Gabungkan Taktik Perang Era 1980-an dan Drone, Iran Cekik Jalur Minyak Dunia
Kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat diduga hendak menyiya kapal kontainer yang menerobos Selat Hormuz pada 21 April 2026. Foto ini diperoleh AFP dari kantor berita Iran, Tasnim. Media AS Sebut Dua Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan Iran(TASNIM/MEYSAM MIRZADEH via AFP)
13:18
5 Mei 2026

Gabungkan Taktik Perang Era 1980-an dan Drone, Iran Cekik Jalur Minyak Dunia

Iran kembali memainkan strategi lamanya dari era 1980-an untuk menekan pelayaran global di Selat Hormuz.

Namun kali ini, taktik tersebut diperkuat dengan penggunaan drone serang yang menjadi “pengganda kekuatan” dalam operasi militer.

“Pelaku yang sama, wilayah perairan yang sama, tetapi politik dan lingkungan ancamannya sangat berbeda saat ini,” kata Tom Duffy, mantan diplomat dan perwira angkatan laut AS, seperti dilansir The Wall Street Journal, Selasa (5/5/2026).

Baca juga: Bantu IRGC, Pasukan Iran Ini Makin Kuat Pukul AS-Israel

Ia menambahkan, “Bisa dibilang strategi Iran tidak berubah dalam 50 tahun, yaitu strategi pembebanan biaya” untuk menguasai perairan regional.

Drone ubah skala ancaman

Bunker bawah tanah yang dipenuhi deretan drone Shahed milik Iran dipaemerkan oleh televisi Iran Fars setelah serangan AS dan Israel dalam operasi gabungan pada Sabtu (28/2/2026).TELEGRAM FarsNA via NEW YORK POST Bunker bawah tanah yang dipenuhi deretan drone Shahed milik Iran dipaemerkan oleh televisi Iran Fars setelah serangan AS dan Israel dalam operasi gabungan pada Sabtu (28/2/2026).

Penggunaan drone memungkinkan Iran menargetkan kapal komersial dan militer dengan cara yang lebih sulit dan mahal untuk dilawan.

Sejak dua bulan setelah diserang AS dan Israel, Korps Garda Revolusi Iran dilaporkan telah menembaki lebih dari 25 kapal komersial dan menyita dua di antaranya.

Langkah ini secara efektif membuat jalur sempit Selat Hormuz—yang vital bagi pengiriman minyak global—menjadi terhambat.

Tujuan berubah

Berbeda dengan 1980-an, ketika Iran berupaya menaikkan harga minyak tanpa memancing konflik langsung dengan AS, tujuan saat ini dinilai lebih agresif.

Kenneth M Pollack menyebut bahwa dulu Iran hanya ingin mendorong kenaikan harga energi, sementara kini para pemimpin garis kerasnya berusaha mencekik ekspor minyak kawasan untuk menekan ekonomi global di tengah ancaman terhadap kelangsungan rezim.

Baca juga: Diuji Serangan Iran, Trump Bimbang: Balas atau Tahan Diri?

Selain itu, posisi Iran kini lebih kuat dengan dukungan Rusia dan China serta persenjataan modern.

Respons AS lebih hati-hati

Amerika Serikat tidak lagi menerapkan strategi pengawalan langsung seperti pada 1987. Saat itu, Angkatan Laut AS mengerahkan puluhan kapal dan mengawal tanker secara aktif, bahkan hingga terlibat konfrontasi langsung dengan Iran.

Kini, Washington hanya berencana memberikan panduan rute aman dan informasi lokasi ranjau tanpa pengawalan militer langsung. Sejumlah pejabat menyebut belum ada rencana untuk operasi kompleks seperti sebelumnya.

“Kita tampaknya, secara bisa dimengerti, khawatir akan terkena serangan, dan Iran mengetahui hal itu,” ujar Duffy.

Pengamat menilai pendekatan baru AS hanya berupa “pengawasan militer” yang mungkin mencakup respons defensif jika kapal diserang. Namun, pelaku industri pelayaran meragukan apakah langkah ini cukup untuk menjamin keamanan.

Sejarah menunjukkan konflik serupa bisa dengan cepat memburuk. Pada 1988, AS melancarkan serangan besar terhadap Iran setelah kapal perangnya terkena ranjau.

Tak lama kemudian, insiden tragis terjadi ketika kapal perang AS salah menembak jatuh pesawat sipil Iran, menewaskan 290 orang.

Baca juga: Kesulitan Ekspor akibat Blokade AS, Iran Tutup Sebagian Sumur Minyak

Tag:  #gabungkan #taktik #perang #1980 #drone #iran #cekik #jalur #minyak #dunia

KOMENTAR