Trump Hadiri Briefing Rahasia soal Serangan ke Iran, Dugaan Isi Pembahasan Bocor
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima briefing penting dari petinggi militer terkait opsi aksi terhadap Iran pada Kamis (30/4/2026).
Menurut laporan Reuters, briefing kepada Trump dipimpin oleh Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Bradley Cooper, serta dihadiri Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Fokus utama pembahasan adalah langkah-langkah untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan.
Baca juga: Drone Pengintai Masuk Teheran, Iran Aktifkan Pertahanan Udara
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa berbagai opsi yang dibahas bertujuan “memaksa Iran untuk merundingkan akhir konflik.”
Namun demikian, opsi-opsi tersebut bukan hal baru dan telah lama menjadi bagian dari perencanaan militer AS.
Rencana serangan “cepat dan kuat”
Sebagaimana dilansir The Times of Israel, CENTCOM telah menyusun rencana serangan berupa gelombang serangan “singkat dan kuat” terhadap target-target di Iran.
Tiga sumber menyebutkan bahwa infrastruktur juga masuk dalam daftar sasaran, langkah yang sebelumnya pernah menjadi ancaman Trump.
Serangan tersebut bertujuan menekan Iran agar melunak dalam negosiasi nuklir. Namun, para ahli menilai bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil berpotensi melanggar hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa 1949.
Opsi operasi khusus dan senjata hipersonik
Gambar dari citra satelit Maxar memperlihatkan kondisi situs nuklir Iran di Natanz pada 15 Juni 2025, sebelum diserang bom Amerika Serikat pada 22 Juni 2025.
Selain serangan udara, opsi lain yang dibahas adalah operasi pasukan khusus untuk mengamankan cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran.
Adapun sebagian besar material uranium diyakini berada di kompleks nuklir Isfahan.
Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency, Rafael Grossi, memperkirakan stok uranium Iran cukup untuk membuat sekitar 10 bom nuklir. Iran disebut memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, tingkat yang mendekati bahan senjata.
AS juga kemungkinan akan mengerahkan rudal hipersonik “Dark Eagle”, yang memiliki jangkauan lebih dari 1.725 mil dan melaju lima kali kecepatan suara. Jika disetujui, ini akan menjadi penggunaan pertama senjata tersebut oleh AS.
Baca juga: Tak Bisa Dinego, Mojtaba Khamenei Berkukuh Pertahankan Nuklir Iran
Perebutan Selat Hormuz
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman
Selain opsi militer langsung, penguasaan sebagian Selat Hormuz juga menjadi pertimbangan untuk kembali jalur pelayaran komersial yang terganggu akibat blokade Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.
Reuters melaporkan bahwa konflik ini telah membuat lalu lintas di jalur tersebut nyaris terhenti dan memicu kenaikan harga energi global.
Trump sendiri menilai tekanan melalui blokade lebih efektif dibandingkan serangan militer.
Ia mengatakan kepada Axios bahwa langkah tersebut “agak lebih efektif daripada pemboman.”
Kebuntuan negosiasi
Kebuntuan utama dalam negosiasi disebut berasal dari tuntutan AS agar Iran menghentikan program nuklirnya—sesuatu yang sejauh ini ditolak Teheran.
Iran sendiri bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai, meski pengayaan uranium yang tinggi memicu kekhawatiran Barat.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam blokade laut AS. Ia mengatakan, “setiap upaya untuk memberlakukan blokade maritim bertentangan dengan hukum internasional… dan pasti akan gagal.”
Baca juga: Iran Kewalahan Hadapi Blokade AS, Strategi Lama Tak Lagi Efektif
Tag: #trump #hadiri #briefing #rahasia #soal #serangan #iran #dugaan #pembahasan #bocor