Perang di Iran Bikin AS Makin Bergantung pada China?
- Saat Amerika Serikat berupaya membangun kembali pasokan rudal dan amunisinya setelah perang dengan Iran, kontraktor pertahanannya akan membutuhkan pasokan mineral tanah jarang dan magnet yang sangat penting untuk pembuatan senjata.
Namun, China mendominasi produksi global mineral-mineral tersebut dan telah memberlakukan kontrol ketat dalam setahun terakhir.
Kontrol ketat ini dilakukan untuk memutus akses perusahaan asing yang terkait dengan militer dan memberikan tekanan politik pada pemerintahan Donald Trump.
Tahun lalu, China terbukti efektif menggunakan dominasi rantai pasokan ini sebagai daya tawar. Mereka menekan keran ekspor hingga pemerintahan Trump setuju untuk melunakkan kebijakan tarif yang memberatkan.
Baca juga: Trump Masih Incar Venezuela, Unggah Foto Peta Negara Bagian ke-51 AS
Amunisi menipis, AS makin bergantung ke China
Mantan pejabat perdagangan di pemerintahan George W Bush, Christopher Padilla mengatakan, keputusan AS untuk menghabiskan banyak amunisi presisi dalam perang melawan Iran hanya meningkatkan pengaruh tersebut.
"Setidaknya dalam beberapa tahun ke depan, upaya AS untuk membangun kembali persediaannya berarti kita membutuhkan akses ke mineral langka dari China," katanya, dikutip dari New York Times, Rabu (13/5/2026).
"Setiap rudal yang ditembakkan ke Iran membuat kita semakin bergantung pada China dan mineral langkanya dalam jangka pendek," sambungnya.
Perang di Iran diperkirakan akan menjadi bagian dari pembicaraan antara Amerika Serikat dan China di Beijing.
Baca juga: AS Rayu Kuba dengan Bantuan Rp 1,7 Triliun, Minta Reformasi sebagai Imbalan
AS sangat ingin meminta bantuan China, mitra strategis Iran, dalam melaksanakan negosiasi tersebut.
Pengurangan persediaan amunisi AS telah menimbulkan pertanyaan tentang kemampuannya untuk melakukan tindakan militer lainnya, termasuk mempertahankan Taiwan dari setiap serangan China.
Namun, sekadar membangun kembali pasokan senjata AS bisa menjadi masalah yang lebih mendesak bagi hubungan AS-China.
Perkiraan dari Departemen Pertahanan dan Kongres menunjukkan, AS mengerahkan sekitar setengah dari rudal jelajah siluman jarak jauhnya dan kira-kira 10 kali lipat jumlah rudal jelajah Tomahawk yang saat ini dibelinya setiap tahun sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari.
Baca juga: Belajar dari Perang Iran, Pentagon Kini Cari Rudal Murah Meriah
Mineral tanah jarang ada pada alutsista AS
Bulir-bulir yang mengandung logam tanah jarang setelah proses pemilahan biologis di Bureau de Recherches Geologiques et Minieres (BRGM) (Kantor Riset Geologi dan Pertambangan) di Orleans, Perancis tengah, 22 Juni 2021.
Para ahli mengatakan, mineral tanah jarang tertanam di hampir setiap platform pertahanan canggih AS.
Sebagai contoh, pesawat tempur siluman F-35 mengandung sekitar 408 kilogram unsur tanah jarang, sementara kapal perusak kelas Arleigh Burke mengandung sekitar 2.359 kg.
Mineral-mineral tersebut sangat penting untuk sistem penggerak, radar, pertahanan rudal, dan elektronik onboard lainnya.
Baca juga: AS Mengira Iran Lumpuh, Ternyata Basis Rudal Teheran Sudah Aktif Lagi
Rudal jelajah Tomahawk yang banyak digunakan AS selama perang Iran juga membutuhkan mineral tanah jarang untuk sistem panduannya, meskipun cenderung menggunakan jumlah yang lebih kecil.
Termasuk di dalamnya material seperti samarium kobalt, yang membuat magnet untuk memutar sirip pada rudal berpemandu lebih tahan terhadap panas yang dihasilkan oleh penerbangan berkecepatan tinggi.
Galium merupakan komponen kunci dalam radar, seperti yang rusak akibat serangan Iran di Yordania dan Uni Emirat Arab, dan neodimium sangat penting untuk laser militer.
Baca juga: Pertemuan Trump dan Xi Jinping, Akankah Memengaruhi Arah Ekonomi Global?
AS masih berupaya mencari sumber alternatif
Sebuah rudal Tomahawk diluncurkan dari kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke, USS Stethem, selama latihan lapangan Valiant Shield dua tahunan pada 20 September 2016.
Permintaan anggaran Pentagon sebesar 1,5 triliun dollar AS (sekitar Rp 26.402 triliun) untuk tahun fiskal 2027, mencakup miliaran dollar untuk menemukan sumber baru bagi puluhan mineral penting yang digunakan dalam sistem persenjataan dan basis industri pertahanan.
Bagi Departemen Pertahanan, melepaskan rantai pasokan materialnya dari China dianggap penting untuk proyek-proyek seperti "Golden Dome", sebuah sistem pertahanan rudal yang dimaksudkan untuk melindungi AS dari rudal balistik antarbenua dan senjata hipersonik.
Proyek Golden Dome akan membutuhkan puluhan radar baru dan ribuan pencegat serta sensor berbasis ruang angkasa, yang memerlukan volume mineral tanah jarang dan magnet lebih besar.
AS telah berupaya mencari sumber pasokan mineral dan magnet langka lainnya, tetapi upaya tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan.
Sementara itu, kontrol ekspor yang diperkenalkan China pada Desember 2024 dan ditingkatkan pada April 2025 memberikan tekanan ekstrem pada rantai pasokan.
Baca juga: Trump Ngamuk Iran Disebut Masih Kuat Usai Digempur AS-Israel
Wakil presiden kebijakan untuk rantai pasokan kritis di Silverado Policy Accelerator, Mahnaz Khan mengatakan, pemerintah AS dengan cepat meningkatkan rantai pasokan mineral yang lebih aman baik di dalam negeri maupun dengan sekutu.
“Namun dalam konflik yang berkepanjangan, AS dapat menghadapi benturan yang semakin besar antara kebutuhan pertahanan yang meningkat dan rantai pasokan mineral yang masih sangat terkonsentrasi di China,” ujarnya.
Para analis China telah sampai pada kesimpulan serupa.
Asisten profesor riset di Institut Studi Lanjutan Ilmu Sosial di Universitas Fudan, Meng Weizhan menuturkan, alasan utama Trump mungkin ingin memperpanjang perjanjian mineral saat ini antara AS dan China adalah karena industri militernya tidak dapat beroperasi tanpa logam tanah jarang.
Menurutnya, jika Amerika Serikat ingin meminta perpanjangan perjanjian ini, mereka harus memberikan konsesi kepada China di bidang lain, seperti tarif atau kontrol terhadap semikonduktor.