Tanda Tanya Keamanan di Jamuan Trump, Penembak Kok Bisa Masuk?
- Presiden Donald Trump memuji aparat penegak hukum dan respons Secret Service atas aksi penembakan yang terjadi saat jamuan Gedung Putih, Sabtu (25/4/2026).
Namun, insiden tersebut menimbulkan pertanyaan tentang tingkat keamanan yang diterapkan pada acara penting yang dipenuhi oleh pejabat tinggi Amerika Serikat, selebritas, dan Presiden Donald Trump.
Dikutip dari Newsweek, laporan Senat dari Komite Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintahan yang menyelidiki penembakan ini mengkritik pola kegagalan komunikasi dan kelalaian yang mengkhawatirkan di Secret Service.
Secret Service bertanggung jawab untuk melindungi pejabat senior AS, seperti presiden dan wakil presiden, serta kepala negara yang berkunjung.
Baca juga: Pelaku Penembakan di Jamuan Trump Sempat Tulis Pesan, Apa Isinya?
Celah keamanan di lokasi kejadian
Karena kejadiannya masih tahap awal, sulit untuk memastikan apakah langkah-langkah keamanan yang memadai telah diterapkan.
Gambaran lengkapnya kemungkinan akan muncul dalam beberapa hari mendatang.
Namun, pendapat sejauh ini masih beragam. Misha Komadovsky, koresponden AS untuk media Jerman DW, mengatakan bahwa hanya satu tiket masuk yang dibutuhkan untuk memasuki ballroom dan tidak ada pemeriksaan keamanan sebelum lobi.
Leonardo Feldman, reporter Gedung Putih dari Newsweek menuturkan, tim keamanan hanya ditempatkan di bagian luar ruang ballroom, bukan di sekitar hotel itu sendiri.
Baca juga: Kronologi hingga Pelaku Penembakan Jamuan Malam Trump
Tidak ada alat pemindai keamanan di pintu masuk gedung, meskipun ada petugas keamanan yang ditempatkan di sana.
Wartawan lain yang hadir memberikan keterangan serupa ,an Trump sendiri menyebut gedung itu tidak terlalu aman.
Mantan Presiden AS Ronald Reagan ditembak dalam upaya pembunuhan di hotel yang sama pada 1981.
Secret Service mengatakan, pihaknya memiliki postur keamanan berlapis dan berbagai tindakan pencegahan yang masih akan dilakukan.
Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche menjelaskan, tersangka pelaku penembakan hampir tidak berhasil menembus perimeter.
Baca juga: Bukan Cuma Trump, Siapa Saja Target Penembakan Jamuan Malam Gedung Putih?
Anggota DPR dari Partai Demokrat, Ritchie Torres dari New York, mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial pribadinya bahwa kegagalan protokol keamanan paling mendasar sekalipun menuntut penyelidikan segera.
Trump membagikan klip rekaman CCTV berdurasi 24 detik yang menunjukkan seseorang berlari melewati pos pemeriksaan keamanan sebelum petugas mengeluarkan senjata mereka dan mengarahkannya ke orang tersebut.
Barry Donadio, mantan agen Secret Service, menuturkan, dia pernah bekerja di Washington Hilton dan tampaknya ada lebih dari cukup agen di lokasi tersebut.
"Tapi ini adalah hotel dan penuh dengan tamu yang sedang menginap di hotel," kata Darroch juga kepada BBC.
Polisi mengatakan, terduga pelaku penembakan adalah tamu hotel tersebut. Namun, belum jelas apakah tamu yang menginap di hotel pada saat itu menjalani pemeriksaan apa pun.
Baca juga: Jaksa Agung AS Ungkap Temuan Awal soal Motif Penembakan Jamuan Trump
Momen Trump "jualan" proyek ballroom baru
Situasi saat insiden penembakan dalam acara jamuan makan malam koresponden Gedung Putih yang dihadiri Prrsiden AS Donald Trump pada Sabtu (25/4/2026).
Trump menggunakan insiden ini untuk memperkuat argumennya terkait pembangunan ballroom baru dan fasilitas militer bawah tanah di bawah Gedung Putih.
Proyek senilai 400 juta dollar AS (sekitar Rp 6,8 triliun) tersebut sebelumnya direncanakan untuk menggantikan Sayap Timur yang telah dihancurkan.
“Ini anti-drone. Ini kaca anti peluru. Kita butuh ruang dansa itu,” kata Trump, berbicara kepada wartawan setelah dievakuasi dari Washington Hilton.
Pihak administrasi telah merencanakan sebuah bunker militer besar di bawah ruang dansa yang dilengkapi dengan baja tahan rudal, langit-langit yang tahan terhadap serangan pesawat tak berawak, dan kaca tahan ledakan.
Baca juga: Dikenal Jenius, Tersangka Penembakan di Acara Trump Ternyata Guru Berprestasi
Namun, proyek ini tengah terganjal masalah hukum setelah National Trust for Historic Preservation menggugat pemerintah terkait pembongkaran bangunan bersejarah di Sayap Timur.
Meskipun pengadilan distrik sempat memerintahkan penghentian pekerjaan di permukaan tanah, pengadilan banding baru-baru ini mengizinkan pemerintah untuk melanjutkan seluruh proses pembangunan demi alasan keamanan nasional.
Terdapat bunker di bawah Sayap Timur selama beberapa dekade.
Trump sendiri pernah menghabiskan waktu di Pusat Operasi Darurat Kepresidenan (PEOC), sebuah tempat perlindungan peninggalan Perang Dunia II bagi presiden dan lingkaran dalamnya, selama protes tahun 2020 atas kematian George Floyd.
Tag: #tanda #tanya #keamanan #jamuan #trump #penembak #bisa #masuk