Gencatan Senjata Iran-AS di Ambang Keruntuhan, Saling Serang di Selat Hormuz
Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat berada di ujung tanduk pada Senin (4/5/2026) ketika kedua negara saling melancarkan aksi militer di Selat Hormuz.
Situasi kian memburuk setelah Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan serangan untuk pertama kalinya sejak kesepakatan damai hampir sebulan lalu.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran di tengah meningkatnya eskalasi.
Baca juga: Menghitung Berapa Lama Iran Dapat Bertahan dari Blokade AS
Eskalasi serangan
Sehari setelah Trump mengumumkan operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz, ia memperingatkan bahwa Iran akan “dihapus dari muka bumi” jika menyerang kapal-kapal AS, seperti dikutip Fox News.
Meski demikian, Iran tampak tidak gentar dan menegaskan akan terus mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, jalur sempit yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum konflik pecah pada 28 Februari.
Seorang laksamana AS mengeklaim pasukan negaranya telah menenggelamkan enam kapal kecil Iran.
Namun, Teheran membantah klaim tersebut dan sebelumnya menyatakan hanya melepaskan tembakan peringatan ke kapal perang AS.
UEA dan Oman ikut terdampak
UEA, sekutu dekat AS, melaporkan serangan rudal dan drone dari Iran. Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan, “Serangan ini merupakan eskalasi berbahaya dan pelanggaran yang tidak dapat diterima, yang menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan, stabilitas negara, serta keselamatan wilayahnya.”
Serangan terhadap fasilitas energi di Fujairah melukai tiga warga negara India. Sementara itu, dua orang juga terluka ketika sebuah bangunan tempat tinggal di Bukha, Oman, terkena dampak serangan di sepanjang garis pantai Selat Hormuz.
Harga minyak melonjak
Ilustrasi pertambangan minyak bumi
Ketegangan ini langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak melonjak tajam, dengan kontrak Brent untuk pengiriman Juli naik lebih dari lima persen.
Lonjakan biaya energi sejak perang dimulai telah menimbulkan tekanan ekonomi di berbagai negara dan menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu kongres.
Baca juga: Iran Beri Deadline 30 Hari agar AS Buka Blokade, IRGC Desak Trump Setuju
Di kawasan, Israel dilaporkan berada dalam siaga tinggi, sementara UEA memerintahkan seluruh sekolah kembali ke pembelajaran jarak jauh hingga akhir pekan.
Versi berbeda dari Iran dan AS
Dilansir AFP, Kementerian Pertahanan UEA menyebut Iran meluncurkan empat rudal jelajah, tiga di antaranya berhasil dicegat. Selain itu, drone Iran juga disebut menargetkan kapal tanker yang terkait dengan perusahaan minyak nasional ADNOC.
Seorang pejabat militer senior Iran tidak membantah serangan tersebut, namun menegaskan bahwa Iran “tidak memiliki program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang dimaksud.”
Ia menambahkan, “Apa yang terjadi adalah hasil dari petualangan militer AS untuk menciptakan jalur bagi kapal-kapal agar secara ilegal melintasi Selat Hormuz,” serta menegaskan bahwa “militer AS harus dimintai pertanggungjawaban.”
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa bentrokan di selat menunjukkan tidak ada solusi militer untuk krisis politik.
“AS harus waspada agar tidak terseret kembali ke dalam kubangan oleh pihak-pihak yang berniat buruk. Begitu pula UEA. Project Freedom adalah Project Deadlock,” tulisnya di platform X.
Operasi “Project Freedom”
Trump berulang kali mendesak Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pada Minggu (3/5/2026), ia mengumumkan operasi “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal dari negara netral keluar dari Teluk, yang disebutnya sebagai upaya kemanusiaan.
Komando Pusat AS menyatakan kapal perusak berpeluru kendali telah melintasi Hormuz dan dua kapal dagang berbendera AS berhasil keluar dari Teluk sebagai langkah awal operasi tersebut.
Namun, Garda Revolusi Iran membantah klaim itu dan menyatakan tidak ada kapal komersial maupun tanker minyak yang melintas dalam beberapa jam terakhir.
Korea Selatan juga melaporkan sebuah kapal mereka mengalami “ledakan dan kebakaran” di selat tersebut.
Diplomasi mandek
Trump berusaha meredam dampak serangan Iran dengan menyebutnya hanya sebagai “beberapa tembakan” yang tidak menimbulkan kerusakan besar. Namun, data menunjukkan lebih dari 900 kapal komersial masih berada di kawasan Teluk hingga akhir April.
Upaya diplomasi antara Washington dan Teheran pun menemui jalan buntu sejak gencatan senjata, termasuk pembatalan rencana perundingan di Pakistan.
Di sisi lain, konflik juga memanas di Lebanon, di mana serangan Israel telah menewaskan lebih dari 2.700 orang menurut kementerian kesehatan setempat.
Bentrokan antara Hizbullah dan pasukan Israel terus berlanjut, sementara Presiden Lebanon Joseph Aoun menyerukan kesepakatan keamanan sebelum kemungkinan pertemuan bersejarah dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang diusulkan berlangsung di Gedung Putih bulan ini.
Baca juga: AS Bantah Kapal Perangnya Diserang Iran di Selat Hormuz
Tag: #gencatan #senjata #iran #ambang #keruntuhan #saling #serang #selat #hormuz