Nasib Perang Iran di Tangan Teheran, Damai atau Kembali Tempur?
- Dunia internasional dan pasar global kini tengah menanti keputusan Teheran dalam merespons tawaran kesepakatan damai dari Amerika Serikat (AS).
AS sendiri telah mengajukan tawaran kesepakatan terbaru untuk mengakhiri perang di Timur Tengah serta membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengonfirmasi bahwa proposal dari AS saat ini masih dalam tahap pengkajian.
Baca juga: Iran Akan Bantu Kapal-kapal di Selat Hormuz, Siapkan Pasokan dan Medis
"Usulan AS masih dalam peninjauan dan Teheran akan menyampaikan posisinya kepada mediator Pakistan setelah memfinalisasi pandangan kami," ujar Baqaei, sebagaimana dilansir AFP, Kamis (7/5/2026).
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menunjukkan optimisme meski tetap menyelipkan peringatan keras kepada Teheran.
"Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik selama 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami akan mencapai kesepakatan," kata Trump kepada wartawan, Rabu (6/5/2026).
Namun, dia tetap mengancam bahwa AS akan kembali melakukan pengeboman jika Iran menolak tuntutan Washington.
Baca juga: Iran Disebut Tak Ingin Negosiasi soal Nuklir, Ngotot Kendalikan Selat Hormuz
Diberitakan sebelumnya, Trump disebut tengah menyederhanakan sejumlah isu dalam perundingan damai agar Iran bisa kembali ke meja negosiasi.
"Tujuannya adalah menangani isu-isu yang lebih sulit pada tahap berikutnya," kata sumber dari pemerintahan sebagaimana dilansir CNN.
Di sisi lain, Gedung Putih menerima laporan positif dari mediator Pakistan pada Selasa bahwa pihak Iran mulai bergerak ke arah kompromi.
Namun, dua pejabat pemerintahan AS yang dikutip CNN tetap berhati-hati terhadap optimisme tersebut.
Baca juga: Jelang Kemungkinan Berakhirnya Perang, AS dan Iran Makin Hati-hati
Menurut seorang sumber yang mengetahui isi pembahasan internal, terdapat rancangan dokumen satu halaman yang menjadi inti pembicaraan.
Dokumen itu disebut akan menyatakan berakhirnya perang, sekaligus membuka periode negosiasi selama 30 hari untuk menyelesaikan isu-isu krusial seperti program nuklir, pembekuan aset Iran, serta masa depan keamanan di Selat Hormuz.
Rancangan tersebut juga memuat usulan moratorium atau penangguhan pengayaan uranium lebih dari 10 tahun, lebih singkat dibanding proposal sebelumnya dari AS yang mencapai 20 tahun.
Selain itu, Iran juga diminta mengirim stok uranium yang telah diperkaya tinggi ke luar negeri, meski detail teknisnya masih dinegosiasikan.
Baca juga: Iran Bantah Tuduhan Trump soal Serangan ke Kapal Korsel di Selat Hormuz
Angin segar
Langkah diplomatik ini membawa angin segar bagi perekonomian. Harga minyak dunia dilaporkan merosot, sementara bursa saham di Asia melonjak tajam setelah Trump menyatakan bahwa kesepakatan mungkin sudah dekat.
Harga minyak mentah jatuh sekitar 2 persen pada Kamis, sehingga total penurunan minyak dalam tiga hari terakhir sudah 10 persen.
Minyak standar internasional Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kini berada di bawah level psikologis 100 dollar AS per barel.
Di sektor saham, indeks Nikkei Tokyo memimpin reli kuat di seluruh Asia.
Pasar sangat mengkhawatirkan stabilitas Selat Hormuz yang merupakan jalur bagi seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Baca juga: Trump: Jika Harga Minyak Capai 200 Dollar AS, Perang Iran Tetap Sepadan
Peran Arab Saudi
Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.
Media AS, NBC News, mengungkapkan bahwa Trump sempat memerintahkan operasi angkatan laut untuk mengawal kapal komersial dan membuka paksa Selat Hormuz.
Namun, perintah itu dibatalkan dalam hitungan jam.
Pembatalan tersebut disinyalir terjadi setelah Arab Saudi menolak mengizinkan pasukan AS menggunakan wilayah udara dan pangkalan mereka untuk operasi militer tersebut.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan berbicara langsung dengan Trump mengenai hal ini.
Media AS lainnya, Axios, menyebutkan bahwa Teheran dan Washington sudah dekat dengan kesepakatan berupa nota kesepahaman (MoU) satu halaman yang akan mengakhiri perang dan menetapkan kerangka kerja untuk negosiasi program nuklir Iran.
Baca juga: Project Freedom Buyar dalam Hitungan Jam, Internal Trump Dinilai Plin-plan soal Iran
Tag: #nasib #perang #iran #tangan #teheran #damai #atau #kembali #tempur