Strategi “Mencekik” Iran, Trump Mau Perpanjang Blokade Selat Hormuz Berbulan-bulan
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana memperpanjang blokade laut selama berbulan-bulan untuk menekan Iran agar bersedia mencapai kesepakatan di meja perundingan.(WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE)
08:54
30 April 2026

Strategi “Mencekik” Iran, Trump Mau Perpanjang Blokade Selat Hormuz Berbulan-bulan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana memperpanjang blokade laut selama berbulan-bulan untuk menekan Iran agar bersedia mencapai kesepakatan di meja perundingan.

Langkah ini diambil di tengah mandeknya jalur diplomasi antara Washington dan Iran setelah serangkaian upaya negosiasi gagal membuahkan hasil.

Kebijakan tersebut langsung mengguncang pasar energi global, mendorong harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.

Baca juga: Tersinggung Disebut Dipermalukan Iran, Trump Bakal Kurangi Pasukan AS di Jerman

Blokade jadi senjata utama

Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.AFP/GIUSEPPE CACACE Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.

Sebagaimana dilansir AFP, Kamis (30/4/2026), Trump menilai blokade laut terhadap Iran lebih efektif dibandingkan serangan militer langsung.

Dalam pertemuan dengan para eksekutif minyak, ia membahas upaya untuk “meringankan pasar minyak global dan langkah-langkah yang bisa diambil untuk melanjutkan blokade saat ini selama berbulan-bulan jika diperlukan serta meminimalkan dampaknya bagi konsumen Amerika,” menurut seorang pejabat Gedung Putih.

Berbicara kepada Axios, Trump menggambarkan dampak blokade tersebut terhadap Iran dengan nada keras.

“Mereka tercekik. Dan itu akan menjadi lebih buruk bagi mereka,” ujarnya.

Iran sendiri menuntut agar blokade terhadap pelabuhan-pelabuhannya dihentikan sebelum kesepakatan apa pun dapat dicapai dengan Washington.

Harga minyak melonjak

Ketegangan yang meningkat langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak Brent melonjak 7,6 persen menjadi 119,69 dollar AS (sekitar Rp 2 juta) per barel, level tertinggi sejak awal perang Ukraina pada 2022.

Iran berupaya membalas tekanan dengan mengandalkan posisinya di Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Diplomasi buntu

Upaya diplomasi antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu. Dalam percakapan telepon dengan Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan adanya “konsekuensi berbahaya” jika Amerika Serikat dan Israel kembali melanjutkan perang terhadap Iran.

Di sisi lain, upaya negosiasi juga terganggu. Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan dua kali membatalkan perjalanan ke Pakistan untuk berunding dengan Iran, yang meragukan keseriusan Washington dalam diplomasi.

Baca juga: Maskapai AS Kena Dampak Perang Iran, Mengemis ke Trump Miliaran Dollar

Pejabat AS juga mengakui ketidakpastian mengenai siapa yang benar-benar mewakili Iran dalam pembicaraan, apakah Garda Revolusi yang semakin kuat atau para diplomat, terutama setelah serangan Israel menewaskan sejumlah pemimpin penting.

Retaknya hubungan sekutu

Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik untuk mengakhiri perang yang dinilai tidak populer dan membebani masyarakat melalui kenaikan harga bahan bakar.

Ketegangan juga meluas ke hubungan dengan sekutu. Trump melontarkan kritik tajam kepada Kanselir Jerman Friedrich Merz dan mengancam akan mengurangi jumlah pasukan AS di Jerman.

Ancaman Trump tersebut berkaitan dengan pernyataan Merz yang menyebut bahwa Iran telah “mempermalukan” AS di meja perundingan.

Ancaman kemiskinan global

Konflik ini tidak hanya berdampak pada energi, tetapi juga sektor lain seperti pupuk yang harganya ikut melonjak. United Nations Development Programme memperingatkan bahwa lebih dari 30 juta orang di 160 negara berisiko jatuh ke dalam kemiskinan akibat situasi ini.

Kepala UNDP Alexander De Croo menyebut kondisi tersebut sebagai “pembangunan yang berjalan mundur.”

Di Iran sendiri, nilai tukar riyal jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dollar AS. Sejumlah warga Iran menggambarkan keputusasaan yang semakin dalam.

“Setiap kali dalam beberapa tahun terakhir negosiasi berlangsung, kondisi ekonomi rakyat justru semakin memburuk. Sanksi selalu dimulai atau diperketat,” kata seorang arsitek berusia 52 tahun yang enggan disebutkan namanya.

“Isunya selalu nuklir. Tidak ada pembicaraan tentang rakyat, ekonomi, atau kebebasan. Orang-orang berhak untuk tidak ingin mendengar kata ‘negosiasi’ lagi,” tambahnya.

Iran melawan

Iran menawarkan untuk melonggarkan kendalinya atas Selat Hormuz jika Amerika Serikat menghentikan blokade dan membuka jalan bagi negosiasi yang lebih luas. Namun, pemerintahan Trump menyikapi proposal tersebut dengan skeptis.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai blokade laut AS bertujuan memecah belah negaranya dan “membuat kami runtuh dari dalam.”

Sementara itu, konflik juga merembet ke Lebanon. Ketegangan antara Israel dan kelompok Hezbollah terus berlanjut meski ada gencatan senjata.

Untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata diberlakukan, tentara Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel menargetkan pasukannya, melukai dua tentara di selatan. Serangan lain sehari kemudian menewaskan satu tentara.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan, “Israel harus menyadari bahwa satu-satunya jalan menuju keamanan adalah melalui negosiasi, tetapi terlebih dahulu harus sepenuhnya menerapkan gencatan senjata agar dapat melanjutkan ke tahap perundingan. Serangan Israel tidak bisa terus berlanjut seperti ini.”

Laporan yang didukung PBB juga memperingatkan bahwa lebih dari 1,2 juta orang di Lebanon diperkirakan akan menghadapi kelaparan akut akibat konflik terbaru ini.

Baca juga: Ketika Iran Membawa Rusia Kembali ke Timur Tengah

Tag:  #strategi #mencekik #iran #trump #perpanjang #blokade #selat #hormuz #berbulan #bulan

KOMENTAR