Asia Tanpa Minyak Timur Tengah: Bagaimana Cara Indonesia hingga China Bertahan?
- Krisis energi yang dipicu oleh perang Iran mulai memberikan dampak serius bagi Asia.
Sebagai kawasan yang menjadi importir minyak terbesar di dunia, negara-negara Asia kini tengah berjuang mencari alternatif energi.
Hal tersebut dilakukan guna melindungi perekonomian mereka dari guncangan yang kian membebani anggaran negara.
Baca juga: Perang Iran Bisa Bikin Lumbung Padi Asia Mengering, Begini Skemanya
Dampak nyata dari gangguan ini terlihat dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh Bank Pembangunan Asia (ADB).
ADB memangkas perkiraan pertumbuhan untuk kawasan Asia dan Pasifik yang sedang berkembang menjadi 4,7 persen tahun ini dan 4,8 persen pada 2027.
Angka ini turun dari proyeksi sebelumnya yang berada di level 5,1 persen.
Selain itu, ADB juga menaikkan prospek inflasi menjadi 5,2 persen untuk tahun ini.
Baca juga: Asia Diuntungkan Usai UEA Keluar dari OPEC, Kok Bisa?
Impor minyak anjlok
Berdasarkan data Kpler, total impor minyak ke Asia anjlok hingga 30 persen pada bulan April secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Ini merupakan level terendah sejak Oktober 2015, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (5/5/2026).
Penurunan tajam ini terjadi setelah hampir dua bulan penutupan Selat Hormuz, jalur kunci bagi seperlima pasokan minyak dan gas global, imbas perang Iran.
Kepala Ekonomi Asia-Pasifik di S&P Global Market Intelligence Hanna Luchnikava-Schorsch menjelaskan langkah awal yang diambil oleh banyak pemerintah di kawasan ini.
Baca juga: 8 Jalur Laut Penting Dunia Selain Selat Hormuz, Ada 4 di Asia
"Garis pertahanan pertama adalah keputusan pemerintah untuk menyerap guncangan awal, baik dengan menyediakan subsidi atau memotong cukai pada produk bahan bakar," ujar Hanna.
Langkah ini pun memperberat beban fiskal, terutama di Asia Selatan.
Di India, sektor pengilangan negara tetap menjaga harga bahan bakar stabil meskipun biaya minyak mentah melonjak.
Akibatnya, mereka merugi sekitar 100 rupee (Rp 18.000) per liter untuk solar dan 20 rupee (Rp 3.600) untuk bensin.
Namun, analis memperkirakan kenaikan harga akan segera terjadi setelah pemilu negara bagian berakhir pada April lalu.
Baca juga: Minyak Iran Diam-diam Mengalir ke China lewat Perairan Asia Tenggara
Strategi bertahan
Setiap negara di Asia menerapkan mekanisme pertahanan yang berbeda-beda.
China relatif terlindungi berkat cadangan minyak yang besar, rantai pasokan energi yang terdiversifikasi, serta pembatasan ekspor bahan bakar dan pupuk.
Sedangkan Jepang, negara yang membeli 95 persen minyaknya dari Timur Tengah ini, mulai meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat (AS).
Langkah itu dilakukan meski Jepang harus membayar harga pasar yang tinggi dan biaya pengiriman yang lebih mahal. Jepang juga telah melepas 36 juta barel minyak dari cadangan nasionalnya.
Baca juga: Imbas Perang Iran, Minat Mobil Listrik di Asia Tenggara Meningkat
Sementara itu di Thailand, perusahaan penyulingan negara menghentikan pembelian minyak mentah karena stok nasional meningkat setelah adanya larangan ekspor dari pemerintah dan penurunan permintaan akibat tingginya harga.
Meskipun banyak negara mulai menguras cadangan devisa dan stok minyak, Goldman Sachs mencatat bahwa dampak ekonomi perang ini tidak seburuk yang dikhawatirkan sebelumnya.
Meski begitu, mereka tetap memangkas proyeksi pertumbuhan 2026 untuk Jepang dan beberapa negara Asia Tenggara.
Strategi Indonesia
Sebagai produsen energi, Indonesia mengambil langkah tegas dengan memerintahkan operator untuk memprioritaskan pasar domestik dibandingkan ekspor.
Pemerintah juga menghentikan pengiriman gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang tidak terikat kontrak.
Baca juga: Abaikan Ancaman Trump, Negara Asia Pilih Jalur Diplomasi Amankan Selat Hormuz
Selain itu, Indonesia mulai melirik Afrika dan Amerika Latin sebagai pengganti minyak Timur Tengah, serta berencana membeli 150 juta barrel minyak dari Rusia hingga akhir tahun.
Di sisi lain, mata uang negara-negara berkembang di Asia mengalami tekanan hebat terhadap dollar AS.
Peso Filipina, Rupee India, dan Rupiah Indonesia semuanya mencatatkan rekor terendah sejak perang pecah akhir Februari lalu.
Sebaliknya, Yuan China justru menjadi yang terbaik di kawasan dengan kenaikan 0,8 persen.
Baca juga: Krisis Energi akibat Perang Iran, Asia Berisiko Kena Dampak Terparah
Asia Selatan paling rentan
Ilustrasi kilang minyak.
S&P Global Market Intelligence memperingatkan bahwa ekonomi di negara Asia Selatan, seperti Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka, adalah yang paling rentan terhadap krisis ini.
Pakistan, misalnya, terpaksa membayar 18,88 dollar AS per BTU untuk kargo LNG, atau sekitar 30 juta dollar AS lebih mahal dari harga pasar sebelum perang.
"Negara-negara ini menggunakan lebih banyak sumber daya mereka untuk menyubsidi perusahaan energi publik domestik dan melindungi konsumen akhir dari guncangan harga energi," papar Luchnikava-Schorsch.
"Negara-negara ini juga merupakan negara yang memiliki ruang fiskal paling tipis," lanjutnya.
Baca juga: Saat AS Perangi Iran, China Muncul Sebagai Penyelamat Asia Tenggara
Tag: #asia #tanpa #minyak #timur #tengah #bagaimana #cara #indonesia #hingga #china #bertahan