3.532 triliun untuk pengembangan industri EV.
IEA juga mencatat peningkatan kapasitas produksi baterai global diperkirakan akan mampu memenuhi permintaan kendaraan listrik hingga akhir dekade ini.
Baca juga: Polemik Pajak Kendaraan Listrik, Pemerintah Pastikan Tetap Nol Persen
Meski demikian, lembaga tersebut mengingatkan bahwa kondisi ekonomi global masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi daya beli konsumen dan pasar otomotif secara keseluruhan.
Namun untuk saat ini, tren kendaraan listrik dunia masih menunjukkan arah pertumbuhan yang kuat, dengan rekor penjualan tercipta di semakin banyak negara.
Tag: #penjualan #kendaraan #listrik #pecah #rekor #hampir #negara