Hizbullah Sebut Perundingan Damai Lebanon-Israel Tak Ada Gunanya
Anggota kelompok bersenjata di Lebanon, Hizbullah, membawa peti mati pemimpin Hashem Safieddine dalam prosesi pemakamannya di kampung halamannya di Deir Qanun Al Nahr, 24 Februari 2025.(AFP/MAHMOUD ZAYYAT)
10:54
28 April 2026

Hizbullah Sebut Perundingan Damai Lebanon-Israel Tak Ada Gunanya

- Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menolak rencana perundingan langsung antara Lebanon dan Israel. 

Dalam pernyataannya pada Senin (27/4/2026), Qassem menyebut pembicaraan langsung itu sebagai dosa besar yang dapat mengguncang stabilitas Lebanon.

Penolakan ini muncul setelah duta besar Lebanon dan Israel untuk Amerika Serikat (AS) mengadakan dua pertemuan di Washington dalam beberapa pekan terakhir. 

Baca juga: TNI Berduka Lagi, Prajurit Keempat Gugur di Lebanon akibat Serangan Israel

Pertemuan tersebut merupakan yang kali pertama dalam beberapa dekade terakhir bagi kedua belah pihak yang secara resmi berada dalam status perang sejak 1948.

"Kami menolak negosiasi langsung dengan Israel. Mereka yang berkuasa harus tahu bahwa tindakan mereka tidak akan menguntungkan Lebanon maupun diri mereka sendiri," ujar Qassem, sebagaimana dilansir AFP.

Qassem juga mendesak otoritas Lebanon untuk segera membatalkan rencana tersebut. 

Dia menilai, Pemerintah Lebanon telah mengabaikan hak-hak negara dan memberikan ruang bagi musuh.

Baca juga: Israel-Lebanon Perpanjang Gencatan Senjata 3 Minggu, tapi Konflik Masih Panas

"Pemerintah Lebanon tidak dapat terus berjalan sambil mengabaikan hak-hak Lebanon, menyerahkan tanah, dan mengonfrontasi rakyatnya yang melakukan perlawanan," tambahnya.

Bagi Hizbullah, hasil dari diplomasi tersebut dianggap tidak sah. 

Qassem menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan terikat oleh kesepakatan apa pun yang dihasilkan dari meja perundingan tersebut.

"Negosiasi langsung ini beserta hasilnya bagi kami seolah-olah tidak ada, dan tidak menarik perhatian kami sedikit pun. Kami akan melanjutkan perlawanan defensif untuk Lebanon dan rakyatnya," tegas Qassem.

Baca juga: Gencatan Senjata Lebanon-Israel Diperpanjang, AS Sebut Akan Bantu Lebanon Hadapi Hizbullah

Dia juga bersumpah bahwa Hizbullah tidak akan melucuti senjata mereka. 

"Tidak peduli seberapa banyak musuh mengancam, kami tidak akan mundur, kami tidak akan tunduk, dan kami tidak akan dikalahkan. Kami tidak akan menyerahkan senjata kami dan musuh Israel tidak akan tetap berada di satu inci pun tanah kami yang diduduki," papar Qassem.

Di sisi lain, Pemerintah Lebanon menyatakan bahwa tujuan dari negosiasi yang disponsori AS tersebut adalah demi kepentingan nasional. 

Pemerintah berharap, perundingan tersebut dapat mengakhiri perang, memastikan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan, serta memulangkan lebih dari satu juta warga yang mengungsi akibat konflik.

Baca juga: AS Bakal Pimpin Negosiasi Damai Israel-Lebanon, Digelar Pekan Ini

Namun, ketegangan internal Lebanon meningkat terkait detail gencatan senjata yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri AS. 

Dalam dokumen tersebut, Israel diklaim memiliki hak untuk terus menargetkan Hizbullah guna mencegah serangan yang dianggap direncanakan, mengancam, atau sedang berlangsung.

Hizbullah menolak keras klausul tersebut dan menuding bahwa teks perjanjian itu tidak pernah dipresentasikan kepada kabinet, di mana Hizbullah dan sekutunya memiliki perwakilan.

"Apakah pemerintah telah memutuskan untuk bekerja sama dengan musuh Israel melawan rakyatnya sendiri?" tanya Qassem dalam pidatonya.

Baca juga: Lebanon Ungkap Tujuan Negosiasi dengan Israel, Tuntut 3 Hal

Eskalasi konflik

Konflik terbuka antara Israel dan Lebanon bermula pada 2 Maret lalu, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel. 

Sejak saat itu, Israel membalas serangan ke Lebanon dan telah menewaskan lebih dari 2.500 orang di Lebanon.

Meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak 17 April, situasi di lapangan masih panas. 

Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon yang dihimpun AFP, setidaknya 36 orang tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata dimulai.

Sementara itu, Hizbullah mengeklaim telah melakukan beberapa serangan terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan serta meluncurkan rudal dan drone ke wilayah utara Israel.

Baca juga: Garis Kuning di Lebanon: Menguji Kedaulatan di Balik Gencatan Senjata

Tag:  #hizbullah #sebut #perundingan #damai #lebanon #israel #gunanya

KOMENTAR