Temuan Intelijen AS, Iran Masih Bisa Akses 30 dari 33 Lokasi Rudal di Hormuz
- Gambaran publik pemerintahan Trump tentang militer Iran yang hancur, bertolak belakang dengan temuan badan intelijen Amerika Serikat.
Iran dilaporkan telah memulihkan akses operasional ke sebagian besar situs rudal strategisnya di sepanjang Selat Hormuz.
Laporan tersebut mengungkapkan, Iran kembali menguasai 30 dari 33 lokasi rudal di sepanjang jalur perairan sempit yang menjadi urat nadi energi dunia tersebut.
Hal ini menciptakan dilema keamanan bagi kapal perang dan kapal tanker ASa yang kini berpatroli di bawah bayang-bayang ancaman rudal yang sebelumnya diklaim telah musnah.
Baca juga: Saat Iran Dapat Pemasukan dari Jaringan ‘Gelap’ Kilang Minyak di China
Pemulihan berjalan cepat
Dikutip dari New York Times, Selasa (12/5/2026), orang-orang yang mengetahui hasil penilaian tersebut mengatakan, Iran dapat menggunakan peluncur bergerak yang berada di dalam lokasi tersebut untuk memindahkan rudal ke lokasi lain.
Dalam beberapa kasus, mereka dapat meluncurkan rudal langsung dari landasan peluncuran yang merupakan bagian dari fasilitas tersebut.
Menurut penilaian tersebut, hanya tiga lokasi rudal di sepanjang selat yang tetap tidak dapat diakses sama sekali.
Baca juga: Antisipasi Perang Iran Berlanjut, AS Siapkan Operasi Sledgehammer
Iran juga masih memiliki sekitar 70 persen peluncur rudal bergerak di seluruh negeri dan mempertahankan sekitar 70 persen persediaan rudal sebelum perangnya.
Persediaan tersebut mencakup rudal balistik dan sejumlah kecil rudal jelajah yang dapat digunakan terhadap target jarak pendek di darat atau di laut.
Badan intelijen militer juga melaporkan, Iran telah mendapatkan kembali akses ke sekitar 90 persen fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal bawah tanahnya di seluruh negeri.
Baca juga: Trump Marah Usai Media Bongkar Detail Internal Perang Iran, Minta Jaksa Bertindak
"Perang kata-kata" Gedung Putih
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara dalam konferensi pers di Brady Briefing Room, Gedung Putih, Washington DC, sesaat setelah insiden penembakan makan malam pada 25 April 2026.
Temuan ini secara langsung melemahkan pernyataan publik Presiden Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Sebelumnya, Trump menegaskan bahwa rudal Iran telah berkurang drastis, sementara Hegseth menyebut militer Iran tidak efektif dalam pertempuran selama bertahun-tahun mendatang.
Menanggapi bocoran intelijen ini, juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, tetap pada pendirian pemerintah.
Ia menyebut siapa pun yang percaya Iran telah membangun kembali militernya, sebagai sosok yang delusi.
Baca juga: Israel Disebut Senang jika AS dan Iran Tak Capai Kesepakatan, Siap Lanjut Perang
Pentagon turut mengkritik media massa yang dianggap bertindak sebagai "agen humas rezim Iran" karena mempertanyakan keberhasilan Operasi Epic Fury.
Penilaian intelijen terbaru menunjukkan bahwa Trump dan para penasihat militernya melebih-lebihkan kerusakan yang dapat ditimbulkan militer AS terhadap situs rudal Iran, serta meremehkan ketahanan dan kemampuan Iran untuk bangkit kembali.
Temuan ini menggarisbawahi dilema yang akan dihadapi Trump jika gencatan senjata yang rapuh yang baru berusia satu bulan dalam konflik tersebut runtuh dan pertempuran skala penuh kembali terjadi.
Militer AS telah menghabiskan persediaan banyak amunisi penting, termasuk rudal jelajah Tomahawk, rudal pencegat Patriot, dan rudal berbasis darat Precision Strike dan ATACMS.
Baca juga: Biaya Perisai Langit AS Capai 1,2 Triliun Dollar, tapi Masih Rentan Serangan
Tegaskan amunisi AS aman
Kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln (CVN 72) berlayar dengan kapal perusak kelas Arleigh-Burke USS Frank E Petersen Jr (DDG 121) dan kapal kargo jelas Lewis and Clark USNS Carl Brashear (T-AKE 7) di Laut Arab, 6 Februari 2026.
Trump dan para penasihatnya berulang kali membantah bahwa persediaan amunisi AS telah menipis hingga ke tingkat yang sangat rendah.
Secara pribadi, para pejabat Pentagon telah memberikan jaminan serupa kepada sekutu-sekutu Eropa.
Sekutu-sekutu tersebut telah membeli amunisi senilai miliaran dollar dari AS atas nama Ukraina.
Mereka pun khawatir amunisi tersebut tidak akan dikirim karena militer AS akan membutuhkannya untuk mengisi kembali persediaan mereka sendiri.
Baca juga: Selat Hormuz Lumpuh, Jalur Darat Gurun Arab Jadi Napas Baru Ekonomi Dunia
Dalam kesaksiannya pada Selasa di hadapan subkomite anggaran DPR, Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine kembali menegaskan, AS memiliki amunisi yang cukup untuk tugas yang harus dilakukan saat ini.
Serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran telah menimbulkan kerusakan yang cukup besar pada pertahanan Iran dan merusak atau menghancurkan banyak situs strategis di seluruh negeri.
Banyak pemimpin senior Iran telah terbunuh dan ekonominya terpuruk di bawah tekanan perang.
Namun, kemampuan Iran yang tampaknya mampu mempertahankan kapasitas militer yang substansial telah memperburuk kekhawatiran di antara sekutu AS tentang kebijaksanaan perang tersebut.
Tag: #temuan #intelijen #iran #masih #bisa #akses #dari #lokasi #rudal #hormuz