Blokade Selat Hormuz Dapat Memperburuk Kondisi Kelaparan Global
- Kelompok-kelompok advokasi telah memperingatkan bahwa naiknya harga energi akan mendorong kenaikan biaya pupuk, bahan kimia pertanian, dan transportasi.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memperburuk kondisi kelaparan di wilayah-wilayah termiskin di dunia.
Sabine Minninger, penasihat kebijakan senior di Bread for the World, mengatakan banyak negara kurang berkembang dan berpenghasilan rendah menghadapi krisis besar.
Baca juga: Jaga-jaga Perang Selesai, Italia Siagakan 2 Kapal Penyapu Ranjau di Dekat Selat Hormuz
Karena konflik berkepanjangan dengan Iran cukup memengaruhi negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dan energi.
“Jika perang ini berlanjut dan Selat Hormuz tetap tertutup, hal itu akan berdampak besar pada ketahanan pangan, terutama di negara-negara termiskin, seperti negara-negara di Afrika,” kata Minninger kepada Anadolu, Rabu (13/4/2026).
"Kami sangat prihatin bahwa krisis kelaparan akan segera terjadi," lanjutnya.
Baca juga: Demi Memperkuat Cengkraman, Iran Perluas Cakupan Wilayah Selat Hormuz
Jutaan orang berisiko kelaparan akibat konflik
Dengan perang Iran yang memasuki minggu kesebelas, gangguan menjadi semakin intensif di sepanjang Selat Hormuz.
Ratusan kapal dilaporkan terdampar di jalur air yang berfungsi sebagai jalur vital untuk petrokimia, pupuk, dan produk olahan lainnya.
Program Pangan Dunia telah memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat mendorong puluhan juta orang kelaparan.
Baca juga: Selat Hormuz Lumpuh, Jalur Darat Gurun Arab Jadi Napas Baru Ekonomi Dunia
Terutama jika kenaikan harga bahan bakar dan pupuk bertabrakan dengan guncangan iklim, pembatasan ekspor, atau sistem pangan yang sudah rapuh.
Minninger mengatakan krisis terbaru ini menunjukkan eratnya hubungan antara ketahanan pangan dengan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Sekaligus menjadi alasan mengapa transisi ke energi terbarukan bukan hanya masalah iklim melainkan juga masalah pembangunan dan keamanan.
Baca juga: Siaga Penuh, Inggris Kirim Jet Tempur dan Kapal Perang ke Selat Hormuz
Perang Iran menunjukkan risiko ketergantungan bahan bakar fosil
Ilustrasi kilang minyak.
Christiane Averbeck, direktur eksekutif Climate Alliance Germany, koalisi masyarakat sipil untuk perlindungan iklim, mengatakan konflik Iran sekali lagi telah mengungkap risiko ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
“Bagi kami, ini adalah sinyal yang jelas bahwa kita harus meninggalkan bahan bakar fosil dan harus mendorong penggunaan energi terbarukan,” kata Averbeck kepada Anadolu.
“Pemerintah (Jerman) saat ini tidak terlalu tertarik untuk melakukan sesuatu demi iklim, setidaknya sebagian dari pemerintah,” kata Averbeck.
Baca juga: Saat Iran Dapat Pemasukan dari Jaringan ‘Gelap’ Kilang Minyak di China
Ini merujuk pada keengganan di antara kaum konservatif Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam koalisi pemerintahan, yang menentang tujuan iklim yang ambisius dan mempertimbangkan pemotongan pendanaan iklim.
Averbeck mengatakan Jerman harus mempercepat transisi dari bahan bakar fosil di dalam negeri sambil membantu negara-negara rentan membiayai energi terbarukan dan adaptasi.
Dia juga mengatakan bahwa krisis terbaru ini menegaskan pentingnya kerja sama internasional di tengah situasi di mana perang, tekanan utang, dan ketidakpastian pasokan energi sedang mengikis kepercayaan antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin.
Baca juga: Aramco Prediksi Krisis Minyak Dunia Bisa sampai 2027
Negara-negara kaya harus turun tangan
Sabine Minninger menjelaskan, negara-negara kaya seperti Jerman, yang bertanggung jawab atas sebagian besar emisi dan kerusakan lingkungan, harus berbuat lebih banyak untuk mendukung negara-negara kurang berkembang atau yang sedang berkembang.
Dengan bentuk pendanaan dan teknologi untuk mengurangi ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil dan mempercepat peralihan ke energi terbarukan.
Di pihak lain, kelompok pemerhati iklim dan bantuan menyebut krisis ini terjadi ketika negara-negara kaya gagal memenuhi kebutuhan negara-negara rentan dalam beradaptasi dengan perubahan iklim dan mengurangi emisi.
Baca juga: Krisis Hormuz, Akankah Minyak Rusia jadi Penyelamat Asia Tenggara?
Negara-negara maju sebelumnya berjanji untuk memobilisasi dana iklim sebesar 100 miliar dolar AS per tahun untuk negara-negara miskin.
Pada KTT iklim COP29 di Baku, Azerbaijan, pemerintah sepakat untuk meningkatkan target tersebut menjadi setidaknya 300 miliar dolar AS per tahun pada tahun 2035.
Namun, kelompok-kelompok bantuan mengatakan dana aktual yang diberikan oleh negara-negara kaya jauh di bawah janji yang diberikan.
Tag: #blokade #selat #hormuz #dapat #memperburuk #kondisi #kelaparan #global